Thursday, August 19, 2010

Keterbukaan

"Keterbukaan adalah awal dari sebuah pemulihan."-Entah kata siapa karena sudah terlalu sering didengar.

Semboyan diatas sudah menjadi sebuah trade mark bagi komunitas yang berbau rohani dewasa ini. Dengan semboyan diatas diharapkan terjalin keakraban dan keintiman jalinan persahabatan di dalam komunitas tersebut. Mereka datang, berkumpul, saling berbagi cerita, masalah yang mereka hadapi. Bersama-sama saling menguatkan dan mendoakan. Dan merekapun bertumbuh kuat dewasa dan penuh berkat...... (terdengar seperti akhir sebuah dongeng bukan? Live happily ever after?)

Namun apakah memang seindah itukah praktek dalam kenyataannya? Benarkah demikian? Benarkah semuanya berjalan sebagaimana mestinya? Apakah benar keterbukaan selalu berbuah positif? Saya disini tidak ingin berkata bahwa semboyan "keterbukaan adalah awal dari pemulihan" adalah sesuatu yang salah. Tidak demikian, saya hanya akan berkata bahwa semboyan tersebut HANYA mengandung SETENGAH dari kebenaran. Bagaimana bisa?

Atas nama keterbukaan adalah awal dari pemulihan seseorang dituntut untuk terbuka pada orang yang belum tentu tepat! Anda akan baik-baik saja bila anda adalah seseorang yang memiliki otoritas di dalam komunitas tersebut. Anda cukup berkata(saat sharing); "Puji Tuhan semua baik-baik saja" atau "Pekerjaan saya sedang diberkati"(dan segudang bahasa positif klise lainnya) dan tentunya dengan otoritas yang anda pegang anda terlihat sebagai "the untouchable" dari dosa. Siapakah yang berani mengkritisi anda bila anda adalah ketua(yang dituakan dan dihormati) komunitas tersebut? Tentunya dengan kekuasaan anda anda bisa mendesak anggota komunitas anda untuk jujur terbuka pada anda. Dan, tentunya sangat mudah untuk melakukan “power abuse” menggunakan kelemahan anggota anda yang sudah jelas terbuka pada anda.

Oke, anggaplah tadi bila anda memegang kendali di dalam komunitas tersebut. Sekarang kita bahas dari sisi lain. Anda adalah seorang anggota baru, dan tentunya tidak seorangpun yang anda kenal di dalam komunitas itu. Karena “keterbukaan adalah awal dari pemulihan” maka anda diharuskan untuk terbuka. Suatu saat di dalam sebuah konflik, keterbukaan anda justru dijadikan senjata oleh orang-orang di dalam komunitas tersebut untuk menyerang anda. Bagaimana rasanya? Apakah anda masih bisa berkata “keterbukaan adalah awal dari pemulihan” dengan tersenyum? Bagaimana ketika justru ketua komunitas tersebut melakukan power abuse pada anda? Atau bagaimana bila ketika anda keluar dari komunitas tersebut diberi “label” anda terpental padahal mereka yang melabel anda sama sekali tidak tahu apa yang terjadi(judging without knowing what happened)?

Maka jelaslah, ketika anda diberi tahu “keterbukaan adalah awal dari pemulihan”, anda hanya diberi setengah dari kebenaran. Faktanya adalah “keterbukaan juga bisa berarti awal dari kehancuran” BILA anda terbuka pada orang yang tidak bertanggungjawab. Seperti koin, ada bagian atas dan ada bagian bawah. Saat seseorang berkata “keterbukaan adalah awal dari pemulihan” rupanya dia tidak tahu(entah lupa atau sengaja lupa, atau benar-benar tidak tahu) bahwa ada resiko lain yang mengikuti dan bahkan sama dan sebanding besarnya dengan keuntungan yang didapat.

Sama seperti baru-baru ini saya di-prospek mengenai investasi. Investasi tidak melulu hanya keuntungan semata, investasi juga mengenai kerugian. Dan sangat jarang sekali disinggung di dalam presentasi hal mengenai kerugian ini. Dan ketika anda mengalami kerugian yang besar, tidak ada yang membantu anda. Sama seperti, dimanakah orang yang menganjurkan anda terbuka supaya anda pulih saat anda hancur karena keterbukaan anda? Tentunya mereka sudah lari jauh-jauh dan membuka “praktek” presentasi mereka di tempat lain.

Berhati-hatilah! Segala sesuatu adalah seperti koin, memiliki konsekuensi sebaliknya yang sebanding. Keterbukaan tanpa hikmat dan hanya bermodalkan kenaifan dijamin akan mendatangkan kehancuran bagi anda. Komunitas rohani dewasa ini sudah seperti fasilitas “persahabatan sintetis” yang terlalu dipaksakan dan menuai banyak konflik dan kepahitan. Sudah cukup banyak kasus seperti itu yang terjadi, dan sayang sekali tidak ada yang berani mengulasnya. Kali ini, be WISE! Jangan sampai anda sakit hati dan kepahitan, kenali batas-batas sampai dimana anda boleh terbuka. Jangan terbuka bila anda tidak tahu apa-apa tentang latar belakang orang tersebut dengan demikian anda akan terhindar dari kekecewaan dan kepahitan.

Dan bila anda adalah pemimpin rohani, sudah tugas anda untuk terbuka terlebih dahulu, tidak menutup-nutupi, apalagi berbohong tentang keadaan anda, mengumpulkan massa dan dukungan dengan cerita yang diputar-balikan untuk memusuhi seseorang,dan menggunakan kelemahan orang lain yang sudah terbuka pada anda. Selalu ingat bahwa anda ini hanya hamba! Bertanggungjawablah atas apa yang sudah dipercayakan Tuhan atas anda.

“Keterbukaan adalah awal dari pemulihan bila anda terbuka pada orang yang tepat dan bertanggungjawab. Keterbukaan adalah awal dari kehancuran saat anda terbuka pada orang yang salah.”

Resapi,
renungkan dan praktekkan.
Karena perubahan memerlukan tindakan
Ciao

Monday, August 16, 2010

Gas Elpiji

Gas Elpiji....?



Teruslah kau ulangi, tambahkan minyak kedalam api



Untung ku bukan gas elpiji, yang meledak tak bilang lagi



Jangan kaupikir ku tak berani, kau sudah kuperingati



Ku tak sehijau gas elpiji, apiku sekali nyala tak bisa mati



Sekali lagi hati-hati, jangan berlaku seenak hati



Kutak ingin seperti gas elpiji, sekali meledak tak bilang lagi



Karena aku sekali hilang tak kembali, sekali pergi tak pulang lagi

Thursday, August 12, 2010

Love ain’t gonna let you down-Jamie Cullum

VERSE ONE:
Everyone knows that I'm rightfully yours
So bring out your dirt from your previous wars
So lay thee to rest
'cause I'm chasing away all the dust that you're leaving behind

CHORUS:
Because Love ain't gonna let you down
love ain't gonna let you down no more (hmm)
Because Love ain't gonna let you down
love ain't gonna let you down no more

'Cause I'll turn your world around
and love ain't gonna let you down (hm)

VERSE TWO:
So you wear your heart like a brooch for all to see
But the blood that pumps through
So will you save that for me
I've sweetened my tongue
And I've sharpened my words and my wit
And I've written my lines

CHORUS:
Because Love ain't gonna let you down
love ain't gonna let you down no more
Because Love ain't gonna let you down
love ain't gonna let you down no more

'Cause I'll turn your world around
and love ain't gonna let you down (hm)

BRIDGE:
Feel it burning like a bomb raging
a thousand summers grazing on your skin
restlessly anticipating so many tiny things

The pursuit of love consumes us all
I'll be your Fabrice without the war
Do you dream about it written for
Bursting with all all of the weight of a million rhymes

Monday, June 28, 2010

Mengapa

Semua orang kalau saya tanya siapa yang mau sukses, semua pasti akan mengangkat tangannya. Tapi ketika saya tanya siapa disini yang merasa dirinya sudah sukses, sedikit sekali bahkan tidak ada orang yang memiliki kepercayaan diri untuk mengangkat tangannya. Terlepas dari begitu relatifnya ukuran tentang kesuksesan, hal ini memicu saya untuk menindak lanjuti sebuah pertanyaan di dalam pikiran saya, “mengapa?” demikian sebuah kata tanya muncul dalam kepala saya, mengapa hanya segelintir saja orang yang mencapai kesuksesan?

Tentu kita mengenal nama-nama deretan orang-orang yang sukses dalam bidangnya, tentunya orang-orang tersebut adalah segelintir orang-orang yang sangat jarang bisa mencapai apa yang disebut dengan performa puncak dalam hidupnya. Dan banyak sekali orang yang tidak sukses, setelah banyak menghabiskan waktu untuk berpikir akhirnya saya menemukan sedikit titik cerah yang cukup bisa mengobati rasa penasaran saya mengenai fenomena ini.

Mengapa sebagian orang sukses dan sebagian lagi gagal? Karena sebagian kecil orang yang mencapai kesuksesan ini memiliki hasrat (desire) dan tekad (determination) untuk mencapai apa yang mereka idam-idamkan lebih besar dibandingan dengan orang-orang yang gagal. Hasrat dan tekad inilah yang terus membakar dan mendorong mereka untuk tetap fokus (focus) dan memiliki komitmen (commitment) mengejar impian.

Sesudah itu mengapa orang yang memiliki tekad dan hasrat tetap saja gagal dan tidak bisa mencapai kesuksesan? Karena tekad dan hasrat saja tidak cukup untuk mencapai kesuksesan. Perencanaan yang matang (planning) juga sangat vital keberadaannya. Anda tidak dapat mencapai tempat tujuan anda sebelum anda membuat rencana rute mana yang akan anda jalani. Selain rute anda juga harus memperhitungkan rute alternative untuk bisa sampai ke tempat tujuan anda. Dengan rencana anda juga dapat mengenali batas kemampuan anda.

Mengapa orang dengan perencanaan yang matang tidak bisa sukses dan bisa gagal? Karena sebagus apapun rencana yang mereka buat tidak akan ada gunanya bila mereka tidak berani mencoba (try). Dalam mencoba ini ada yang dinamakan resiko (risk). Memperhitungkan sumber daya (resource) yang ia miliki, baik itu uang, tenaga, waktu dan pikiran.Terlepas dari berhasil atau tidaknya sebuah percobaan, sifat kesuksesan adalah selalu tertarik pada gerakan (drawn to movement), tidak mengherankan bila anda tidak pernah sukses karena anda tidak pernah bergerak.

Mengapa orang yang sudah berani mencoba dan memiliki sumber daya bisa gagal? Hal ini dikarenakan hanya sedikit orang saja yang terus menerus mencoba dan memiliki kegigihan (perseverance). Banyak sekali orang yang menyerah ketika percobaannya gagal dan menemui jalan buntu. Terkadang saat anda menyerah justru itu adalah saat terdekat anda mencapai kesuksesan. Adalah sangat vital untuk terus membiasakan diri (habitual) menjadi orang yang gigih.

Dan mengapa orang yang gigih masih bisa gagal? Karena hanya sedikit dari orang yang gigih bisa menyadari (realize) dan mau mengevaluasi (evaluate) kekurangan atau introspeksi diri (introspect). Dari evaluasilah didapat gambaran jujur tentang semua hal yang anda lakukan, kekurangan anda, kelebihan anda. Dari situlah anda bisa melakukan perbaikan-perbaikan (right methods). Dalam melakukan perbaikan tentunya akan banyak sekali hal-hal yang harus dikorbankan (sacrifice), ada kalanya berupa uang, waktu, pikiran, tenaga yang lebih lagi atau bahkan ego, yaitu menundukkan kesombongan untuk belajar lebih lagi (open-minded).

Orang sukses selalu menjadi inspirasi bagi orang lain (inspire others), tidak seperti orang-orang gagal yang selalu sibuk kesana kemari menjiplak dan mencuri ide orang lain, mengakui hasil karya orang sebagai miliknya. Orang sukses selalu ber-inovasi (innovate) dan bermetamorfosis (methamorph) dan terus menganggap hidup sebagai sebuah pembelajaran tanpa batas.

Dan mengapa masih tidak bisa sukses? Karena kesemuanya adalah mustahil tanpa kendali yang baik (control)! Hanya orang yang dewasa (mature) yang berani bertanggungjawab (responsibility) yang bisa sampai pada performa puncak mereka. Mereka sadar sepenuhnya apa yang mereka pikirkan, sadar sepenuhnya akan apa yang mereka katakan, sadar sepenuhnya akan apa yang mereka perbuat.

Inilah ringkasannya.

Orang sukses(pemenang)

1. Memiliki hasrat dan tekad mencapai mimpinya.
2. Focus dan komitmen pada tujuannya.
3. Membuat rencana yang terperinci, tau dan sangat mengenali potensi yang ada di dalam dirinya.
4. Berani mencoba.
5. Memiliki sumber daya.
6. Memperhitungkan resiko.
7. Berani bergerak dan tidak menunda waktu.
8. Gigih menganggap halangan sebagai batu loncatan untuk melompat lebih tinggi.
9. Membiasakan diri berjuang.
10. Sadar, evaluasi, introspeksi.
11. Mencari metode yang benar.
12. Berani mengorbankan kesenangan sesaat.
13. Terbuka pada kritik dengan rendah hati.
14. Menginspirasi orang lain.
15. Bermetamorfosis terus berubah menjadi lebih baik.
16. Hidup adalah perjalanan, selalu ada hal baru yang menarik untuk dipelajari.
17. Memegang kendali penuh dalam hidupnya, dewasa dengan penuh tanggung jawab.

Orang gagal(Pecundang)

1. Hidup segan, mati tak mau.
2. Selalu membias dan anti komitmen.
3. Tidak pernah punya rencana, merasa diri tahu segalanya.
4. Tidak berani mencoba.
5. Selalu menganggap dirinya miskin, dan memanfaatkan sumber daya orang lain.
6. Tidak pikir panjang.
7. Selalu beralasan menyalahkan orang lain dan keadaan(tentunya sambil menunda waktu).
8. Mudah menyerah, ketika buntu menjadi depresi dan marah-marah.
9. Membiasakan diri beralasan dan adu argument.
10. Keras kepala, selalu menganggap dirinya pintar dan benar.
11. Berkutat terus menerus di dalam metode yang salah.
12. Berani, karena mengorbankan orang lain.
13. Menganggap kritik sebagai serangan.
14. Sibuk mencuri ide dan memanfaatkan orang lain.
15. Sulit berubah, menganggap perubahan sebagai musuh.
16. Hidup adalah tujuan, cepat puas dan tidak mau mencari hal baru lagi.
17. Tidak bisa mengendalikan diri, terlihat dari cara berpikir, berbicara dan bertindak. Tidak berani bertanggungjawab. Tentu saja, masih tetap ngeyel mengaggap dirinya dewasa.

So, which one are you?
Indikasi diatas dibuat atas dasar harapan untuk membantu anda merubah keadaan anda saat ini menjadi lebih baik. Kenali diri anda, berubahlah segera.

Resapi, renungkan, lakukan

Karena perubahan memerlukan tindakan.
Ciao.

Saturday, June 19, 2010

Seeing the unseen....

Sering kali kita mengeluh akan apa yang kita alami di dalam hidup ini. Segala sesuatu terasa tidak adil. Tidak jarang pula kita rasakan hidup orang lain lebih beruntung dan lebih indah. Mereka memiliki semua hal yang tidak kita miliki. Kita selalu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Lalu akhirnya kita menyalahkan orang lain atau bahkan Tuhan atas berbagai penderitaan yang kita alami.

Kita tahu bahwasanya semua yang ada di dunia ini memiliki fungsi atau kegunaan. Tapi, kata-kata ini terasa seperti sampah ketika kita menghadapi masalah. Kita tidak habis berpikir, sebenarnya apakah fungsi dan kegunaan masalah? Di mata kita masalah tidak berguna sama sekali, masalah menjadi sesuatu yang menyebalkan dan begitu tidak diinginkan. Apalagi bila masalah itu datang bertubi-tubi.
Untuk mengetahui fungsi dan kegunaan masalah, marilah kita klasifikasikan masalah itu terlebih dahulu. Berdasar pada asalnya, maka kita dapat klasifikasikan masalah menjadi:

Masalah yang berasal dari diri sendiri.
Banyak orang tidak menyadari bahwa diri merekalah sumber dari masalah yang mereka hadapi. Lalu apakah gunanya? Apakah masalah yang berasal dari diri sendiri memiliki kegunaan? Bayangkanlah bila Anda berkubang dalam seks pranikah, kecanduan alkohol, perjudian, atau obat terlarang. Lalu masalah yang Anda hadapi adalah: terkena penyakit kelamin, hubungan rumah tangga yang retak, kemiskinan, dan masuk penjara.

Mungkin contoh di atas terlalu ekstrim, banyak juga perbuatan sepele seperti buruknya manajemen waktu, kurang menghargai orang lain, kurang bertanggungjawab, tidak bisa menyimpan rahasia, suka bohong, iri hati, dan lain-lain. Yang menelurkan masalah seperti; tidak dihargai, merasa tidak aman, tidak lagi dipercaya, sering dimarahi atasan, pekerjaan yang tak kunjung selesai, dan masih banyak seabreg masalah lainnya.

Adakah kita temukan kegunaan dari masalah yang Anda hadapi? Tetap saja ada!
Masalah yang timbul dari perbuatan Anda berguna untuk menyadarkan Anda bahwa hukum sebab-akibat tidak pernah lalai melakukan tugasnya. Perlu diingat bahwa sudut datang sama dengan sudut pantul. Masalah yang timbul dari perbuatan Anda sendiri berfungsi menyadarkan Anda bahwa ada sesuatu yang salah dan Anda telah salah arah.

Masalah yang berasal dari orang lain.
Kita hidup dalam dunia yang penuh warna, kadang-kadang kita bertemu dengan makhluk yang "nyentrik" alias "nyeleneh". Mereka jadi sumber masalah dalam hidup kita. Kekesalan, kekecewaan, sakit hati, kepahitan dan dendam terus-menerus menjadi masalah kita. Kita harus ingat Pengkhotbah 3:11b, "Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."
Tuhan bisa pakai semua orang menjadi alat-Nya. Bahkan orang yang paling menjengkelkan dalam hidup kita pun bisa dipakai menjadi alat-Nya.
We can't see the whole picture He's painting, all we see is the part where those "good for nothing" hurt us. But time will tell, somehow all those "torture", all those agony has a purpose.

Kita memang tidak bisa melihat gambaran besar yang sedang dibuat oleh-Nya. Sering kali yang bisa kita lihat hanyalah hal-hal yang telah menyakiti kita. Tapi waktu akan menunjukkan bahwa segala penderitaan itu memiliki sebuah tujuan yang baik.
Setelah beberapa saat kita lewati perlakuan tidak mengenakkan tersebut, kita menjadi semakin kuat atau semakin lemah. Semua tergantung dari bahan apakah mental Anda dibuat. "Semakin besar apinya, semakin murni emasnya."
Semua rencana Tuhan itu sempurna. Lalu apakah yang disebut sempurna? Kesempurnaan datang dari sebuah proses penyempurnaan. Dan hanya dengan masalah saja kita disempurnakan. Kalau kita tilik ke Pengkhotbah 3:11a, "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka," maka waktunya itu bukan "waktu-Nya". Yang disebut dengan waktunya adalah waktu kita sebagai manusia, yaitu waktu ketika kita sudah menjadi murni alias sudah mencapai tujuan dari ujian tersebut. Semua akan terasa indah ketika kita sudah melewati proses penyempurnaan. Ingatlah bahwa indahnya pelangi hanya dapat dinikmati setelah hujan.
Lalu, bagaimana caranya menghadapi masalah? Setiap masalah memiliki solusi yang berbeda-beda. Tapi kita dapat menarik sebuah garis besar bagaimana menghadapi masalah. Menurut Jack Canfield seorang pakar motivasi, kita dapat membuat sebuah rumus.

E+R=O

E=Event
R=Response
O=Outcome

E adalah segala sesuatu di sekitar kita yang tidak dapat kita ubah. Seperti ruang, cuaca, waktu, masyarakat, budaya, keadaan.
R adalah respon kita terhadapnya. Cara kita menanggapi semua hal tersebut.
O adalah hasil dari respon kita terhadap E. Jadi jika Anda ingin menghasilkan O yang baik, Anda harus merubah R (respon) Anda! E hanyalah lingkungan Anda apa adanya!

Kita beri contoh: Kita tidak bisa merubah fakta bahwa Jakarta adalah kota yang luar biasa macet. Lalu? Apakah respon kita? Berhentilah mengeluh dan menyalahkan keadaan! Kita punya kekuatan untuk merubah keadaan. Maka sediakanlah waktu lebih awal untuk bangun pagi mengejar waktu. Atau carilah pekerjaan yang tidak mewajibkan Anda untuk pergi ke kantor. Maka hasilnya adalah: Anda tidak akan lagi terlambat ke kantor dan dimarahi oleh bos Anda.

Contoh lain: Anak dan rumah tangga kita berantakan. Anda bisa terus-menerus menyalahkan keadaan, mulai mengeluh karena menikahi orang yang salah, mulai menyalahkan mertua yang terlalu ikut campur urusan rumah tangga Anda dan lain-lain. Atau mulailah berubah! Perbaiki karakter, sediakan waktu untuk anak-anak Anda, perbanyak komunikasi dengan pasangan Anda. Beberapa kasus berakhir dengan perceraian, jangan salahkan anak Anda yang tidak menghargai Anda. Cara terbaik menunjukkan cinta Anda pada anak adalah mencintai ibunya, bukan menyakitinya! Pilihannya ada pada Anda!

Anda ingin orang lain memberi respon yang Anda harapkan? Janganlah banyak berharap selama Anda tidak bisa mulai untuk merespon mereka dengan respon yang Anda harapkan dari mereka. Semua hal ini hanyalah masalah karakter, memutuskan untuk mengambil tindakan yang tepat! Mulailah dengan merespon secara positif terhadap semua permasalahan Anda dan Anda akan melihat keindahan di balik masalah itu! Anda dapat menjalani kehidupan ini sebagai korban dari masalah, atau sebagai pemenang atas setiap masalah. Victim or victor? Pilihannya ada di tangan Anda! Tidak akan ada yang berubah sampai Anda sendiri memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda! Tuhan memberkati.

Resapi, renungkan dan praktekkan.

Karena perubahan membutuhkan tindakan.

ciao.

Wednesday, June 9, 2010

RUGI sama PAIN Katanya

Rugi waktu, pikiran, tenaga dan uang katanya.

Oke, mau itung-itungan?
Berapa banyak waktu yang gue abisin ga bisa pergi kemana-mana kalo lo kesini, waktu tidur yang keganggu kalo lo nginep, tidur yang cuma sebentar kalo lo dateng pagi buat renang di tempat gue? Atau pernah mikir rasanya begitu tolol disuruh dateng ke rumah orang dimana orang itu ga ada di rumah dan nungguin sejaman kaya orang bego di depan rumahnya? Is that respect? Berapa banyak waktu yang ilang, yang seharusnya gue abisin buat belajar hal baru dari orang baru malah justru stuck gatau mo ngapain kalo lo samperin gua. Pernah mikir itung waktu gua yang ilang?

Soal pikiran, berapa banyak hal ilmu yang gue ajarin? Berapa banyak pola pikir yang gue share? Pas lo putus ama mantan lo siapa yang jadi tempat sampah lo? Siapa yang ajarin lo buat let go? Terus siapa yang kasih lo referensi buku-buku? Plus, pernah ga gue ngorek-ngorek isi laptop lo? PERNAH ga gua bongkar-bongkar dan copas TANPA MINTA IJIN?

Soal tenaga, pernah lo mikir capeknya gua waktu dorong motor lo yg bocor tengah malam. Dari BASEMENT 2 sampe ke lantai Ground sampe deket tempat tambal bannya baru gue kasih ke lo karena gua pikir lo besok gawe ntar cape. Gua masih mikirin apa yang kudu lo hadepin besok.
Sering banget bilang, "Iya gue kan kerja, jadi capek." Brapa kali gua yang bawa motor? Lagian gue juga ga suka cerita gue seharian ngapain aja, karena ga penting ngasi tau, katanya self-trigger soalnya ngeganggu lo kalo lo mo cerita soal lo. Kapan lo mikir kalo gua juga banyak kerjaan dan capek?

Duit??? Berani sekali sebut nominal plus penyusutan untuk barang yang gue ga pake.
Do u know how much my couch cost? Dimana setiap nginep lu tidur diatasnya dan menjadi kotor?
Lu minum pake aer siapa kalo kesini? Lu maen gitar listrik disini siapa yang bayar? Lu masak mie pake perabotan siapa, pake gas siapa? Siapa yang bersihin perabotannya? Lu mandi pake aer siapa yang bayar? Ini apartemen bukan rumah biasa, meterannya beda! Pergi naek motor siapa? Bensin juga gue yang bayar seringnya, dan gue juga yang bawa(karena selalu bilang capeeeeek, jangan samain gua ama lo. GUA KERJA!). Itu ban siapa kalo gundul, itu mesin siapa kalo olinya kotor, itu mesin siapa kalo katupnya kendor, itu karburator siapa kalo kotor? Lalu lo bilang "Kalo mikir pake otak!" "Belajar akuntansi ga sih lo?" "Bullshit ngomongin sama lo!" "Ok, Mr. Ego."

Oh begitu.......
Sekarang bilang PAIN????
=))
WAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKA!!!!
Yang ngomong suka-suka dan pake emosi plus marah-marah ke gua gara-gara stress di kantor sampe mo pindah departemen itu siapa? Hey! Yang asal ngomong awalnya siapa siih? Apa perlu gue copas disini archive nya(Thanks to YM fitur archive sangat berguna)? Kalo bete sama kantor jangan lu tumplekin ke orang laen dong. Seharusnya yang in PAIN itu siapa?
WAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKA!!!

Baru soal kaya gitu aja ngamuk-ngamuk, soal project yang itu dipending ama lo aja kapan gua marah? Kapan gue nanya progress ampe sambil ngamuk-ngamuk? Soal STNK gua basah gara-gara lo aja gue ngamuk DIAM! Ga kalap kaya lo!

SORRY YA! Gue maen ama lo itu GA ADA namanya AGENDA TERSEMBUNYI! DUIT GUE PUNYA! GA KURANG! Gue sendiri bingung, apa sii untungnya maen ama lo? Duit ga nambah sepersenpun, ILMU juga ga nambah. KALO TAUN 2007 Gue ribut ama orang gara-gara dia ngutang pake nama gue ampe gue ditagih-tagih nominalnya 600rebu, ini lebih lucu lagi gara-gara 300rebu penyusutan untuk BARANG yang sama sekali gue ga butuh, gue ga pake.
Lebih lucu bukan? Tiap inget aja gue ngakak.
WAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKAKA!!!

Inget loh ya! Lu sendiri awalnya pernah bilang itu barang nganggur, rusak dan ga dipake juga di rumah lo. Bahkan gue udah tolak-tolak, ga perlu, ga usah, gue bisa beli meski perlu waktu.

Oh 1 lagi, Mr Ego????
=))
Terimakasih, memang iya gua Mr Ego. Udah segitu banyak yang gua lakuin pun lu bilang gua Mr Ego.
Gua diem aja loh. Kapan gue PERNAH NGOMONG SOAL PENYUSUTAN? Ini semua gara-gara lo yang bilang duluan.

SEMOGA KE DEPAN NANTI LO BISA TEMUIN ORANG YANG BISA DIINJEK-INJEK SEENAK JIDAT LO.
WAKAKAKAKAKKAKAKAKAKAKAA!!!

"WORDS ARE REFLECTION OF ONE'S MIND!"

Thursday, June 3, 2010

Tahi Kerbau.

Kurang dari 2jam, orang melupakan kebaikan orang lain. Mudah sekali rasanya mengatakan ga punya otak sementara orang yang disebut ga punya otak itu selama ini diserap ilmunya. Sebut saja "X", mudah sekali X ngatain orang bullshit, sementara si bullshit ini sudah banyak diambil dan ditiru referensi buku-buku bacaannya, si tahi kerbau ini dipinjam HD-nya, di-copy isinya sampai bagian rahasia yang TIDAK SEHARUSNYA di-copy pun di-copy tanpa minta persetujuan terlebih dahulu. Itukah ETIKA? Rasanya aneh, Tahi Kerbau lebih mengerti Etika.

Si tahi kerbau inilah yang membersihkan kotoran-kotoran yang X sebabkan kalau datang ke rumahnya. Dan tahukah X bahwa begitu banyak teaching yang dia serap, pola berpikir yang dia ambil dari si Tahi Kerbau? Bukankah barang-barang si Tahi Kerbau ini sangat menarik untuk dipinjam awalnya? Bukankah dulu meminta menggunakan barang si Tahi Kerbau untuk manggung? Bukankah selalu memakai kendaraan si Tahi Kerbau untuk pergi kemana-mana?

YA benar! Tahi kerbau! Tahi kerbau ini adalah pupuk buat orang lain.
Ya sudah memang mengerti dan MEMANG BENAR BAHWA ORANG HANYA DATANG UNTUK SEBUAH KEPENTINGAN. Mungkin memang salah Tahi Kerbau mempercayai orang yang salah di waktu yang salah. Pelajaran untuk tidak menjadi naif selalu tersedia dimana-mana. NAIVETY SURELY KILLS YOU! X, TERIMAKASIH UNTUK PELAJARAN BERHARGA INI!

Sunday, May 30, 2010

Sorry?!

Rasanya mudah sekali orang minta maaf. Maaf seolah menjadi komoditi pelumas dalam semua hubungan. Hanya saja, beberapa orang justru memanfaatkan kata maaf ini untuk memanipulasi keadaan.
Hati-hati saudara, banyak sekali serigala berbulu domba diluar sana. Ada beberapa orang yang menggunakan kata maaf ini untuk memanipulasi anda, dan mereka tidak segan-segan menggunakan kata maaf ini hanya untuk sekedar bermain peran untuk menyakiti anda lagi, mengambil keuntungan dari anda lagi, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Anda harus bisa membedakan kata maaf yang palsu dengan yang asli dan penuh kesungguhan. Terutama dari seorang pria, karena ada sebuah fakta yang menarik bahwa menurut Sam Margulies di blog nya yang bertajuk Psychology Today
"Men tend to view apologies as humiliating and a loss of face. Scholars of gender communication have observed that for men, verbal communication is tied up with their concern for the way their status is perceived by others. Men are more conscious of the impact of what they say on how others perceive their power position or lack of power. So for a man to acknowledge that he has done something wrong often means that he feels diminished in the eyes of those who hear the apology."

Terjemahannya:
"Pria Cenderung melihat kata maaf sebagai sesuatu yang memalukan dan membuat kehilangan muka. Sarjana-sarjana dari Komunikasi Gender memperhatikan itu dari para pria, komunikasi verbal terikat dengan keprihatinan para pria akan bagaimana statusnya dinilai oleh orang lain. Pria lebih peduli akan pengaruh perkataan mereka dari bagaimana orang lain menilai posisi kekuatan atau kelemahan mereka. Jadi untuk seorang pria mengakui bahwa dia telah melakukan sesuatu yang salah seringkali dia merasa dirinya mengecil dimata orang yang mendengar permintaan maafnya."

Untungnya ada perangkat pendeteksi untuk mengukur seberapa serius permintaan maaf seseorang.

1. Mengakui Kesalahan.
Sebelum meminta maaf, apa susahnya berkata "Saya sudah salah" rasanya sangatlah aneh bila kita hanya mendengar kata maaf. Kata maaf diikuti oleh tanggungjawab! Bagaimana mau tanggungjawab kalau kesalahan saja tidak mau diakui? Jangan minta maaf bila tidak mau secara rendah hati mengakui kesalahan! Karena kata maaf yang diucapkan sangat terdengar MEMUAKKAN!

2. Mengakui bahwa Perbuatan tersebut telah merugikan.
Entah itu dalam bentuk barang ataupun non material seperti menyinggung perasaan, orang yang meminta MAAF HARUS menyadari akibat dari perbuatannya. Selama tidak menyadari hukum sebab akibat, orang macam itu lebih baik dijauhi saja.

3. Mengungkapkan Penyesalannya.
Minta maaf tetapi TIDAK menyesal? Coba bayangkan misalkan keluarga anda dibunuh dan tidak lama pelakunya ditangkap. Dia minta maaf, tapi tidak menyesal. How's that feel? Maka bila anda tidak memiliki penyesalan, lebih baik jangan minta maaf.

4. Tidak mendebat anda ketika anda mengkritiknya.
Bayangkan, sudah jelas salah tapi masih punya waktu untuk beradu argumen, beralasan, bahkan berbohong untuk menguatkan premis-premisnya. Atau lebih parah lagi adalah mencari-cari kesalahan anda supaya dia bisa merasa sebanding dengan anda. Luar biasa bukan?
Kalau bahasa Jawa untuk tipe manusia seperti ini ada 1 kata yang sangat cocok, Ngeyel alias mbalelo.

5. Berjanji untuk Tidak akan mengulanginya lagi.
Cukup jelas, jangan menerima orang yang sering melukai anda kecuali anda adalah sadomakis perasaan yang suka disakiti.

6. Melakukan PERBAIKAN!
Entah itu material atau non-material. Namanya perbuatan selalu ada konsekuensi.
Jangan berbuat kalau tidak mau konsekuensi, itu hal sederhana dan orang goblok pun tahu.

7. Mencari pengampunan.
Benar-benar serius mencari namanya pengampunan. Hak pemberi maaf untuk menjaga jaraknya, kalau memang benar-benar minta maaf haruslah mencari namanya pengampunan alias benar-benar CLEAR!

Jadi bila 7 hal tersebut tidak anda dapati, jangan ragu untuk walk away jauh-jauh dari orang seperti itu. Sangat menyebalkan bila seseorang hanya memanfaatkan anda, menjadikan anda bulan-bulanan keegoisannya. Oh tentu saja, anda HARUS mengampuni dia, tapi merupakan hak anda untuk tidak menerimanya lagi di dalam hidup anda. 7 hal tersebut hanyalah barometer pengukuran layak atau tidaknya seseorang diberi kesempatan untuk masuk dalam hidup anda.

Say SORRY, ONLY IF YOU REALLY MEAN IT! Plus STOP ARGUING WHEN YOU OBVIOUSLY WRONG! DON'T MANIPULATE SOMEONE'S ANGER! IT GET WORSE WHEN HE FOUND OUT!

Forgiven, but NEVER FORGOTTEN!

Wednesday, April 21, 2010

Hari Kartini

Sebuah hari yang diperingati setahun sekali demi mengenang seorang pelopor pergerakan emansipasi di tanah air tercinta kita ini. Emansipasi perempuan, ya perempuan! Sesosok makhluk anggun dan mempesona. Ketika mendengar kata "perempuan" pastinya pikiran kita melayang pada sesosok perempuan yang sangat dekat dengan hidup kita, benar sekali, ibu kita sendiri.

Zaman sudah bergerak begitu cepat, banyak sekali perubahan disana sini yang kita temui, tidak terkecuali banyak sekali perubahan sifat perempuan. Kita sekarang sangat sulit menemui gambaran ibu kita di dalam diri perempuan masa kini. Zaman dan tuntutannya sudah merubah perempuan menjadi sesosok makhluk manipulatif.

Perempuan adalah makhluk manipulatif? Ya! Suka atau tidak, ini adalah sebuah kenyataan. Perempuan masa kini banyak menyembunyikan diri mereka di balik begitu banyak topeng. Dengan begitu banyak kepalsuan yang menjebak para pria mereka berlindung dibalik kelemah lembutan mereka yang membuat para pria tidak berdaya.

Saya rasa saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar mengenai begitu banyak cara-cara dan taktik serta strategi perempuan dalam memanfaatkan pria. Pastilah tidak akan cukup untuk dibahas disini dan pastinya akan menimbulkan begitu banyak polemik dan kontroversi.

Adalah lebih baik menutup artikel ini dengan percakapan kemarin antara saya dengan seorang sahabat saya.

Saya(Sy): "Cewe jaman sekarang penuh dengan tipu muslihat."

Sahabat(Sh): "Emang benar!"

Sy: "Tau ga apa yang gue maksud?"

Sh: "Suka manfaatin cowo!"

Sy: "Wah kalau itu sih umum sekali terjadi, tapi jauh sebelum memperalat para cowo. Ada sebuah modus operandi yang dilancarkan. Ngerti belom?"

Sh: "Maksud lo?"

Sy: (sambil buka BB) "Lihat cewe ini, sebenernya biasa aja, ga cakep, ga menarik. Coba lu liat."

Sh: "HAH!? Cakep gitu lu bilang biasa???"(sambil liat foto si cewe yang lagi dibahas di sebuah forum maya terbesar se-Indonesia di BB gue)

Sy: "Matanya aslinya ga sebesar itu, dia pake softlens khusus, plus kulitnya bedaknya itu tebel banget, pake foundation, bedak buat nyamarin flek, pemerah pipi, liat bibirnya, pake lipstik biar ga keliatan pecah2, plus idungnya aslinya ga begitu, sedikit tipuan pake make up jadi kesannya mancung, pake bulumata palsu sampe mata kaya ada gordennya, alis di tato, ditambah fotonya rada blur. Udah ngerti belom?"

Sh: "BAH! Parah nian!"

Sy: "Inilah yang namanya tipu muslihat, pembohongan publik!"

Sh: "Bener! Kita kan cowo ga pernah tuh dandan sampe kek gitu, paling pake jelly rambut doang. Yaa, kalo kerjaannya artis siih masi bisa dimaklumi deh kalo cowo. Tapi yang gue liat kayanya cewe ga artis ga orang biasa semua kek gitu..."

Sy: "Ini penipuaaan! Penonton KECEWA!!! KEMBALIKAN UANG KAMIIII!!!"

Penutup.
Kami cinta Perempuan yang apa adanya, nyaman dengan dirinya, memperhatikan penampilan sewajarnya, tampil elegan tanpa tipu daya seperti halnya kami mencintai ibu kami yang tidak memiliki tipu daya. Selamat merayakan hari emansipasi, semoga tidak kebablasan, kalo bablas silahkan kerjakan semuanya sendiri, dari tukang listrik, kuli bangunan, sopir tronton, montir mobil, dll.

Dari para pria untuk perempuan...
"Lepaskanlah topengmu"
(sayup-sayup terdengar lagu "Buka Dulu Topengmu" dari PeterPan)

Sunday, April 18, 2010

Hancur

Masalah datang bertubi-tubi seolah tidak ada hentinya. Ketika mengadah ke atas seolah mata rohani anda melihat Tuhan sedang tertawa-tawa mempermainkan hidup anda. Ketika sebuah bangunan dirubuhkan, diruntuhkan, dihancurkan. Yang tersisa tidak hanya keping-keping, tapi juga sebuah lahan kosong. Ya, sebuah lahan dimana anda bisa membangun sesuatu yang baru.

Beberapa orang membiarkan lahan itu kosong, tak terurus, berantakan akibat hidup di masa lalu.

Anda tidak bisa membangun sesuatu yang baru bila banyak brangkalan(puing2 yang tidak bisa dipakai)Batu batu kesombongan, selalu merasa keras kepala, benar dimata sendiri tidak mendapat tempat di dalam bangunan yang baru.

Desain berbeda, ketika rancangan anda tidak bisa berjalan sebenarnya rancangan anda mungkin tidak sesuai dengan tujuan awal penciptaan anda. Sadari kapasitas dan tujuan anda!

Tujuan dari penghancuran adalah menjadikan anda sebuah ciptaan baru yang sesuai dengan tujuan penciptaan anda. Berhenti hidup dalam penyesalan, kesombongan, dan dalam rancangan anda yang tidak sesuai dengan tujuan awal anda diciptakan.

Resapi, renungkan dan praktekkan.

Karena perubahan memerlukan tindakan

Ciao

Sunday, March 28, 2010

Titah

Karena memulai segala sesuatu dengan indah sangatlah mudah.
Berusahalah menjalani hidup dengan tabah.
Terus berlari tanpa merasa lelah.
Tidak mengeluh ketika semua berubah.
Tidak menyalahkan orang lain saat masalah semakin parah.
Terus belajar dari sejarah.
Berani karena benar, takut karena salah.
Tidak berpikir dua kali saat menolong yang lemah.
Di tengah padang pasir menjadi air yang tercurah.
Selalu bersungguh-sungguh memberi dan tidak memberi remah.
Meski keraguan datang tidak menjadi gundah.
Belajarlah mengakui kekalahan dengan gagah.
Mendapatkan kemenangan tapi tidak pongah.
Kaya namun tidak bermegah.
Kekayaan bukan soal jumlah.
Memaafkan menjadikan putih hal yang merah.
Meski kesal tidak mudah marah.
Tidak berbuat dosa di dalam marah.
Tidak main sumpah serapah.
Tidak takut meski harus berkemah.
Tidak mudah dikompori dan menjadi gerah.
Tidak terombang-ambing dan tetap berdiri di tengah.
Dalam masalah tidak mau ikut-ikutan latah.
Tidak menjadikan orang lain sebagai sapi perah.
Takut akan Tuhan dan tidak berbuat hal yang membuat-Nya jengah.
Tidak mengikuti jalan para bedebah.
Tidak mudah menyerah.
Digossipkan hal yang tidak benar, tidak stress dan menjadi resah.
Orang boleh bermuka suram, tapi tetap selalu hadapi dengan ramah.
Menjadi jawaban bagi orang lain dan tidak menjawab dengan “HAH?!”
Menengok dan merelakan masa lalu dan berkata “sudahlah!”
Menjadi pendengar yang baik bagi keluh kesah.
Tidak memberikan cinta dengan murah.
Selalu berharap hari esok lebih cerah.
Tidak pernah kehilangan arah.
Beriman tanpa mengharapkan anugerah.
Maka setiap hari serasa pesta yang meriah.
Mengakhiri hidup sebagai pemenang dengan indah.
Tetap teguh meski orang benar dan setia semakin punah.
Akhirnya surgapun menjadi rumah.

Sunday, March 21, 2010

Homo Homini Lupus

Community: In biological terms, a community is a group of interacting organisms(or different species) sharing an environment. In human communities, intent, belief, resources, preferences, needs, risks, and a number of other conditions may be present and common, affecting the identity of the participants and their degree of cohesiveness.
Terjemahannya kurang lebih seperti ini: Menurut istilah biologi, komunitas adalah sekumpulan organisme(atau spesies berbeda) yang saling berinteraksi dan berbagi lingkungan. Di dalam komunitas manusia, tujuan, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, resiko, dan banyak kondisi lain yang sama mempengaruhi identitas anggota dan tingkat kohesifitas(ketertarikan/kebersamaan).

Manusia adaah makhluk individu sekaligus makhluk sosial, tentunya dalam identitasnya sebagai makhluk social selalu hidup di dalam sebuah kelompok. Insting ini sudah ada semenjak jaman prasejarah, dimana manusia berburu dan bekerja di dalam kelompok-kelompok. Karena manusia tidak dapat sendirian menghadapi hidup, kerasnya alam, sulitnya melakukan semua hal sendirian, tidak dimungkinkannya memenuhi semua kebutuhan sendirian maka mereka bersatu membentuk kelompok. Yang tentunya memiliki tujuan, kepentingan yang sama sebagai dasar pemersatu mereka.

Oke, tentunya kita mengerti ketika dua individu atau lebih bertemu pastilah ada namanya gesekan-gesekan. Sama seperti piston yang baru saja dipasang ke dalam ruang bakar, pastilah ada namanya gesekan-gesekan untuk penyesuaian demi mulusnya kinerja pembakaran mesin. Gesekan ini berupa konflik, sumbernya adalah entah perbedaan kepentingan, belief, prinsip, value(nilai dan norma), cara berpikir, kebutuhan, dan masih banyak lagi sumber konflik dari yang sepele seperti gurauan yang tidak tepat waktu dan tempat sampai yang berat.

Konflik di dalam komunitas PASTI ada! Bila ada komunitas tanpa konflik, pastilah komunitas tersebut penuh dengan basa basi palsu. Konflik dapat mempererat sebuah komunitas, atau bahkan menghancurkannya. Hancur atau makin kuatnya sebuah komunitas tergantung dari cara menyikapi konflik yang terjadi. Cara menanggapi konflik secara positif adalah dengan berbicara pada penengah yang tepat dan tidak memihak dengan tujuan utama mencari solusi terbaik dan menyelesaikan pertikaian yang ada. Namun yang kerap terjadi adalah yang negatif, yaitu dengan menunda penyelesaian konflik, mencari massa, mencari pembenaran diri sendiri, memutar balikan fakta, membesar-besarkan sesuatu, berbicara pada orang-orang yang tidak tepat, inilah yang justru sering terjadi.

“Besi menajamkan besi, manusia menajamkan manusia.” Benarkah demikian? Bagaimana rasanya ketika anda berada di pihak yang diperlakukan tidak adil di dalam sebuah penanganan konflik secara negative oleh pihak yang sedang berseteru dengan anda? Nikmat bukan? Oh tidak, sangat luar biasa nikmat bukan? Ayat tersebut sering sekali dipakai oleh orang-orang tertentu sebagai pembenaran akan kesalahan yang mereka perbuat di dalam penanganan konflik yang negatif. Mereka yang sudah memperlakukan anda secara tidak adil berkata: “Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.” Seolah adalah tugas mulia mereka untuk memperlakukan anda secara tidak adil dengan dalih pembenaran demi “menajamkan” anda. Apakah hal tersebut dapat dibenarkan? Apakah anda dibenarkan memperlakukan sesama anda secara tidak adil dengan dalih ingin menajamkannya? Jangan suka bermain-main dengan ayat, ayat yang dipermainkan akan terdengar murahan seperti tukang obat pinggir jalan yang keampuhan dan kemujaraban obatnya diragukan secara klinis.

Ayat tersebut lebih cocok dipakai dan diperkatakan oleh orang yang sedang ditajamkan untuk menguatkan dirinya. Jangan pernah berkata besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya saat anda menyakiti orang lain. Jangan pernah berkata besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya saat anda bersekongkol menjatuhkan seseorang. Jangan pernah berkata besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya saat anda menusuk teman, sahabat, saudara anda dari belakang. Karena yang terjadi adalah Homo homini lupus! Homo homini lupus(by Plautus)-"man is a wolf to [his fellow] man." Dapat diartikan sebagai: seorang manusia adalah seekor serigala bagi manusia lainnya. Ketika anda menyakiti, berkhianat, berbuat tidak adil, menjatuhkan orang lain, bersaksi dusta tentang orang lain sebenarnya anda sedang menjadi seekor serigala bagi manusia lain! Jadi BUKAN besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya! Dalam hal ini anda bukanlah besi! Anda hanyalah ampelas! Ya! Ampelas! Ampelas yang sudah PASTI dibuang karena sang besi sudah menjadi halus dan kuat. Jangan suka seenaknya berlindung dibalik ayat saat anda berbuat dosa! Konsekuensi lebih besar akan menanti anda! Anda bisa pasang senyuman, anda bisa pakai jubah putih, anda bisa tetap melayani, tapi Tuhan tahu apa yang ada di dalam hati anda!

Besi menajamkan besi adalah ketika dua atau lebih individu saling menajamkan, kata menajamkan disini tentunya memiliki tujuan yang positif, saling membangun, saling mengingatkan, saling menuntun. Terdapat hubungan resiprok bukan searah, ada aksi reaksi yang positif. Kata menajamkan memiliki tujuan yang positif. Jadi ketika anda menjadi ampelas, anda tidak mendapatkan benefit apa-apa, anda menajamkan orang lain sementara anda sendiri tidak ikut di dalam tujuan menjadi lebih kuat, lebih baik, lebih dewasa.

Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya. Perkatakanlah itu saat anda lemah, tidak berdaya, diperlakukan tidak adil, menjadi korban fitnah, “Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.” Mintalah hati yang baru kepada Tuhan maka anda akan merasakan nikmatnya, kekuatan yang baru, iman yang baru, harapan yang baru, kasih yang baru dalam hidup berkomunitas. Anda akan mampu berkata, “Aku masih berdiri, karena anugerah Tuhan!”
Ketika itu anda akan menyadari, anda menjadi lebih kuat, lebih dewasa, lebih berhikmat, lebih berpengetahuan, lebih berpengertian. Hanya dengan rasa syukur anda bisa keluar dari kekecewaan. Saat anda diperlakukan tidak adil ketahuilah, anda sedang ditajamkan. Perlu diketahui bahwa saat anda ditajamkan ada yang terkikis, pastikanlah yang terikikis adalah sifat buruk anda, kelemahan anda dan bukan semangat anda, tekad anda, iman anda. Anda akan menjadi manusia yang baru.

Komunitas yang baik, adalah saat sesama anggotanya saling menajamkan, bukan menjadi ampelas. Konflik ada untuk mendewasakan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Bukan hanya sebagian pihak saja. Komunitas yang baik mendorong anda sampai maksimal. Komunitas palsu, penuh basa-basi yang membuat anda terlena, serba tidak enak, membuat anda terpaksa memakai topeng. Komunitas palsu TIDAK akan pernah bisa membuat anda memacu diri anda mengeluarkan semua potensi anda. Pastikan anda adalah besinya, bukan ampelas. Bila anda sadari anda adalah ampelasnya cepatlah sadar sebelum menerima konsekuensi lebih lanjut dari perbuatan anda.

Resapi, renungkan dan praktekkan.

Karena perubahan memerlukan tindakan

Ciao

Tuesday, February 23, 2010

Perempuan Nomer Satu di Dunia

"Siapakah perempuan nomor satu di dunia? Jawabannya sangat mudah! Ibuku!" - K-ray Cahyadi

Mungkin agak aneh kenapa saya menulis artikel tentang ibu di bulan Februari. Sementara orang sibuk dengan pikiran mereka tentang cinta, saya justru sedang terlarut dalam perasaan kangen saya pada ibu yang berada di luar kota. Saya rasa mengungkapkan kasih kita kepada ibu tidak perlu harus menunggu hari ibu. Adalah sangat baik menyatakan cinta dan kasih kita kepada siapapun kapanpun selagi kita masih sempat mengungkapkannya. Karena waktu kita di dunia begitu sedikit, adalah sangat baik mengisi waktu kita mensyukuri apapun yang kita miliki selagi kita bernafas di bumi.

Ibuku adalah seorang sosok yang sangat luar biasa. Kehangatannya selalu memberikan semangat baru kala jiwa mulai redup menghadapi hidup. Perhatiannya selalu ada di saat suka maupun duka. Dedikasinya membesarkanku sangat bulat melebihi tekad seorang pahlawan dalam medan perang. Komitmennya menyayangi saya tidak pernah berubah meski kadang saya banyak melakukan tindakan menjengkelkan. Kelembutan hatinya selalu terpancar, meski kadang menggunakan kata yang terkadang menusuk hatiku, semua demi kebaikanku sendiri supaya tidak salah jalan dan terperosok.

Ibuku adalah seorang yang sangat tahan banting dan tabah, kadang kuanggap dia kolot, tapi justru kadang firasatnya yang selalu memberikan tanda-tanda yang lebih tepat dari prakiraan cuaca. Ibuku memberikan kepercayaan dan kebebasan penuh padaku untuk menjadi dewasa dan bertanggungjawab. Wejangannya singkat, kadang hanya terdiri dari satu atau dua kalimat saja, tapi lebih ampuh dari berbagai macam nasehat seorang konsultan keuangan. Masakannya lebih lezat daripada makanan yang dimasak oleh seorang chef hotel bintang lima, karena sebuah bumbu resep rahasia di dalamnya yaitu kasih dan perhatian, yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh seorang chef restoran manapun (karena uang bisa membeli kenikmatan bukan kasih).

Bagaimana dengan ibu Anda? Untuk para anak di luar sana: "Wahai para anak di luar sana, hargailah ibumu!" Ungkapkanlah rasa terimakasihmu selagi masih sempat. Keagungan pengorbanan seorang ibu tidak pernah bisa terukur. Jangan sampai kesibukan Anda melupakan kasih dan perhatian ibu Anda. "Habis manis sepah dibuang" adalah tindakan yang sangat tidak terpuji bagi ibu Anda.

Tersenyumlah para perempuan di luar sana, suatu saat Anda akan menjadi seorang ibu bagi anak-anakmu. Anda akan menjadi seorang perempuan nomer satu di dalam kehidupan anak-anakmu. Menjadi seorang panutan dan soko guru dalam kehidupan buah hati. Jadilah ibu yang terbaik bagi anak-anakmu, berikanlah perhatian yang terbaik untuk mereka. Karena masa kecil hanya datang sekali, berikanlah masa kecil yang terbaik baginya. Suatu saat akan Anda temukan sebuah ungkapan terima kasih yang begitu sederhana, yang tidak akan pernah mampu membalas kebaikan dan pengorbanan Anda sebagai seorang ibu.

Katakan sekarang, pikirkan sekarang, ungkapkan sekarang! Bagaimanapun caranya, katakan dan nyatakanlah kasihmu pada ibumu, pada anakmu. God bless you.

N.B. : Untuk seorang kakak, yang akan menyambut datangnya seorang buah hati. I believe you will be the number one woman in your child's life."

Wednesday, February 10, 2010

Alone

Semua sulit, gagal berkali-kali, rasanya semua gambaran menjadi buram, target-target tidak tercapai, semua rancangan jadi kacau. Sebagai konselor, kita dapati tidak ada yang bisa diajak berbagi, karena semua orang selalu mempercayakan masalah mereka pada kita. Kita selalu menjadi pendengar setia, dan memegang rahasia dari banyak orang. Rasanya sangat aneh bagi kita para konselor, untuk membagikan masalah kita pada orang lain. Kita menjadi takut gambaran diri kita menjadi orang yang bisa diandalkan oleh sesama selama ini menjadi rusak. Kita diuji dengan semua perkataan kita sendiri yang sudah menguatkan orang lain. Masalah-masalah tak terduga muncul beruntun, dan kita berdiri sendirian karena di mata kita tidak ada orang yang cukup bijaksana untuk berbagi.

Tender pekerjaan yang feenya tidak sebanding dengan apa yang kita perhitungkan. Uang kita yang tidak jelas lari kemana oleh rekan bisnis. Stok barang menumpuk yang tak kunjung laku karena cacat produksi. Atasan bermasalah mencuri database klien kita. Teman puluhan tahun yang menusuk dari belakang karena uang yang jumlahnya tidak besar. Keseriusan yang berbuah kegagalan. Orang-orang dari masa lalu yang terus merongrong keuangan kita. Gaji yang tidak kunjung naik. Saudara-saudara yang terus menekan kita. Kita tidak tahu kemana anda harus mengadu, karena kita sudah terlanjur menjadi tempat bersandar bagi orang lain. Kita terlalu gengsi untuk membuka dan membiarkan orang lain melihat gejolak yang terjadi di dalam diri kita. Kita dituntut untuk selalu tersenyum, karena beban moral sebagai seorang konselor. Saat orang lain datang dengan masalah mereka, kita dituntut tetap berkepala dingin mencari solusi untuk mereka.

Lalu ada terngiang di dalam diri anda, “you are born to win” anda dilahirkan untuk menjadi pemenang. Anda mulai meragukannya. Benarkah seperti itu? Kenyataan bahwa anda saat ini lemah dan tidak berdaya, mulai membantah semua konsep tentang “menjadi pemenang” atas segala perkara dan masalah anda. Selama ini anda membantu orang lain tanpa mengharapkan suatu imbalan apapun dari orang itu. Anda sudah dengan baik memerankan peran anda sebagai penghibur di saat kesusahan. Dengan segala kesabaran dan toleransi anda mau mengerti masalah orang lain walau kadang orang lain akhirnya menjadi orang yang mengkhianati anda. Apakah Tuhan memberikan janji-Nya dengan sembarangan? TIDAK! Sama sekali TIDAK!

Lalu kenapa semua harus terjadi? Kenapa kita dengan mudahnya menyelesaikan masalah orang lain? Kita bertanya-tanya kenapa semua ini harus terjadi. Apalagi terjadi begitu cepat beruntun dan sangat menyita energi. Akhirnya, jawabannya adalah berpikirlah positif. Ya! Semudah itu, seperti pada saat anda menjawab semua masalah orang lain. Anda harus mengerti satu hal, seorang pemenang tidak dapat dikatakan sebagai pemenang tanpa ujian. Kita bahkan harus terus menguji diri kita. Ujilah hati anda, ujilah pikiran anda, ujilah prinsip anda. Segala ujian baik adanya!
1 Korintus 11:31 Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita.

Jangan sampai ada motivasi yang salah dalam hidup kita. Karena Tuhan melihat HATI anda, percayalah bahwa TIDAK ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Anda bisa berbohong pada siapapun, tetapi anda tidak akan pernah bisa berbohong pada diri sendiri dan pada Tuhan! Jagalah hati anda dengan segala kewaspadaan! Karena Tuhan mencatat segalanya!
Yakobus 3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.

Mengapa semuanya terlihat mudah saat anda menyelesaikan masalah orang lain? Because there’s a big difference between knowing the way and walking in it. Hanya tahu TIDAK cukup! Dasar semuanya adalah kasih, tapi kasih yang berupa kata-kata adalah sia-sia. Kalau selama ini kita merasa puas dengan menjadi konselor yang baik dan bijak itu tidak ada gunanya. Karena perbuatan memberi dampak lebih dari sekedar perkataan. Kita para konselor terlahir untuk memberi impact yang besar!
1 yohanes 3:18 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

Bila anda selama ini dengan mudahnya berkata-kata, cobalah sedikit menilik dan jujur terhadap diri sendiri. Apakah anda sudah melakukan apa yang anda katakan? Apakah anda benar-benar berjalan dalam prinsip anda? Segala pertandingan dan masalah pada awalnya adalah untuk mengukur seberapa besar tingkat integritas anda. What is integrity? Integritas adalah saat anda melakukan apa yang anda katakan. Pikiran sejalan dengan perkataan, dan perkataan sejalan dengan perbuatan. Itulah integritas!
Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Seorang dinilai bukan dari kata-kata, tidak dinilai dari jabatannya dalam gereja, bukan dari seberapa besar pelayanannya dalam gereja. Tuhan punya standar sendiri yang mungkin sulit dimengerti oleh kita sebagai manusia. Dia menilai kita dari hati, juga Tuhan menilai kita dari buah yang kita hasilkan.
Matius 7:18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.

Jangan pernah puas bila anda sudah bisa membangun orang lain, karena bukan anda yang membangun mereka. Tuhan membangun anda dengan cara-Nya sendiri, Dia memberi masalah untuk anda supaya makin nyata karya-Nya di dalam kita. Dia ingin kita menjadi 100% Firman yang menjadi daging. Satu hal yang perlu anda ingat, bila anda terus memaksa untuk berdiri sendiri dengan segala keterbatasan anda, dapat dipastikan anda tidak akan dapat bertahan dan menjadi hancur. Jadilah pelaku Firman, bukan hanya memperkatakannya saja.
Matius 7:24-25 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”

Keuntungan dari masalah, inilah kata-kata yang sering kita ucapkan pada pasien kita saat kita menjadi konselor mereka: “Ambil saja himahnya. Mungkin Tuhan punya maksud baik dalam hidup anda.”
Tuhan PASTI(bukan mungkin) selalu punya maksud yang indah pada waktunya (Pengkhotbah 3:11) di dalam setiap masalah, selama masalah itu bukan dari buah perbuatan dosa anda. Sekalipun masalah itu adalah buah dari dosa anda, Tuhan akan menyelesaikannya bila anda sungguh-sungguh berserah dan bertobat. Hanya saja jangan pernah memaksakan penyelesaian yang anda inginkan terjadi, karena konsekuensi dosa kadang tetap tidak bisa dihindari. Karena Tuhan BUKAN manusia(jalan Ku bukan jalanmu, rancanganKu bukan rancanganmu). Setiap masalah akan membawa kita terbang semakin tinggi, tergantung kita meresponnya, tergantung dari apakah mental dan karakter kita dibuat. Tergantung seperti apa kita sudah melatih dan membangun karakter kita! Anda lebih dari pemenang, anda diciptakan untuk mengalahkan permainan. Jangan biarkan anda dipermainkan dengan perasaan anda(kita ingat banyak sekali pasien kita yang sulit diajak bicara ketika emosi sudah menguasai pikiran logis mereka). Karena pikiran kita adalah pertempuran, kita harus senantiasa menjaga pikiran kita dengan Firman Tuhan.

Anda harus tetap bergantung pada Tuhan, karena anda ada dari Dia, anda ada oleh Dia, dan anda ada untuk Dia. Anda tidak berhak protes atas masalah yang anda hadapi. Anda harus berserah pada Tuhan. Manusia hanya akan mengecewakan anda. Banyak sekali kasus dimana seorang konselor dicibir saat mereka mulai terbuka akan masalah mereka. Mereka dicap lemah, akhirnya konselor itu kehilangan urapan karena ragu apakah penyertaan Tuhan masih ada di dalam hidupnya. Mengapa demikian? Karena mereka mulai berharap pada manusia. Baiklah kita berharap hanya pada Tuhan, biarlah Dia yang tunjukkan siapa orang yang memang bisa dipercaya menjadi orang yang menjadi penyambung suara Tuhan di dalam pergumulan anda. Karena berbicara pada orang yang salah, justru akan memperkeruh masalah. Ketahuilah anda tidak sendirian, karena Tuhan bersama anda. So when you are alone and feel no one with you, ga ada yang bantu masalah. Cek hati, jaga pikiran, introspeksi apakah anda sudah menjalankan semua yang anda katakan? Atau itu hanya sebuah omong kosong yang keluar dari mulut anda.

God bless you.


Untuk para pelacur(pelayan curhat) diluar sana, yang selalu mentok ga tau mau lari kemana pas ada masalah. Karena selalu dicibir lemah dan bodoh saat masalah susah untuk diselesaikan.

Deeper Meaning of Care

"Selama saya hidup sesungguhnya tidak ada yang lebih memuakkan dari senyum palsu yang dipaksakan, pujian manis yang kosong pemanis telinga dan perhatian semu. Semua itu adalah SAMPAH!"-K-ray Cahyadi-

Friendship is? Apakah persahabatan? Cobalah tanyakan pada diri anda masing-masing. Apakah arti persahabatan bagi anda? Coba anda renungi carilah jawabannya. Friendship is the cooperative and supportive relationship between people. Persahabatan adalah hubungan kerjasama dan saling mendukung antara manusia. Lalu apakah yang membuat sebuah persahabatan langgeng, bertahan lama, tetap memiliki kerjasama dan saling mendukung?

Sebuah persahabatan hanya bisa langgeng bila ada saling kepedulian di dalamnya. Kata peduli dalam bahasa Inggris adalah Care. Seseorang bisa dianggap peduli apabila dia memiliki Concern, Affection & Acknowledgement, Relationship & Respect, Enthusiasm.

Concern
Concern sendiri dapat diartikan sebagai- “menaruh perhatian yang besar terhadap.”
Seorang sahabat yang baik tentunya akan menaruh perhatian yang besar sekali terhadap anda. Entah itu perkembangan diri anda, perkembangan karir anda, perkembangan karakter anda, keadaan anda. Bahkan seorang sahabat yang baik tidak akan pernah segan menegur anda supaya anda sadar dan mengubah cara hidup anda. Karena sahabat yang terbaik selalu menginginkan segala sesuatu yang terbaik bagi diri anda(tendency to desire what is best for others). Jadi anda bukan seorang sahabat yang baik bila anda belum mengharapkan dan menginginkan yang terbaik bagi sahabat anda. . Memang sahabat yang baik kadang menjadi seorang oposisi bagi pendapat anda, akan tetapi semua disebabkan atas dasar perhatiannya yang begitu besar kepada anda.

Affection
Affection sendiri dapat diartikan sebagai kasih. Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. Seorang sahabat selalu menjadi saudara di dalam kesukaran. Saat anda merasa lemah atau tidak berdaya ia adalah seorang yang bisa diandalkan. Mungkin tidak banyak yang bisa ia lakukan, tapi ia bisa meminjamkan telinga dan sebagian waktunya untuk melegakan anda. Beberapa orang mengasihi dengan motif tersembunyi, seseorang dengan kasih palsu bukanlah seorang sahabat, karena kasih menerima tanpa syarat. Bahkan kasihlah yang menutupi segala pelanggaran.

Acknowledgment
Acknowledgment diartikan sebagai pengakuan. Sahabat yang baik akan mengakui kemampuan anda, selalu memberikan motivasi yang membangun karakter anda. Ia tidak iri dengan kelebihan anda, tapi terus menjadi pengobar semangat anda dalam meraih mimpi-mimpi anda. Anda bukanlah sahabat yang baik bila anda tidak dapat mengakui kelebihan sahabat anda, iri terhadap kelebihan sahabat anda, menjatuhkannya dari belakang. Sifat tidak terpuji seperti itu bukanlah sifat seorang sahabat.

Relationship
Relationship dapat diartikan sebagai hubungan. Sahabat yang baik selalu “keep in contact” atau tetap menjaga hubungan. Terlepas dari seberapa jauhnya jarak, terlepas dari seberapa sibuknya pekerjaan. Ia tetap menyediakan waktu khusus untuk sahabat-sahabatnya. Ketika ia bertanya “apa kabar” bukan sekedar rutinitas basa-basi omong kosong atas dasar alasan tata krama, akan tetapi dikarenakan ia memiliki simpati dan empati yang tulus terhadap anda karena bersungguh-sungguh ingin mengetahui keadaan anda. Sahabat yang baik tidak hanya menghubungi anda pada saat dia membutuhkan kemampuan atau keahlian anda, tetapi seorang sahabat adalah yang tulus tanpa motif tersembunyi. Sebuah hubungan yang baik bukanlah hubungan yang tanpa konflik. Hubungan yang baik adalah hubungan yang bertahan meski ada konflik. Sahabat yang baik tidak akan menunda sebuah konflik, ia akan segera mencari sebuah penyelesaian. Apakah anda masih berbasa-basi? Atau mungkin masih banyak konflik yang anda biarkan tidak selesai? Hanya orang yang dewasa dan secure yang berani menyelesaikan masalahnya. Semakin anda menunda, semakin sulit anda menyelesaikannya.

Respect
Respect adalah rasa hormat. Sahabat yang baik dapat menghargai perbedaan pendapat. Pendapat yang berbeda, perbedaan sudut pandanglah justru yang memperkaya sebuah persahabatan. Banyak sekali orang menjadi begitu overprotektif dan skeptis ketika menemukan perbedaan. Perbedaan menjadi sumber konflik, apalagi perbedaan kepentingan. Sahabat yang baik, bahkan kadang mampu membunuh egonya karena menghargai kepentingan sahabatnya. Bila anda tidak bisa menghargai pendapat dan kepentingan sahabat anda, buanglah label anda sebagai seorang sahabat. Menghargai juga berarti toleransi. Bila anda tidak bisa menghargai orang lain, cobalah anda berkaca. Orang yang tidak bisa menghargai orang lain sebenarnya disebabkan karena ia tidak bisa menghargai dirinya sendiri.

Enthusiasm
Enthusiasm dapat diartikan sebagai antusiasme. Sahabat yang baik adalah sahabat yang menjadi sumber antusiasme. Seorang sumber antusiasme sendiri adalah seorang yang menginspirasi. Sahabat yang baik selalu menjadi inspirasi hal yang positif. Saling menginspirasi, memberikan motivasi. Sahabat yang baik menjadi inspirasi entah dalam cara berpikir, nilai-nilai, pembangunan karakter. Jadi bila seorang sahabat hanya menyedot semangat anda menjadi loyo, kehabisan ide, membuat anda jadi mampet inspirasi, membunuh semangat anda, membuat antusiasme anda dalam menjalani hidup menjadi berkurang, dapat dipastikan ia bukanlah sahabat yang baik.

Anda ingin memiliki sahabat yang baik? Anda ingin dikelilingi orang-orang luar biasa? Semua itu hanyalah mimpi belaka bila anda tidak CARE. Memang betul tidak semua orang wajib anda jadikan sahabat, diperlukan hikmat dalam menaruh kepercayaan anda kepada seseorang. Namun, semua cita-cita anda memiliki sahabat yang luar biasa adalah omong kosong bila tidak memiliki perhatian yang besar(concern), kasih sayang dan pengakuan(affection & acknowledgment), hubungan dan penghargaan (Relationship And respect), membangkitkan antusiasme(enthusiasm) bagi teman-teman anda. Jadilah sahabat yang luar biasa, niscaya andapun akan dikelilingi sahabat-sahabat yang luar biasa. Ingatlah the golden rule: “Treat others as you want to be treated.” (Lakukan kepada mereka sebagaimana kamu ingin mereka perlakukan).

Resapi, renungkan dan praktekkan.
Karena perubahan memerlukan tindakan
Ciao
12:42AM

Quitters CAN win!

“When you quit regretting, when you quit doing stupid things, when you quit believing your pointless nonsense, when you quit being stubborn, when you quit blaming others, when you quit wearing your mask, when you quit being untrue, when you quit depressed, quit your bad habits, when you quit pushing your luck on the same person. Winners=those who stopped (quit) doing the same mistakes and jump to the next level.”-K-ray Cahyadi-

“Winners never quit!”
Demikianlah kita selalu dicekoki dengan kalimat motivasi seperti ini. Dengan semangat membara kita mempercayai semboyan ini, setiap kali kita terjatuh, lemah, tak lagi berdaya, kalimat ini seolah memiliki daya magis untuk mengembalikan semangat kita. Kita lalu menjadi lebih bertenaga dalam melakukan berbagai kegiatan.

Tanpa sadar keampuhan kalimat mantra itu kita terapkan secara buta di dalam semua segi kehidupan kita. Saya menjumpai banyak orang yang terjebak dalam pemakaian standar mantra tersebut dalam konteks yang salah kaprah. Winners never quit? Benarkah begitu? Coba simak ulasan berikut:
Seorang sales, sudah beberapa bulan sulit sekali menjual produknya. Dia terus mencoba, terus mencoba, tapi dia tidak bisa melewati rekannya. Karena ia sangat percaya dengan kalimat “winners never quit” dia terus mencobanya. Tanpa terasa tahun-tahun dilewati tanpa ada perkembangan, hasil penjualan yang tidak pernah sebanding dengan jerih payah. Komisi yang tidak seberapa tidak mampu lagi menutup biaya hidup keluarganya. Namun tetaplah ia berpegang teguh pada prinsip “winners never quit” dan dia tetap setia teguh disitu. Tak terasa, istri tercintanya menjadi jengah melihat karir seorang suami, tumpuan keluarga tidak mengalami perkembangan berarti. Berkali-kali sang istri meyakinkan sang suami untuk berhenti(quit) dan mencari peruntungan lebih baik, tapi sang suami menganggap pendapat sang istri justru sebuah serangan pada egonya. Sang istri akhirnya pergi membawa anak-anak mereka meninggalkan suami tercintanya untuk kehidupan lebih baik. Sang suami berubah menjadi pecandu alcohol, malam-malamnya hanya diisi dengan berbotol-botol minuman keras dan berbatang-batang rokok.

Ironis sekali bukan? Sebuah kata-kata indah “winners never quit” sering kali menjadi di-fabrikasi oleh perusahaan tempat kita bekerja, untuk memecut kita maju lebih lagi dalam berusaha. Hanya sedikit orang yang sadar, terkadang kata-kata tersebut digunakan untuk memperalat kita sebagai seorang pegawai(dengan benefit yang tidak sebanding). Saya tidak ingin membahas hal itu disini, yang saya ingin tekankan adalah sebuah kalimat semacam “winners never quit” yang sudah memiliki tempat agung di dalam kehidupan tiap orang kiranya jangan pernah ditelan mentah-mentah. “Segala hal memiliki konteksnya. Tanpa konteks yang tepat semua kata mutiara yang anda kenal hanya akan membuat anda menjadi bulan-bulanan kehidupan.”-K-ray Cahyadi-

Mari kita lihat kehidupan si istri. Sang istri yang membawa kedua anaknya memutuskan berhenti untuk menaruh harapannya pada sang suami. Dia berhenti menjadi seorang ibu rumah tangga yang lemah. Ia berubah menjadi seorang ibu rumah tangga yang kuat, dia mulai mencari nafkah. Dengan sedikit modal dari hasil menjual cincin berlian perkawinannya, ia membuka sebuah tempat makan. Dengan usaha yang penuh komitmen dia mulai bisa mengangkat kehidupannya, ia berhasil menyekolahkan kedua anaknya. Anaknya berhenti menjadi anak manja, berkat prestasinya di sekolah, ia mampu memberikan kursus pelajaran bagi anak-anak lain yang menjadi yuniornya di sekolah. Sang adik berhenti meminta uang untuk membeli pakan ikan. Dia belajar dengan menjual anak-anak ikan ke teman-teman SD nya dan bisa mencari alternative pakan ikan lain dari jentik nyamuk.

Bayangkan bila Alfa Edison tidak pernah berhenti menggunakan metode yang salah dalam menciptakan lampu, atau cobalah anda pikirkan semisalnya semua penemu semacam Graham Bell tidak pernah mau berhenti untuk menggunakan cara-cara yang tidak berhasil dalam percobaannya, saat ini handphone yang anda pegang hanyalah barang mimpi.

Kembali pada cerita si suami, sang suami yang semakin bertambah usia tidak mau berhenti dari kebiasaannya mengkonsumsi alkohol. Dia juga tidak pernah mau berhenti menjadi manusia keras kepala. Upah keras kepalanya terbayar dengan diusirnya dia dari kantor tanpa pesangon yang jelas. Hari terus berjalan, dia tidak pernah mau berhenti menyakiti orang-orang di sekelilingnya. Teman-temannya menjauh karena tidak tahan bergaul dengannya. Lalu sang suamipun menyesal, dan terus menyesal, dia terus tenggelam dalam jurang depresi, dia tidak berhenti dari kegalauan hatinya. Mencari obat depresi dengan minuman keras dan nikotin.

QUIT! BERHENTI! Sadarilah sekarang, pertimbangkan dengan matang, seperti yang sudah saya sebutkan diatas, segala sesuatu memiliki konteksnya. Bila anda memaksa memberlakukan semua nilai tanpa melihat konteks, maka anda sama seperti seorang montir yang menggunakan sumpit untuk menyetel katup mesin, atau mungkin anda sama dengan seorang koki yang mencoba memotong daging dengan kunci inggris, mungkinkah anda menebang pohon besar dengan sebuah pisau dapur?

Anda bisa menjadi pemenang bila anda berhenti! Tentunya kalimat inipun harus disesuaikan dengan konteksnya. Anda bisa jadi pemenang saat anda berhenti menyalahkan orang lain, berhenti menyalahkan keadaan, berhenti depresi, berhenti terus menyesal, berhenti menjadi keras kepala, berhenti menjadi sok tau, berhenti dari kebiasaan buruk, berhenti merasa menjadi yang paling benar, berhenti melakukan hal bodoh, berhenti berpura-pura.
Winners never quit, pemenang tidak pernah berhenti! Benar, bila konteksnya adalah tidak pernah berhenti mencoba cara-cara baru, tidak pernah berhenti belajar, tidak pernah berhenti berubah kearah perbaikan.
Sekali lagi LIHAT KONTEKS nya.

Resapi, renungkan dan praktekkan.
Karena perubahan memerlukan tindakan

Ciao

Asal Kerja=Kerja Asal-asalan

“Asal kerja sering kali menjadi sebuah alasan tepat untuk mengakhiri keadaan menganggur. Tanpa disadari hal tersebut telah mempengaruhi etos kerja subjek menjadi kerja asal-asalan. Hasil kerja yang hanya menjadi cemoohan karena tidak adanya totalitas dalam berkarya.”- K-ray Cahyadi

Sering kali terdengar seperti ini: Seseorang bekerja di kota besar lalu pulang ke kampung, mendapati sanak saudara atau temannya menganggur di kampung. Lalu terjadi sebuah percakapan seperti ini:
Pemudik: “Mendingan kamu ikut aku kerja ke Jakarta daripada menganggur seperti ini.”
Penganggur: “Kerja apa disana?”
Pemudik: “Ya sudah asal kerja saja, toh daripada menganggur.”

Dari input tenaga kerja seperti itu, terdapat dua macam hasil output yang mudah sekali dijumpai di kota-kota besar semacam Jakarta. Jenis pertama adalah mereka yang berhasil beradaptasi, membangun kemandirian, berjuang dengan gigih tanpa kenal lelah, akhirnya berhasil memetik kerja keras mereka. Sedangkan output kedua adalah para pelengkap derita, yaitu mereka yang tidak mampu beradaptasi, gagal, akhirnya mimpi mereka membentur karang realita. Para pelengkap penderita ini merasa malu untuk pulang kampung karena mereka menganggap diri mereka sebagai pecundang kehidupan. Tidak sedikit dari mereka pada akhirnya menjadi pelaku kriminal bermacam-macam tindak kejahatan. Berdasar statistik, bila kita membandingkan jumlah populasi golongan yang berhasil dengan para pelengkap derita ini jumlahnya sangat kontras dan signifikan. Para pelengkap derita lebih banyak dibandingkan mereka yang berhasil bertahan/sukses.

Sempit/tidak adanya lapangan pekerjaan selalu menjadi kambing hitam akan keadaan seperti ini, namun benarkah demikian? Benarkah sempitnya lapangan pekerjaan selalu menjadi satu-satunya faktor utama, dan apakah pemerintah selalu menjadi pihak yang bertanggungjawab dalam keadaan jumlah pengangguran yang kronis di kota besar atau bahkan dalam tingkat yang lebih tinggi, skala nasional?
Jauh sebelum proses adaptasi dimulai sebenarnya dorongan mencari kerja saja sudah perlu dipertanyakan, “asal kerja” merupakan sebuah dorongan yang sangat bertanggungjawab pada fenomena ini. Ketika mendengar “asal kerja” secara tidak sadar penganggur tersebut sudah menganggap bahwa dirinya tidak memiliki pilihan, tentunya “bargain position” sudah tereliminasi secara otomatis. Padahal seharusnya tidak ada pilihan justru bisa membuat seseorang focus dan menghasilkan hal yang besar, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Seperti kasus-kasus klasik, orang-orang yang tidak memiliki pilihan akan melakukan segala sesuatu yang mereka kerjakan dengan terpaksa. Tidak ada lagi kenikmatan dalam segala hal yang mereka kerjakan. Bila bekerja tanpa cinta, maka hasilnya tidak akan pernah maksimal. Jangan pernah berharap hasil kerja dari orang yang “asal kerja” menjadi maksimal sesuai dengan keinginan anda, karena secara mindset pun mereka sudah berbeda dari anda.

Bekerja haruslah dengan cinta, dengan penuh semangat, karena bekerja adalah salah satu aktualisasi diri yang esensial. Bekerja mengaktualisasikan diri bukanlah monopoli dari mereka, orang-orang di puncak piramida Maslow yang sudah terpenuhi kebutuhan material, keamanan, pengakuannya. Kebutuhan aktualisasi diri adalah hak semua orang. Banyak orang salah kaprah menyatakan bahwa aktualisasi diri hanya bisa dicapai saat semua kebutuhan lain yang lebih mendasar(materi, keamanan, keamanan) sudah tercukupi. Sebenarnya saat anda mampu mengaktualisasikan diri anda dalam pekerjaan anda, secara otomatis anda pada akhirnya mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lain. Bayangkanlah, anda adalah Mozart, ia dikenal hidup dalam kemiskinan. Cobalah tanyakan, apakah kemiskinan menghambatnya dalam berkarya? Sebenarnya masih banyak sekali orang-orang yang dalam keterbatasan dana mampu menghasilkan karya-karya fenomenal. Mereka hanya memikirkan satu hal saja, bagaimana caranya mereka mengaktualisasikan diri mereka. Mereka mengeluarkan totalitas mereka dalam berkarya, terlepas begitu banyak keterbatasan dana, fasilitas, dan waktu. Mereka tidak bekerja asal-asalan, tetap memikirkan kepuasan hati mereka.

Oke, sepanjang itu, tapi apa korelasinya dalam kehidupan rohani? Bila anda benar-benar mencermati, saat ini kehidupan gereja banyak mengalami kesamaan hal dengan dunia kerja. Mari cermati dialog ini:
Pemuda Gereja: Daripada nganggur di hari Minggu, mendingan kamu ikut saya saja ke gereja.
Penganggur: Mau ngapain ke gereja?
Pemuda Gereja: Yaaaa, yang penting asal gereja aja.

Maka inilah yang terjadi: orang-orang asalan tadi akhirnya tidak maksimal beribadah, mereka menganggap ibadah adalah sebuah kegiatan di hari minggu. Sementara hari biasa bukanlah ibadah.
“Karena itu demi kemuliaan Allah aku menasehatkan kamu supaya kamu
mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang
berkenan kepada Allah. Itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Apakah Tuhan menerima ibadah yang asal-asalan? Selain itu, banyak gereja saat ini “asal”. Saya mencermati beberapa gereja mengalami kemunduran-kemunduran yang begitu nyata, kehilangan visi awal mereka. Mereka saat ini cenderung condong kepada melakukan rutinitas belaka. Pelayanan yang asal-asalan, pengajaran yang asal-asalan, ibadah yang asal-asalan, hanya untuk memuaskan ego, menenangkan diri dengan membayar kewajiban di hari Minggu setelah banyak berdosa seminggu penuh, bahkan ada pendeta asal-asalan(pasti biasanya awalnya: asal jadi pendeta daripada menganggur). Hanya menyampaikan sesuatu yang enak didengar telinga mereka(cari aman). Tidak lagi ada aktualisasi iman, ibadah hanya sekedar ada, tidak lebih tidak kurang. Visipun sudah tidak lagi jelas mau kemana, ingatlah Roh Tuhan undur dari kehidupan Imam Eli saat ia kehilangan penglihatannya(hilang visi), tidak ada kemajuan berarti(padahal katanya Tuhan adalah sumber segala pengetahuan dan kemajuan). Gereja hanya menjadi tempat komunikasi searah, tanpa bisa menerima feedback dari jemaatnya, pengajaran tanpa arah dan tujuan yang jelas. Akhirnya waktu ibadah di gereja hanya terasa sebagai sebuah proses membuang waktu yang sia-sia akibat pengajaran yang tak berdasar dan relevan dalam kehidupan sehari-hari(terlalu mengawang-awang). Minimnya dana dan fasilitas akhirnya menjadi kambing hitam, untuk apa ibadah “ngotot”? Toh fasilitas dan perpuluhan yang di dapat tidak memadai, padahal seharusnya kita total dalam beribadah tanpa peduli kekurangan kita. Ketika kritik datang, para pengurus membentengi diri mereka dengan “firman” taat pada otoritas. Ketaatan didendangkan bagai sebuah komoditas murahan, ketaatan pada apakah? Taat pada manusia? Taat kepada Tuhan? Atau taat pada manusia yang mengaku-aku dirinya adalah wakil Tuhan di dunia? Akhirnya seperti kasus dunia kerja diatas jemaat “terpaksa” beribadah menurut cara yang didendangkan sesuai keinginan "otoritas", karena tereliminasinya pilihan. Bukalah mata, bukalah telinga, waspadalah terhadap berbagai pengajaran. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik! Mengapa harus diuji? Karena kita tidak dapat menarik makna dari sebuah tanda. Makna bergantung pada konteks. Segala sesuatu yang tidak empiris* adalah sampah, dan untuk menentukan keempirisan sesuatu diperlukan pengujian. Dari apakah kita mengujinya? Buahnya! Kalau buahnya asal-asalan, dipastikan semuanya asal-asalan. Mudah bukan?

Demikianlah sedikit ulasan mengenai “asal kerja” dan korelasinya dalam dunia pergerejaan, ubahlah paradigma anda. Aktualisasikan diri anda, iman anda, totalitas dalam bekerja. Perlu diingat bahwa kerja adalah sebagian dari perwujudan iman anda. Hidup adalah ibadah, dinilai dari totalitas anda dalam menjalani semua aspek dalam kehidupan anda. Asal hidup tentunya menghasilkan hidup yang asal-asalan.

Resapi, renungkan dan praktekkan.

Karena perubahan memerlukan tindakan

Ciao

*empiris berarti suatu keadaan yang bergantung pada bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera.

Aku Masih Seperti Yang Dulu

“Congruence is the state achieved by coming together, the state of agreement. The Latin congruere means to come together, agree. As an abstract term, congruence means similarity between objects. Congruence, as opposed to equivalence or approximation, is a relation which implies a kind of equivalence, though not complete equivalence.”

“Gue ga mau idup gue gini-gini aja, gue ga suka idup yang statis. Gue suka idup yang dinamis.”
Oke, kita sangat familiar dengan kata-kata tersebut, hidup yang dinamis, penuh dengan warna, perubahan dan perkembangan. Coba tanyakan berapa banyak yang bisa mewujudkannya? Cobalah tengok ke belakang, ambillah waktu menengok kehidupan anda 5 tahun ke belakang. Apakah yang anda lihat? Berapa banyak perubahan yang telah andabuat untuk mencapai kondisi yang anda inginkan?

Kita mungkin sudah belajar bahwa segala sesuatu berasal dari mindset, yaitu pikiran, dari pikiran lahirlah kata-kata, dari kata-kata, lahirlah perbuatan, dari perbuatan lahirlah kebiasaan, dari kebiasaan lahirlah karakter, yang merupakan satu kesatuan identitas. Mengingat semua itu memang mudah sekali, hanya saja bukan menghafal yang perlu anda lakukan, anda harus mengerti. Karena mengerti lebih penting dari sekedar hafal.

Lalu mengapa setelah mengerti hal tersebut pun banyak orang yang hidupnya statis? Banyak dari mereka terus menerus mengharapkan hidup yang dinamis, sementara kenyataannya orang-orang di sekeliling dia melihat dirinya terus bernyanyi; “Aku masih seperti yang dulu.”(secara konotatif tentunya).
Bahkan ada orang yang terus menerus berkata “Iman tanpa perbuatan adalah mati.” Tapi tidak ada satupun yang baik keluar dari hidupnya. Ironis bukan? Hal ini dikarenakan mindset yang sudah dirubah tidak cukup untuk membuahkan perubahan. Begitu banyak training tentang pengembangan diri, buku-buku pengembangan diri dengan berbagai metode berserakan di took-toko buku, dari yang gratis sampai yang harus mengeluarkan kocek tidak sedikit. Banyak dari training, buku dan metode tersebut akhirnya hanya menghasilkan pecandu training( Saya akan menyebut mereka “trainingholics” mulai saat ini), yakni orang-orang yang sangat antusias mengikuti training, membaca buku pengembangan diri terus menerus hingga mencapai tahap kecanduan tapi tidak menghasilkan hal konkret apapun.

Semuanya karena mindset mereka berbeda dengan apa yang mereka perbuat. Sangat lucu bila anda melihat sebuah perencanaan tapi gagal, bahkan berantakan hingga mengalami kemunduran. Ini semua karena tidak kongruennya perencanaan dengan eksekusi. Apa itu Kongruen? Kongruen adalah sebuah keadaan yang dicapai dengan kesamaan. Kata Latin “congruere” berarti datang bersama, sepakat atau setuju. Dalam dunia abstrak kongruen berarti kesamaan sebah antar benda(sama besar, sama berat, sama ukuran). Jadi jangan heran apabila hidup anda tidak mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir, anda merasa berjalan di tempat meski sudah mengikuti bermacam-macam training dengan metode mutakhir dan membeli banyak buku. Semua karena mindset anda tidak kongruen dengan apa yang anda katakan, apa yang anda katakan tidak kongruen dengan apa yang anda perbuat, apa yang anda perbuat tidak kongruen dengan kebiasaan anda, kebiasaan anda tidak kongruen dengan karakter anda. Menurut saya, Integrated congruence adalah ketika mindset, kata-kata anda, perbuatan anda, kebiasaan anda, karakter anda, identitas anda berjalan sinkron, sama besar, sama berat, sama dimensi.
Karena eksekusi setara, sama pentingnya dengan mindset.

Resapi, renungkan dan praktekkan.
Karena perubahan memerlukan tindakan

Ciao

Fenomena Ban Serep

“Adalah sangat memuakkan saat seseorang hanya hadir disaat ia minta didengar, diperhatikan dan dihargai. Sementara dia tidak pernah mendengar, memperhatikan dan menghargai kita.” –K-ray Cahyadi-

Bayangkan bila anda adalah sebuah ban serep alias ban cadangan. Sebagian besar waktu anda dihabiskan di dalam gelap dan sumpeknya sebuah bagasi. Mungkin cukup beruntung bila anda adalah ban serep sebuah mobil jeep yang di gantung dengan gagahnya di pintu belakang. Atau mungkin akan sangat menyebalkan bila anda adalah ban serep sebuah mobil keluarga semacam Avanza atau Xenia, anda tergantung berdebu di bagian bawah, tidak jarang saat mobil terkena polisi tidur yang cukup tinggi, anda akan berbenturan dengan polisi tidur tersebut. Sering kita mengeluh saat membawa barang lebih di bagasi karena volume bagasi yang berkurang akibat keberadaan ban serep. Bahkan banyak orang yang hampir tidak pernah menggunakan ban serep sama sekali, sehingga pada saat harus menggunakannya, didapati ban serep tersebut karetnya menjadi terlalu kaku, getas, mudah rusak. Memang sebuah ban serep atau cadangan hanya difungsikan di saat-saat krusial, tidak ada perawatan dan perhatian khusus kepadanya.

Mungkin cukup aneh bagi anda, bahwa harus sedemikian panjang untuk saya menjelaskan apa yang dialami ban serep. Sebenarnya bila anda cermati di dalam kehidupan, ada banyak orang-orang yang anda perlakukan selayaknya ban serep. Anda hanya menghubunginya di saat genting, anda hanya datang padanya di saat kesusahan. Anda hanya butuh bantuannya, tidak perlu kondisi apa yang sebenarnya sedang ia hadapi.

Bila anda adalah seorang konselor dan konsultan tentunya anda akan sangat sering menjumpai tipe-tipe manusia seperti ini. Selalu datang di saat-saat sulit mereka, tentunya andapun tidak bisa mengeluh terlalu banyak karena ini adalah tuntutan dari pekerjaan anda(and of course you get a good payment). Namun lain ceritanya apabila anda mengalaminya dalam kehidupan sehari-hari anda. Seorang teman yang selalu mengusik hidup anda disaat dia membutuhkan pertolongan, dan segera menghilang pada saat dia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan dan anda melakukannya secara gratis atas nama persahabatan.

Dalam bidang pekerjaan sering kita temukan di kantor, para manusia tidak tahu diri yang membebani tugas pekerjaan mereka pada orang lain. Tanpa rasa berdosa menambahkan pekerjaan pada orang lain, padahal itu bukanlah tugas dari “ban serep” tersebut. Kadang dalam tahap keterlaluan, seorang “ban serep” yang tidak mendapatkan penanganan yang segera dapat melakukan hal nekat. Berapa banyak kasus penembakan di tempat kerja terjadi di Amerika Serikat?

Dalam bidang pendidikan, kita mengenal istilah bullying. Bila bullying jelas-jelas menyalahi aturan, ada sebuah bentuk pemanfaatan halus yang terjadi di sekolah. Anak-anak “sumber contekan dan PR” lah yang biasa menjadi “ban serep” disini. Mereka hanya dicontek PR dan test nya. Sementara tidak dianggap dalam pergaulan, malahan disebut kutu buku, orang aneh dan autis yang hanya main video game(padahal memang karena tidak ada seorangpun yang mau bergaul dengan mereka). Biasa di usia ini tindakan paling nekat adalah bunuh diri(seperti yang terjadi di Jepang) atau kasus penembakan (Amerika).

Atau bagaimana rasanya saat orang tua merasa dijadikan ban serep? Hanya dihubungi pada saat seorang anak membutuhkan kiriman uang, butuh nasehat, butuh didengar. Sementara pada saat senang, bahagia, tidak sekalipun diingat, diperhatikan? Bahkan dalam beberapa kasus, orang tua justru ditugaskan mengurus cucu karena dirinya begitu sibuk asyik dengan pekerjaan dan kegiatan? Orang tua anda BUKAN ban serep! Rasanya begitu pahit seorang anak yang dibesarkan dengan penuh kasih hanya meminta dan tidak pernah memberikan perhatian. Terlebih lagi justru semakin merepotkan ketika sudah berumahtangga dengan menugaskan orang tua mengurus cucunya.

Lain halnya dalam bidang hubungan percintaan. Ada beberapa orang yang mempraktekkan hal ini dalam kehidupan percintaan mereka. “Jaring Pengaman Kedua” demikian kadang pria/perempuan “ban serep” ini disebut. Selalu menyediakan waktunya, perasaannya, pikirannya bahkan harta mereka untuk orang yang mereka cintai tanpa menyadari bahwa sebenarnya mereka hanya sedang diperalat. Akhirnya banyak sekali kata “capek hati” yang keluar dari para “ban serep” ini, sementara dia disana tersenyum bahagia karena sudah mendapatkan semua yang mereka inginkan. Habis manis sepah dibuang demikianlah peribahasa yang sangat tepat untuk menggambarkan situasi ini. Secantik atau seganteng apapun orang itu, tinggalkan saja. Karena diluar sana orang yang tepat sedang menunggu anda.

Semua hal yang dialami hasilnya begitu banyak trauma dan sindrom yang sulit diobati. Setiap pengobatan perlu berjam-jam terapi dan rekonsiliasi. Luar biasa bukan? Sebuah kata sepele bernama “egois” bisa melahirkan begitu banyak masalah yang kompleks. Cobalah refleksikan berapa banyak ban serep sudah anda sakiti karena keegoisan anda? Selalu meminta waktu untuk didengarkan, selalu meminta pertolongan, selalu ingin diperhatikan, selalu ingin dinomorsatukan. Apakah yang anda sudah lakukan untuk para ban serep ini? Sadar dirilah bahwa anda adalah seorang yang egois, suatu hari anda akan diperlakukan rekan kerja, sahabat, kekasih, bahkan oleh anak anda sebagaimana anda sudah berbuat demikian. Siapa menabur, dia menuai. Sebagai penutup, sebuah saran, nasehat bagi para ban serep di luar sana adalah: Adalah lebih baik menikmati hidup anda tanpa memusingkan otak anda dengan memikirkan masalah orang-orang yang tidak tahu diri. Tidak baik mempersulit diri kita dengan masalah orang lain, beranilah berkata “TIDAK!” untuk kebaikan anda sendiri.

Resapi, renungkan dan praktekkan.
Karena perubahan memerlukan tindakan
Ciao

Thursday, January 28, 2010

Loving

Most people say like this:
"I love you because I need you."
But my God says this all the time:
"I need you because I love you."
He really needs me, because He really loves me.
-K-ray Cahyadi-

So if we believe that we shared the same image as our God, we should be able to love with sincere heart. We can also need others because we love them, not because ulterior motives, interests or hidden agendas. Most people need a reason to love, and somehow when the reason fades away so does the feeling. We all should know that:

We fall in love by chance.
Love come into our life without notice, we always wonder why suddenly such feeling can struck our heart. It changed how we see things in our life, everything look so bright and interesting. We never know what the correct answer why we love him/her. We just know that we love him/her no matter how jerk or tricky he/she is.

We stay in love by works.
Only works can make us stay in love. Compromise, adaptation, tolerance, taking, giving, loyalty, commitment, responsibility, respect, forgiving and selfless. Most people fail because of their ego, always took for granted of everything, judging, never accept partner's opinion, being a jerk, betrayal. Loving actually is the biggest lesson in human's life. You stop learning when you stop loving.

We out of love by choice.
It's your choice to accept arduous and harsh treatment from your partner.
It's your choice to hurt your partner.
It's your choice to betray him/ her.
It's your choice to stop paying attention.
It's your choice being selfish.
It's your choice cheating behind his/her back.
Remember, every choice has consequences, choose wisely, calculate the result.
Each choice draws unimaginable consequences, either it's good or bad.

To fear love is to fear life, and those who fear life are already three parts dead.
Every end gives new strength and spirit.
As for me, the words: "Live Hapily Ever After" is not a destination. But a journey that needs a lot of efforts. Finding the one is not a goal, actually beginning of a new chapter. A chapter of adaptation, understanding, taking and giving. Most people disappointed in the end because ruled by their ego, always take but never give. No tolerance and compromise take you nowhere, just another break up.
Big God bless you