Community: In biological terms, a community is a group of interacting organisms(or different species) sharing an environment. In human communities, intent, belief, resources, preferences, needs, risks, and a number of other conditions may be present and common, affecting the identity of the participants and their degree of cohesiveness.
Terjemahannya kurang lebih seperti ini: Menurut istilah biologi, komunitas adalah sekumpulan organisme(atau spesies berbeda) yang saling berinteraksi dan berbagi lingkungan. Di dalam komunitas manusia, tujuan, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, resiko, dan banyak kondisi lain yang sama mempengaruhi identitas anggota dan tingkat kohesifitas(ketertarikan/kebersamaan).
Manusia adaah makhluk individu sekaligus makhluk sosial, tentunya dalam identitasnya sebagai makhluk social selalu hidup di dalam sebuah kelompok. Insting ini sudah ada semenjak jaman prasejarah, dimana manusia berburu dan bekerja di dalam kelompok-kelompok. Karena manusia tidak dapat sendirian menghadapi hidup, kerasnya alam, sulitnya melakukan semua hal sendirian, tidak dimungkinkannya memenuhi semua kebutuhan sendirian maka mereka bersatu membentuk kelompok. Yang tentunya memiliki tujuan, kepentingan yang sama sebagai dasar pemersatu mereka.
Oke, tentunya kita mengerti ketika dua individu atau lebih bertemu pastilah ada namanya gesekan-gesekan. Sama seperti piston yang baru saja dipasang ke dalam ruang bakar, pastilah ada namanya gesekan-gesekan untuk penyesuaian demi mulusnya kinerja pembakaran mesin. Gesekan ini berupa konflik, sumbernya adalah entah perbedaan kepentingan, belief, prinsip, value(nilai dan norma), cara berpikir, kebutuhan, dan masih banyak lagi sumber konflik dari yang sepele seperti gurauan yang tidak tepat waktu dan tempat sampai yang berat.
Konflik di dalam komunitas PASTI ada! Bila ada komunitas tanpa konflik, pastilah komunitas tersebut penuh dengan basa basi palsu. Konflik dapat mempererat sebuah komunitas, atau bahkan menghancurkannya. Hancur atau makin kuatnya sebuah komunitas tergantung dari cara menyikapi konflik yang terjadi. Cara menanggapi konflik secara positif adalah dengan berbicara pada penengah yang tepat dan tidak memihak dengan tujuan utama mencari solusi terbaik dan menyelesaikan pertikaian yang ada. Namun yang kerap terjadi adalah yang negatif, yaitu dengan menunda penyelesaian konflik, mencari massa, mencari pembenaran diri sendiri, memutar balikan fakta, membesar-besarkan sesuatu, berbicara pada orang-orang yang tidak tepat, inilah yang justru sering terjadi.
“Besi menajamkan besi, manusia menajamkan manusia.” Benarkah demikian? Bagaimana rasanya ketika anda berada di pihak yang diperlakukan tidak adil di dalam sebuah penanganan konflik secara negative oleh pihak yang sedang berseteru dengan anda? Nikmat bukan? Oh tidak, sangat luar biasa nikmat bukan? Ayat tersebut sering sekali dipakai oleh orang-orang tertentu sebagai pembenaran akan kesalahan yang mereka perbuat di dalam penanganan konflik yang negatif. Mereka yang sudah memperlakukan anda secara tidak adil berkata: “Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.” Seolah adalah tugas mulia mereka untuk memperlakukan anda secara tidak adil dengan dalih pembenaran demi “menajamkan” anda. Apakah hal tersebut dapat dibenarkan? Apakah anda dibenarkan memperlakukan sesama anda secara tidak adil dengan dalih ingin menajamkannya? Jangan suka bermain-main dengan ayat, ayat yang dipermainkan akan terdengar murahan seperti tukang obat pinggir jalan yang keampuhan dan kemujaraban obatnya diragukan secara klinis.
Ayat tersebut lebih cocok dipakai dan diperkatakan oleh orang yang sedang ditajamkan untuk menguatkan dirinya. Jangan pernah berkata besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya saat anda menyakiti orang lain. Jangan pernah berkata besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya saat anda bersekongkol menjatuhkan seseorang. Jangan pernah berkata besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya saat anda menusuk teman, sahabat, saudara anda dari belakang. Karena yang terjadi adalah Homo homini lupus! Homo homini lupus(by Plautus)-"man is a wolf to [his fellow] man." Dapat diartikan sebagai: seorang manusia adalah seekor serigala bagi manusia lainnya. Ketika anda menyakiti, berkhianat, berbuat tidak adil, menjatuhkan orang lain, bersaksi dusta tentang orang lain sebenarnya anda sedang menjadi seekor serigala bagi manusia lain! Jadi BUKAN besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya! Dalam hal ini anda bukanlah besi! Anda hanyalah ampelas! Ya! Ampelas! Ampelas yang sudah PASTI dibuang karena sang besi sudah menjadi halus dan kuat. Jangan suka seenaknya berlindung dibalik ayat saat anda berbuat dosa! Konsekuensi lebih besar akan menanti anda! Anda bisa pasang senyuman, anda bisa pakai jubah putih, anda bisa tetap melayani, tapi Tuhan tahu apa yang ada di dalam hati anda!
Besi menajamkan besi adalah ketika dua atau lebih individu saling menajamkan, kata menajamkan disini tentunya memiliki tujuan yang positif, saling membangun, saling mengingatkan, saling menuntun. Terdapat hubungan resiprok bukan searah, ada aksi reaksi yang positif. Kata menajamkan memiliki tujuan yang positif. Jadi ketika anda menjadi ampelas, anda tidak mendapatkan benefit apa-apa, anda menajamkan orang lain sementara anda sendiri tidak ikut di dalam tujuan menjadi lebih kuat, lebih baik, lebih dewasa.
Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya. Perkatakanlah itu saat anda lemah, tidak berdaya, diperlakukan tidak adil, menjadi korban fitnah, “Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.” Mintalah hati yang baru kepada Tuhan maka anda akan merasakan nikmatnya, kekuatan yang baru, iman yang baru, harapan yang baru, kasih yang baru dalam hidup berkomunitas. Anda akan mampu berkata, “Aku masih berdiri, karena anugerah Tuhan!”
Ketika itu anda akan menyadari, anda menjadi lebih kuat, lebih dewasa, lebih berhikmat, lebih berpengetahuan, lebih berpengertian. Hanya dengan rasa syukur anda bisa keluar dari kekecewaan. Saat anda diperlakukan tidak adil ketahuilah, anda sedang ditajamkan. Perlu diketahui bahwa saat anda ditajamkan ada yang terkikis, pastikanlah yang terikikis adalah sifat buruk anda, kelemahan anda dan bukan semangat anda, tekad anda, iman anda. Anda akan menjadi manusia yang baru.
Komunitas yang baik, adalah saat sesama anggotanya saling menajamkan, bukan menjadi ampelas. Konflik ada untuk mendewasakan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Bukan hanya sebagian pihak saja. Komunitas yang baik mendorong anda sampai maksimal. Komunitas palsu, penuh basa-basi yang membuat anda terlena, serba tidak enak, membuat anda terpaksa memakai topeng. Komunitas palsu TIDAK akan pernah bisa membuat anda memacu diri anda mengeluarkan semua potensi anda. Pastikan anda adalah besinya, bukan ampelas. Bila anda sadari anda adalah ampelasnya cepatlah sadar sebelum menerima konsekuensi lebih lanjut dari perbuatan anda.
Resapi, renungkan dan praktekkan.
Karena perubahan memerlukan tindakan
Ciao
Sunday, March 21, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment