Showing posts with label Religious. Show all posts
Showing posts with label Religious. Show all posts

Sunday, March 21, 2010

Homo Homini Lupus

Community: In biological terms, a community is a group of interacting organisms(or different species) sharing an environment. In human communities, intent, belief, resources, preferences, needs, risks, and a number of other conditions may be present and common, affecting the identity of the participants and their degree of cohesiveness.
Terjemahannya kurang lebih seperti ini: Menurut istilah biologi, komunitas adalah sekumpulan organisme(atau spesies berbeda) yang saling berinteraksi dan berbagi lingkungan. Di dalam komunitas manusia, tujuan, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, resiko, dan banyak kondisi lain yang sama mempengaruhi identitas anggota dan tingkat kohesifitas(ketertarikan/kebersamaan).

Manusia adaah makhluk individu sekaligus makhluk sosial, tentunya dalam identitasnya sebagai makhluk social selalu hidup di dalam sebuah kelompok. Insting ini sudah ada semenjak jaman prasejarah, dimana manusia berburu dan bekerja di dalam kelompok-kelompok. Karena manusia tidak dapat sendirian menghadapi hidup, kerasnya alam, sulitnya melakukan semua hal sendirian, tidak dimungkinkannya memenuhi semua kebutuhan sendirian maka mereka bersatu membentuk kelompok. Yang tentunya memiliki tujuan, kepentingan yang sama sebagai dasar pemersatu mereka.

Oke, tentunya kita mengerti ketika dua individu atau lebih bertemu pastilah ada namanya gesekan-gesekan. Sama seperti piston yang baru saja dipasang ke dalam ruang bakar, pastilah ada namanya gesekan-gesekan untuk penyesuaian demi mulusnya kinerja pembakaran mesin. Gesekan ini berupa konflik, sumbernya adalah entah perbedaan kepentingan, belief, prinsip, value(nilai dan norma), cara berpikir, kebutuhan, dan masih banyak lagi sumber konflik dari yang sepele seperti gurauan yang tidak tepat waktu dan tempat sampai yang berat.

Konflik di dalam komunitas PASTI ada! Bila ada komunitas tanpa konflik, pastilah komunitas tersebut penuh dengan basa basi palsu. Konflik dapat mempererat sebuah komunitas, atau bahkan menghancurkannya. Hancur atau makin kuatnya sebuah komunitas tergantung dari cara menyikapi konflik yang terjadi. Cara menanggapi konflik secara positif adalah dengan berbicara pada penengah yang tepat dan tidak memihak dengan tujuan utama mencari solusi terbaik dan menyelesaikan pertikaian yang ada. Namun yang kerap terjadi adalah yang negatif, yaitu dengan menunda penyelesaian konflik, mencari massa, mencari pembenaran diri sendiri, memutar balikan fakta, membesar-besarkan sesuatu, berbicara pada orang-orang yang tidak tepat, inilah yang justru sering terjadi.

“Besi menajamkan besi, manusia menajamkan manusia.” Benarkah demikian? Bagaimana rasanya ketika anda berada di pihak yang diperlakukan tidak adil di dalam sebuah penanganan konflik secara negative oleh pihak yang sedang berseteru dengan anda? Nikmat bukan? Oh tidak, sangat luar biasa nikmat bukan? Ayat tersebut sering sekali dipakai oleh orang-orang tertentu sebagai pembenaran akan kesalahan yang mereka perbuat di dalam penanganan konflik yang negatif. Mereka yang sudah memperlakukan anda secara tidak adil berkata: “Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.” Seolah adalah tugas mulia mereka untuk memperlakukan anda secara tidak adil dengan dalih pembenaran demi “menajamkan” anda. Apakah hal tersebut dapat dibenarkan? Apakah anda dibenarkan memperlakukan sesama anda secara tidak adil dengan dalih ingin menajamkannya? Jangan suka bermain-main dengan ayat, ayat yang dipermainkan akan terdengar murahan seperti tukang obat pinggir jalan yang keampuhan dan kemujaraban obatnya diragukan secara klinis.

Ayat tersebut lebih cocok dipakai dan diperkatakan oleh orang yang sedang ditajamkan untuk menguatkan dirinya. Jangan pernah berkata besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya saat anda menyakiti orang lain. Jangan pernah berkata besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya saat anda bersekongkol menjatuhkan seseorang. Jangan pernah berkata besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya saat anda menusuk teman, sahabat, saudara anda dari belakang. Karena yang terjadi adalah Homo homini lupus! Homo homini lupus(by Plautus)-"man is a wolf to [his fellow] man." Dapat diartikan sebagai: seorang manusia adalah seekor serigala bagi manusia lainnya. Ketika anda menyakiti, berkhianat, berbuat tidak adil, menjatuhkan orang lain, bersaksi dusta tentang orang lain sebenarnya anda sedang menjadi seekor serigala bagi manusia lain! Jadi BUKAN besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya! Dalam hal ini anda bukanlah besi! Anda hanyalah ampelas! Ya! Ampelas! Ampelas yang sudah PASTI dibuang karena sang besi sudah menjadi halus dan kuat. Jangan suka seenaknya berlindung dibalik ayat saat anda berbuat dosa! Konsekuensi lebih besar akan menanti anda! Anda bisa pasang senyuman, anda bisa pakai jubah putih, anda bisa tetap melayani, tapi Tuhan tahu apa yang ada di dalam hati anda!

Besi menajamkan besi adalah ketika dua atau lebih individu saling menajamkan, kata menajamkan disini tentunya memiliki tujuan yang positif, saling membangun, saling mengingatkan, saling menuntun. Terdapat hubungan resiprok bukan searah, ada aksi reaksi yang positif. Kata menajamkan memiliki tujuan yang positif. Jadi ketika anda menjadi ampelas, anda tidak mendapatkan benefit apa-apa, anda menajamkan orang lain sementara anda sendiri tidak ikut di dalam tujuan menjadi lebih kuat, lebih baik, lebih dewasa.

Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya. Perkatakanlah itu saat anda lemah, tidak berdaya, diperlakukan tidak adil, menjadi korban fitnah, “Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.” Mintalah hati yang baru kepada Tuhan maka anda akan merasakan nikmatnya, kekuatan yang baru, iman yang baru, harapan yang baru, kasih yang baru dalam hidup berkomunitas. Anda akan mampu berkata, “Aku masih berdiri, karena anugerah Tuhan!”
Ketika itu anda akan menyadari, anda menjadi lebih kuat, lebih dewasa, lebih berhikmat, lebih berpengetahuan, lebih berpengertian. Hanya dengan rasa syukur anda bisa keluar dari kekecewaan. Saat anda diperlakukan tidak adil ketahuilah, anda sedang ditajamkan. Perlu diketahui bahwa saat anda ditajamkan ada yang terkikis, pastikanlah yang terikikis adalah sifat buruk anda, kelemahan anda dan bukan semangat anda, tekad anda, iman anda. Anda akan menjadi manusia yang baru.

Komunitas yang baik, adalah saat sesama anggotanya saling menajamkan, bukan menjadi ampelas. Konflik ada untuk mendewasakan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Bukan hanya sebagian pihak saja. Komunitas yang baik mendorong anda sampai maksimal. Komunitas palsu, penuh basa-basi yang membuat anda terlena, serba tidak enak, membuat anda terpaksa memakai topeng. Komunitas palsu TIDAK akan pernah bisa membuat anda memacu diri anda mengeluarkan semua potensi anda. Pastikan anda adalah besinya, bukan ampelas. Bila anda sadari anda adalah ampelasnya cepatlah sadar sebelum menerima konsekuensi lebih lanjut dari perbuatan anda.

Resapi, renungkan dan praktekkan.

Karena perubahan memerlukan tindakan

Ciao

Wednesday, February 10, 2010

Alone

Semua sulit, gagal berkali-kali, rasanya semua gambaran menjadi buram, target-target tidak tercapai, semua rancangan jadi kacau. Sebagai konselor, kita dapati tidak ada yang bisa diajak berbagi, karena semua orang selalu mempercayakan masalah mereka pada kita. Kita selalu menjadi pendengar setia, dan memegang rahasia dari banyak orang. Rasanya sangat aneh bagi kita para konselor, untuk membagikan masalah kita pada orang lain. Kita menjadi takut gambaran diri kita menjadi orang yang bisa diandalkan oleh sesama selama ini menjadi rusak. Kita diuji dengan semua perkataan kita sendiri yang sudah menguatkan orang lain. Masalah-masalah tak terduga muncul beruntun, dan kita berdiri sendirian karena di mata kita tidak ada orang yang cukup bijaksana untuk berbagi.

Tender pekerjaan yang feenya tidak sebanding dengan apa yang kita perhitungkan. Uang kita yang tidak jelas lari kemana oleh rekan bisnis. Stok barang menumpuk yang tak kunjung laku karena cacat produksi. Atasan bermasalah mencuri database klien kita. Teman puluhan tahun yang menusuk dari belakang karena uang yang jumlahnya tidak besar. Keseriusan yang berbuah kegagalan. Orang-orang dari masa lalu yang terus merongrong keuangan kita. Gaji yang tidak kunjung naik. Saudara-saudara yang terus menekan kita. Kita tidak tahu kemana anda harus mengadu, karena kita sudah terlanjur menjadi tempat bersandar bagi orang lain. Kita terlalu gengsi untuk membuka dan membiarkan orang lain melihat gejolak yang terjadi di dalam diri kita. Kita dituntut untuk selalu tersenyum, karena beban moral sebagai seorang konselor. Saat orang lain datang dengan masalah mereka, kita dituntut tetap berkepala dingin mencari solusi untuk mereka.

Lalu ada terngiang di dalam diri anda, “you are born to win” anda dilahirkan untuk menjadi pemenang. Anda mulai meragukannya. Benarkah seperti itu? Kenyataan bahwa anda saat ini lemah dan tidak berdaya, mulai membantah semua konsep tentang “menjadi pemenang” atas segala perkara dan masalah anda. Selama ini anda membantu orang lain tanpa mengharapkan suatu imbalan apapun dari orang itu. Anda sudah dengan baik memerankan peran anda sebagai penghibur di saat kesusahan. Dengan segala kesabaran dan toleransi anda mau mengerti masalah orang lain walau kadang orang lain akhirnya menjadi orang yang mengkhianati anda. Apakah Tuhan memberikan janji-Nya dengan sembarangan? TIDAK! Sama sekali TIDAK!

Lalu kenapa semua harus terjadi? Kenapa kita dengan mudahnya menyelesaikan masalah orang lain? Kita bertanya-tanya kenapa semua ini harus terjadi. Apalagi terjadi begitu cepat beruntun dan sangat menyita energi. Akhirnya, jawabannya adalah berpikirlah positif. Ya! Semudah itu, seperti pada saat anda menjawab semua masalah orang lain. Anda harus mengerti satu hal, seorang pemenang tidak dapat dikatakan sebagai pemenang tanpa ujian. Kita bahkan harus terus menguji diri kita. Ujilah hati anda, ujilah pikiran anda, ujilah prinsip anda. Segala ujian baik adanya!
1 Korintus 11:31 Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita.

Jangan sampai ada motivasi yang salah dalam hidup kita. Karena Tuhan melihat HATI anda, percayalah bahwa TIDAK ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Anda bisa berbohong pada siapapun, tetapi anda tidak akan pernah bisa berbohong pada diri sendiri dan pada Tuhan! Jagalah hati anda dengan segala kewaspadaan! Karena Tuhan mencatat segalanya!
Yakobus 3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.

Mengapa semuanya terlihat mudah saat anda menyelesaikan masalah orang lain? Because there’s a big difference between knowing the way and walking in it. Hanya tahu TIDAK cukup! Dasar semuanya adalah kasih, tapi kasih yang berupa kata-kata adalah sia-sia. Kalau selama ini kita merasa puas dengan menjadi konselor yang baik dan bijak itu tidak ada gunanya. Karena perbuatan memberi dampak lebih dari sekedar perkataan. Kita para konselor terlahir untuk memberi impact yang besar!
1 yohanes 3:18 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

Bila anda selama ini dengan mudahnya berkata-kata, cobalah sedikit menilik dan jujur terhadap diri sendiri. Apakah anda sudah melakukan apa yang anda katakan? Apakah anda benar-benar berjalan dalam prinsip anda? Segala pertandingan dan masalah pada awalnya adalah untuk mengukur seberapa besar tingkat integritas anda. What is integrity? Integritas adalah saat anda melakukan apa yang anda katakan. Pikiran sejalan dengan perkataan, dan perkataan sejalan dengan perbuatan. Itulah integritas!
Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Seorang dinilai bukan dari kata-kata, tidak dinilai dari jabatannya dalam gereja, bukan dari seberapa besar pelayanannya dalam gereja. Tuhan punya standar sendiri yang mungkin sulit dimengerti oleh kita sebagai manusia. Dia menilai kita dari hati, juga Tuhan menilai kita dari buah yang kita hasilkan.
Matius 7:18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.

Jangan pernah puas bila anda sudah bisa membangun orang lain, karena bukan anda yang membangun mereka. Tuhan membangun anda dengan cara-Nya sendiri, Dia memberi masalah untuk anda supaya makin nyata karya-Nya di dalam kita. Dia ingin kita menjadi 100% Firman yang menjadi daging. Satu hal yang perlu anda ingat, bila anda terus memaksa untuk berdiri sendiri dengan segala keterbatasan anda, dapat dipastikan anda tidak akan dapat bertahan dan menjadi hancur. Jadilah pelaku Firman, bukan hanya memperkatakannya saja.
Matius 7:24-25 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”

Keuntungan dari masalah, inilah kata-kata yang sering kita ucapkan pada pasien kita saat kita menjadi konselor mereka: “Ambil saja himahnya. Mungkin Tuhan punya maksud baik dalam hidup anda.”
Tuhan PASTI(bukan mungkin) selalu punya maksud yang indah pada waktunya (Pengkhotbah 3:11) di dalam setiap masalah, selama masalah itu bukan dari buah perbuatan dosa anda. Sekalipun masalah itu adalah buah dari dosa anda, Tuhan akan menyelesaikannya bila anda sungguh-sungguh berserah dan bertobat. Hanya saja jangan pernah memaksakan penyelesaian yang anda inginkan terjadi, karena konsekuensi dosa kadang tetap tidak bisa dihindari. Karena Tuhan BUKAN manusia(jalan Ku bukan jalanmu, rancanganKu bukan rancanganmu). Setiap masalah akan membawa kita terbang semakin tinggi, tergantung kita meresponnya, tergantung dari apakah mental dan karakter kita dibuat. Tergantung seperti apa kita sudah melatih dan membangun karakter kita! Anda lebih dari pemenang, anda diciptakan untuk mengalahkan permainan. Jangan biarkan anda dipermainkan dengan perasaan anda(kita ingat banyak sekali pasien kita yang sulit diajak bicara ketika emosi sudah menguasai pikiran logis mereka). Karena pikiran kita adalah pertempuran, kita harus senantiasa menjaga pikiran kita dengan Firman Tuhan.

Anda harus tetap bergantung pada Tuhan, karena anda ada dari Dia, anda ada oleh Dia, dan anda ada untuk Dia. Anda tidak berhak protes atas masalah yang anda hadapi. Anda harus berserah pada Tuhan. Manusia hanya akan mengecewakan anda. Banyak sekali kasus dimana seorang konselor dicibir saat mereka mulai terbuka akan masalah mereka. Mereka dicap lemah, akhirnya konselor itu kehilangan urapan karena ragu apakah penyertaan Tuhan masih ada di dalam hidupnya. Mengapa demikian? Karena mereka mulai berharap pada manusia. Baiklah kita berharap hanya pada Tuhan, biarlah Dia yang tunjukkan siapa orang yang memang bisa dipercaya menjadi orang yang menjadi penyambung suara Tuhan di dalam pergumulan anda. Karena berbicara pada orang yang salah, justru akan memperkeruh masalah. Ketahuilah anda tidak sendirian, karena Tuhan bersama anda. So when you are alone and feel no one with you, ga ada yang bantu masalah. Cek hati, jaga pikiran, introspeksi apakah anda sudah menjalankan semua yang anda katakan? Atau itu hanya sebuah omong kosong yang keluar dari mulut anda.

God bless you.


Untuk para pelacur(pelayan curhat) diluar sana, yang selalu mentok ga tau mau lari kemana pas ada masalah. Karena selalu dicibir lemah dan bodoh saat masalah susah untuk diselesaikan.

Asal Kerja=Kerja Asal-asalan

“Asal kerja sering kali menjadi sebuah alasan tepat untuk mengakhiri keadaan menganggur. Tanpa disadari hal tersebut telah mempengaruhi etos kerja subjek menjadi kerja asal-asalan. Hasil kerja yang hanya menjadi cemoohan karena tidak adanya totalitas dalam berkarya.”- K-ray Cahyadi

Sering kali terdengar seperti ini: Seseorang bekerja di kota besar lalu pulang ke kampung, mendapati sanak saudara atau temannya menganggur di kampung. Lalu terjadi sebuah percakapan seperti ini:
Pemudik: “Mendingan kamu ikut aku kerja ke Jakarta daripada menganggur seperti ini.”
Penganggur: “Kerja apa disana?”
Pemudik: “Ya sudah asal kerja saja, toh daripada menganggur.”

Dari input tenaga kerja seperti itu, terdapat dua macam hasil output yang mudah sekali dijumpai di kota-kota besar semacam Jakarta. Jenis pertama adalah mereka yang berhasil beradaptasi, membangun kemandirian, berjuang dengan gigih tanpa kenal lelah, akhirnya berhasil memetik kerja keras mereka. Sedangkan output kedua adalah para pelengkap derita, yaitu mereka yang tidak mampu beradaptasi, gagal, akhirnya mimpi mereka membentur karang realita. Para pelengkap penderita ini merasa malu untuk pulang kampung karena mereka menganggap diri mereka sebagai pecundang kehidupan. Tidak sedikit dari mereka pada akhirnya menjadi pelaku kriminal bermacam-macam tindak kejahatan. Berdasar statistik, bila kita membandingkan jumlah populasi golongan yang berhasil dengan para pelengkap derita ini jumlahnya sangat kontras dan signifikan. Para pelengkap derita lebih banyak dibandingkan mereka yang berhasil bertahan/sukses.

Sempit/tidak adanya lapangan pekerjaan selalu menjadi kambing hitam akan keadaan seperti ini, namun benarkah demikian? Benarkah sempitnya lapangan pekerjaan selalu menjadi satu-satunya faktor utama, dan apakah pemerintah selalu menjadi pihak yang bertanggungjawab dalam keadaan jumlah pengangguran yang kronis di kota besar atau bahkan dalam tingkat yang lebih tinggi, skala nasional?
Jauh sebelum proses adaptasi dimulai sebenarnya dorongan mencari kerja saja sudah perlu dipertanyakan, “asal kerja” merupakan sebuah dorongan yang sangat bertanggungjawab pada fenomena ini. Ketika mendengar “asal kerja” secara tidak sadar penganggur tersebut sudah menganggap bahwa dirinya tidak memiliki pilihan, tentunya “bargain position” sudah tereliminasi secara otomatis. Padahal seharusnya tidak ada pilihan justru bisa membuat seseorang focus dan menghasilkan hal yang besar, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Seperti kasus-kasus klasik, orang-orang yang tidak memiliki pilihan akan melakukan segala sesuatu yang mereka kerjakan dengan terpaksa. Tidak ada lagi kenikmatan dalam segala hal yang mereka kerjakan. Bila bekerja tanpa cinta, maka hasilnya tidak akan pernah maksimal. Jangan pernah berharap hasil kerja dari orang yang “asal kerja” menjadi maksimal sesuai dengan keinginan anda, karena secara mindset pun mereka sudah berbeda dari anda.

Bekerja haruslah dengan cinta, dengan penuh semangat, karena bekerja adalah salah satu aktualisasi diri yang esensial. Bekerja mengaktualisasikan diri bukanlah monopoli dari mereka, orang-orang di puncak piramida Maslow yang sudah terpenuhi kebutuhan material, keamanan, pengakuannya. Kebutuhan aktualisasi diri adalah hak semua orang. Banyak orang salah kaprah menyatakan bahwa aktualisasi diri hanya bisa dicapai saat semua kebutuhan lain yang lebih mendasar(materi, keamanan, keamanan) sudah tercukupi. Sebenarnya saat anda mampu mengaktualisasikan diri anda dalam pekerjaan anda, secara otomatis anda pada akhirnya mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lain. Bayangkanlah, anda adalah Mozart, ia dikenal hidup dalam kemiskinan. Cobalah tanyakan, apakah kemiskinan menghambatnya dalam berkarya? Sebenarnya masih banyak sekali orang-orang yang dalam keterbatasan dana mampu menghasilkan karya-karya fenomenal. Mereka hanya memikirkan satu hal saja, bagaimana caranya mereka mengaktualisasikan diri mereka. Mereka mengeluarkan totalitas mereka dalam berkarya, terlepas begitu banyak keterbatasan dana, fasilitas, dan waktu. Mereka tidak bekerja asal-asalan, tetap memikirkan kepuasan hati mereka.

Oke, sepanjang itu, tapi apa korelasinya dalam kehidupan rohani? Bila anda benar-benar mencermati, saat ini kehidupan gereja banyak mengalami kesamaan hal dengan dunia kerja. Mari cermati dialog ini:
Pemuda Gereja: Daripada nganggur di hari Minggu, mendingan kamu ikut saya saja ke gereja.
Penganggur: Mau ngapain ke gereja?
Pemuda Gereja: Yaaaa, yang penting asal gereja aja.

Maka inilah yang terjadi: orang-orang asalan tadi akhirnya tidak maksimal beribadah, mereka menganggap ibadah adalah sebuah kegiatan di hari minggu. Sementara hari biasa bukanlah ibadah.
“Karena itu demi kemuliaan Allah aku menasehatkan kamu supaya kamu
mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang
berkenan kepada Allah. Itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Apakah Tuhan menerima ibadah yang asal-asalan? Selain itu, banyak gereja saat ini “asal”. Saya mencermati beberapa gereja mengalami kemunduran-kemunduran yang begitu nyata, kehilangan visi awal mereka. Mereka saat ini cenderung condong kepada melakukan rutinitas belaka. Pelayanan yang asal-asalan, pengajaran yang asal-asalan, ibadah yang asal-asalan, hanya untuk memuaskan ego, menenangkan diri dengan membayar kewajiban di hari Minggu setelah banyak berdosa seminggu penuh, bahkan ada pendeta asal-asalan(pasti biasanya awalnya: asal jadi pendeta daripada menganggur). Hanya menyampaikan sesuatu yang enak didengar telinga mereka(cari aman). Tidak lagi ada aktualisasi iman, ibadah hanya sekedar ada, tidak lebih tidak kurang. Visipun sudah tidak lagi jelas mau kemana, ingatlah Roh Tuhan undur dari kehidupan Imam Eli saat ia kehilangan penglihatannya(hilang visi), tidak ada kemajuan berarti(padahal katanya Tuhan adalah sumber segala pengetahuan dan kemajuan). Gereja hanya menjadi tempat komunikasi searah, tanpa bisa menerima feedback dari jemaatnya, pengajaran tanpa arah dan tujuan yang jelas. Akhirnya waktu ibadah di gereja hanya terasa sebagai sebuah proses membuang waktu yang sia-sia akibat pengajaran yang tak berdasar dan relevan dalam kehidupan sehari-hari(terlalu mengawang-awang). Minimnya dana dan fasilitas akhirnya menjadi kambing hitam, untuk apa ibadah “ngotot”? Toh fasilitas dan perpuluhan yang di dapat tidak memadai, padahal seharusnya kita total dalam beribadah tanpa peduli kekurangan kita. Ketika kritik datang, para pengurus membentengi diri mereka dengan “firman” taat pada otoritas. Ketaatan didendangkan bagai sebuah komoditas murahan, ketaatan pada apakah? Taat pada manusia? Taat kepada Tuhan? Atau taat pada manusia yang mengaku-aku dirinya adalah wakil Tuhan di dunia? Akhirnya seperti kasus dunia kerja diatas jemaat “terpaksa” beribadah menurut cara yang didendangkan sesuai keinginan "otoritas", karena tereliminasinya pilihan. Bukalah mata, bukalah telinga, waspadalah terhadap berbagai pengajaran. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik! Mengapa harus diuji? Karena kita tidak dapat menarik makna dari sebuah tanda. Makna bergantung pada konteks. Segala sesuatu yang tidak empiris* adalah sampah, dan untuk menentukan keempirisan sesuatu diperlukan pengujian. Dari apakah kita mengujinya? Buahnya! Kalau buahnya asal-asalan, dipastikan semuanya asal-asalan. Mudah bukan?

Demikianlah sedikit ulasan mengenai “asal kerja” dan korelasinya dalam dunia pergerejaan, ubahlah paradigma anda. Aktualisasikan diri anda, iman anda, totalitas dalam bekerja. Perlu diingat bahwa kerja adalah sebagian dari perwujudan iman anda. Hidup adalah ibadah, dinilai dari totalitas anda dalam menjalani semua aspek dalam kehidupan anda. Asal hidup tentunya menghasilkan hidup yang asal-asalan.

Resapi, renungkan dan praktekkan.

Karena perubahan memerlukan tindakan

Ciao

*empiris berarti suatu keadaan yang bergantung pada bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera.

Friday, November 13, 2009

Unconditional Love

Most people say like this:
"I love you because I need you."

But my God says this all the time:
"I need you because I love you."
He really needs me, because He really loves me.

So if we believe that we shared the same image as our God, we should be able to love with sincere heart.
We can also need others because we love them, not because ulterior motives and interest.

-K-ray Cahyadi-

Sunday, October 25, 2009

Not Good Enough?

Wow! Keren! Mantep! Luar biasa! Koq dia bisa yaa? Kekaguman mengisi hati kita. Rasa kagum pun lalu tiba-tiba pupus digantikan dengan perasaan yang lain. Perasaan inferioritas mengisi pikiran kita. Kita mulai membandingkan diri kita, kita dapati kalau kita tidak bisa apa-apa. Tidak ada yang cukup baik dari dalam diri kita untuk bisa dibanggakan.
Minderlah kita jadinya. Sementara di mata kita, terlihatlah orang-orang yang bercahaya mampu membuat banyak khalayak berdecak kagum. Kita pun pusing, kita sangat ingin menjadi seperti orang itu. Kaya, bisa main musik, jago masak, bisa menulis, ahli membuat lagu, ahli programming, dan lain-lain. Lalu jatuhlah kita kedalam fase lanjutan pusing tadi menjadi desperate. Hidup kita tidak terlalu menarik bila dibandingkan orang lain. Miskin petualangan, kurang warna, dan seperti biasa, kebun orang lain terlihat lebih indah dibandingkan kebun sendiri. Kita mulai bersungut-sungut pada Tuhan, “kenapa sih Tuhan ciptain saya tanpa ada satu hal pun yang baik?” Semua suram rasanya.

Ya! Teruslah salahkan keadaan, lanjutkan menyalahkan keluarga anda, teman-teman dan Tuhan. Anda telah percaya bahwa anda adalah orang yang salah di waktu dan tempat yang salah. Maka anda juga menganggap bahwa eksistensi anda merupakan sebuah kesalahan. Dan Tuhan menciptakan anda secara tidak sengaja alias kecelakaan yang tidak disengaja. Anda merasa anda adalah produk gagal.

Tahukah anda? Sekecil apapun anda di hadapan manusia, Tuhan ciptakan anda dengan talents dan segudang keunikan. Mengapa anda memaksakan diri ingin menjadi orang lain? Cobalah anda teliti dan analisa diri anda sendiri, pasti anda akan temukan ada sebuah talenta yang Tuhan beri. Mungkin talenta anda begitu kecil dan tidak signifikan, mungkin anda merasa talenta anda tidak ada gunanya sama sekali. Tapi ketahuilah, sesuatu yang Tuhan tanam dalam diri anda yang anda rasa tidak berharga di mata anda, bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga di mata orang lain.

Jangan selalu melihat kepada orang lain, you can’t use what you don’t have. Tuhan hanya pakai apa yang ada padamu. Saat Musa terus menerus mengeluh dan beralasan, Tuhan hanya bertanya di kitab Keluaran 4:2; Tuhan berfirman kepadanya: “Apakah yang ditanganmu itu?” jawab Musa:”Tongkat.” Tuhan tidak tertarik akan hal yang tidak ada padamu, tapi Tuhan bisa lakukan perkara besar dengan apa yang ada di tanganmu, meski tidak berguna di mata anda, apapun yang anda miliki adalah dari Dia, dan Dia mampu melakukan banyak mujizat luar biasa dari apa yang anda miliki.

Kita ingat perumpamaan tentang talenta, ada yang diberi satu, ada yang diberi dua, ada yang diberi lima(Matius25:15). Semua orang tahu, kalau tidak mengembangkan talenta itu dosa. Tapi mari kita tilik sedikit kisah ini dari sebuah sudut pandang lain. Kalau kita baca, hamba yang memegang satu talenta pergi lalu menyembunyikan apa yang tuannya beri. Besar sekali kemungkinan, hamba yang diberi satu talenta ini membandingkan dirinya dengan dua hamba yang lain. “Mengapa yang lain diberi lima? Mengapa dia diberi dua talenta? Kenapa aku hanya diberi satu talenta saja? Ini tidak adil, tuanku tidak adil! Lagi pula rasanya sungguh egois memerintahkan aku mengembangkan hartanya. Lebih baik aku kembangkan saja yang aku punya yang bukan dari tuanku. Sebaiknya aku ikuti anjuran temanku untuk mencari talenta lain diluar tuanku.” Kurang lebih itulah isi pikiran dia sehingga membuatnya menyembunyikan apa yang tuannya beri.

Oke, itu dari sudut pandang hamba yang dipercayakan satu talenta. Marilah kita baca lagi Matius 25:15;”.............., masing-masing menurut kesanggupannya, ...............” maka kita tahu kalau tuannya memberikan tanggungjawab yang sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. Mengapa dia harus merasa tidak puas? Bayangkan, bila seorang buruh yang mendadak menuntut ditempatkan di posisi strategis seperti CEO tanpa kemampuan dan kapasitas yang memadai. Mungkinkah semua berjalan mulus?
Mengapakah banyak dari kita yang tidak tahu bahwa semakin banyak kita dipercayakan talenta, makin besar kita dituntut untuk mengembangkannya? Bukankah ada tertulis; “Yang diberi sedikit akan dituntut sedikit, dan yang diberi banyak daripadanya akan dituntut banyak.” Hal ini juga berlaku untuk hal talenta. Kita tahu buruh hanya mengerjakan tugas sederhana seperti mengoperasikan mesin, tugas dan tanggung jawab dia sangatlah terbatas. Jenis pekerjaan mereka pun tidak terlalu kompleks dan menuntut mereka terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berpikir. Tanggung jawab mereka tidak besar. Tapi coba kita bandingkan dengan seorang CEO, CEO dituntut mengetahui semua bagian dari sebuah perusahaan. Dia dituntut mengenal semua seluk beluk industri perusahaannya. Dari pengadaaan bahan, sistem organisasi, sistem pembukuan, sistem gaji, peralatan, perhitungan resiko, strategi pemasaran, manajemen SDM, manajemen SDA, dan lain-lain. Pekerjaan seorang CEO lebih berat dan kompleks. Jadi jangan hanya lihat gajinya saja, tugas CEO sangat berbeda jauh dibandingkan buruh. Berpikir dengan otak lebih melelahkan dibandingkan dengan bekerja dengan tenaga.

Tidak sedikit mereka yang iri, saat melihat ada orang-orang yang memiliki kapasitas dan kemampuan lebih dalam talenta mereka. Sebenarnya mereka awalnya sama saja, hanya saja ada sebuah perbedaan. Mereka yang sukses mengembangkan talentanya, menjawab tantangan saat datangnya sebuah promosi. What is promotion? Promotion is doing more works in the same amount of time. Which it means is mereka mau dengan sadar dan tanpa merasa terpaksa untuk masuk ke dalam kondisi yang menekan mereka, yang menuntut mereka melakukan hal lebih dalam tenggang waktu yang sama. Saat anda ingin jago masak, anda harus lebih banyak membuat beberapa menu sekaligus di waktu yang sama saat anda berada di dapur. Saat anda ingin jago bermain gitar, anda harus bisa memainkan variasi arpeggio lebih banyak dalam satu sesi latihan. Anda juga harus menulis artikel lebih banyak dalam satu deadline yang sama saat anda mau menjadi penulis yang serius.
Tidak cukup baik? Atau masih kurang baik? Tuhan selalu beri yang terbaik pada kita. Dia ciptakan kita baik adanya. Jangan memaksakan agenda kita pada Dia, berserah penuh pada-Nya. Apa yang ada pada kita adalah sempurna, tergantung cara kita mengolahnya. Tanah yang baiklah yang menghasilkan buah yang baik, jangan minder dan tidak percaya diri, karena rasa minder dan tidak percaya diri adalah semak duri yang mematikan benih talenta yang sudah Tuhan tanam dalam diri kita.

Berbahagialah pula bila anda diberikan modal yang sedikit, karena modal yang sedikit bisa berkembang menjadi banyak bila anda mengelolanya dengan baik. Sangat berbeda bila anda dari awal sudah diberi banyak modal, kecenderungan bocornya alokasi dana lebih besar. Karena anda tiba-tiba saja mengelola sebuah organisasi yang besar dan kompleks. Start small, grow big, end huge lebih baik seperti itu ketimbang dengan start big, grow small, end bankrupt. Uang yang besar hanya bisa dikelola dengan baik bila anda cakap mengelola uang yang jumlahnya sedikit.

Janganlah berkecil hati bila anda hanya dipercayakan Tuhan dengan sedikit talenta, karena dengan demikian anda bisa lebih fokus mengembangkannya. Bandingkan dengan orang yang diberi banyak talenta, mereka kesulitan mengembangkannya karena sulitnya menyediakan waktu untuk memberi perhatian lebih. Karena waktu sangat terbatas membuat siapapun, termasuk orang yang punya banyak talenta untuk memilih dan mengembangkan hanya satu atau beberapa talenta yang benar-benar bisa dikembangkan dengan serius. Ingat kata-kata wejangan paman dari Peter Parker sang Spiderman: “With great power, comes great responsibility.” Anda bertanggung jawab kepada Tuhan, kiranya talenta anda sekalian menghasilkan buah yang baik, buah yang bisa membuat nama Tuhan dipermuliakan.

God Bless You!

Tuesday, October 13, 2009

Top Ten Sign Dangerous Church

Potentially unsafe groups or leaders "come off very nice at first, they go for vulnerable people who are looking for answers, lonely, what you'd call 'normal people.' They're very good at what they do and can get people to believe anything. You might think you'd never get taken in, but don't bet on it. "
-- Margaret Singer, Ph.D.

Visit Culteducation.com Babel Fish Translation

By Rick Ross, Expert Consultant and Intervention Specialist
Ten warning signs of a potentially unsafe group/leader.

1. Absolute authoritarianism without meaningful accountability.

2. No tolerance for questions or critical inquiry.

3. No meaningful financial disclosure regarding budget, expenses such as an independently audited financial statement.

4. Unreasonable fear about the outside world, such as impending catastrophe, evil conspiracies and persecutions.

5. There is no legitimate reason to leave, former followers are always wrong in leaving, negative or even evil.

6. Former members often relate the same stories of abuse and reflect a similar pattern of grievances.

7. There are records, books, news articles, or television programs that document the abuses of the group/leader.

8. Followers feel they can never be "good enough".

9. The group/leader is always right.

10. The group/leader is the exclusive means of knowing "truth" or receiving validation, no other process of discovery is really acceptable or credible.

Ten warning signs regarding people involved in/with a potentially unsafe group/leader.

1. Extreme obsessiveness regarding the group/leader resulting in the exclusion of almost every practical consideration.

2. Individual identity, the group, the leader and/or God as distinct and separate categories of existence become increasingly blurred. Instead, in the follower's mind these identities become substantially and increasingly fused--as that person's involvement with the group/leader continues and deepens.

3. Whenever the group/leader is criticized or questioned it is characterized as "persecution".

4. Uncharacteristically stilted and seemingly programmed conversation and mannerisms, cloning of the group/leader in personal behavior.

5. Dependency upon the group/leader for problem solving, solutions, and definitions without meaningful reflective thought. A seeming inability to think independently or analyze situations without group/leader involvement.

6. Hyperactivity centered on the group/leader agenda, which seems to supercede any personal goals or individual interests.

7. A dramatic loss of spontaneity and sense of humor.

8. Increasing isolation from family and old friends unless they demonstrate an interest in the group/leader.

9. Anything the group/leader does can be justified no matter how harsh or harmful.

10. Former followers are at best-considered negative or worse evil and under bad influences. They can not be trusted and personal contact is avoided.

Ten signs of a safe group/leader.

1. A safe group/leader will answer your questions without becoming judgmental and punitive.

2. A safe group/leader will disclose information such as finances and often offer an independently audited financial statement regarding budget and expenses. Safe groups and leaders will tell you more than you want to know.

3. A safe group/leader is often democratic, sharing decision making and encouraging accountability and oversight.

4. A safe group/leader may have disgruntled former followers, but will not vilify, excommunicate and forbid others from associating with them.

5. A safe group/leader will not have a paper trail of overwhelmingly negative records, books, articles and statements about them.

6. A safe group/leader will encourage family communication, community interaction and existing friendships and not feel threatened.

7. A safe group/leader will recognize reasonable boundaries and limitations when dealing with others.

8. A safe group/leader will encourage critical thinking, individual autonomy and feelings of self-esteem.

9. A safe group/leader will admit failings and mistakes and accept constructive criticism and advice.

10. A safe group/leader will not be the only source of knowledge and learning excluding everyone else, but value dialogue and the free exchange of ideas.

Don't be naïve, develop a good BS Detector.

You can protect yourself from unsafe groups and leaders by developing a good BS detector. Check things out, know the facts and examine the evidence. A safe group will be patient with your decision making process. If a group or leader grows angry and anxious just because you want to make an informed and careful decision before joining; beware.

The Ross Institute
email: info@rickross.com URL: http://www.rickross.com

Copyright © Rick Ross

Wednesday, September 23, 2009

ENLIGHTENMENT

Enlightenment is not about what's right or wrong.
We are merely human, we have no right to judge others.
We are not God, some of us acted as if he is God.
We have different standard of commonsense, moral, principle and even virtue.
Some people push themselves to swallow something they can’t even comprehend, they seek world's acknowledgement with stubbornness. They consider themselves as a master and surround themselves with selfish pleasures and bestow their grandiose teachings upon the unwary. They think they can reach the higher place in doing such thing by getting admiration from this world. This half-assed enlightenment constantly sacrifices the truth and deviate from God.

The more I think, it gets clearer that there is no such thing as superiority in spirituality.
Only total awareness, total control, endless learning. And why some people get higher respect than the others? Integrity, integrity is the last result of harmony between thoughts, words and works. It’s easy to think, it’s easy to say, but doing what you think you should do, or doing what you said it’s another story. Think right, speak right and do right is the center of harmony. Last measurement is the effect and fruits of his thoughts, words and works.

Enlightenment is not journey to get acknowledgement and admiration from others.
It's about spiritual self-fulfillment journey not to perfection but to total awareness, total control of oneself. When the mind, body and soul become one and act in one harmony and this is the greatest pleasure a man can get.

Attachments, desires, interests, fake comforts are temporary goals.
The real embodiment of the purpose of living is become a highly evolved being. What is highly evolved being? He who practice virtues, never sop learning, never stop changing, never stop believing, being true to others, being true to oneself, being true to The Creator. He who accept the long and often arduous cultivation that is necessary to attain his goals, quietly shoulder whatever responsibilities fall upon his shoulder. Endlessly relinquish his negative habits and attitudes and has sincere heart. He lives in the real world, and extends his virtue to it without discrimination in the daily round in endless imperfect journey called life.

Tuesday, September 22, 2009

False Church - Real Church

God is Spirit and His kingdom is a spiritual kingdom The church is the body of Christ, which is also a spiritual body comprising if people in whom the Holy Spirit of God dwells. The true church is a spiritual church whereas the false church is the human organizations that proliferate the earth.

The true church is an organism under the guidance of the Holy Spirit of God. Jesus is the Head of the church, His body (Col. 1:18) Jesus Himself, guides each member of the body by the Holy Spirit as in a natural body the head controls the functions of the body via the central nerve system.

The false church is an organization, ruled and controlled by wicked men who have deceived believers into believing that they are the chosen instruments of God. They rule people through doctrine, making them slaves of the church. They use the Bible as a tool to control and manipulate people, extorting money from them, placing them under fear of damnation if they do not obey the church.

Many serious souls are deceived into submission by the false church. If these people wake up to the deception of the false church they are branded as heretics and violently persecuted. The false church takes souls captive into slavery to itself. It does not bring people into a right relationship with God. It has nothing to do with God. It has a form of godliness but it has denied the power of God. The Spirit of God is excluded – God is Spirit, so the false church is total separation from God.

The false church is a wicked institution. It uses doctrine devised to capture souls into slavery to the false church, not into obedience to Jesus Christ. It uses its own interpretations of scripture to legalize its wickedness. Gross iniquities and sins are committed and approved of under the cover of God’s grace. God does not tolerate any sin and will not excuse any sin either. The false church preaches tolerance to sin and is violently opposed to obeying Jesus Christ. Homosexuality, fornication, adultery and other immoralities are not only approved but also openly practiced by false church leadership.

There are various grades of evil in false church organization but at the core of it all is flesh, a man made organization managed by man and not by God. Some claim to be more pure than others but they are all just a different flavor of the same evil. False Church organizations are all fake, not part of Jesus Christ. “That which is born of the flesh is flesh, and that which is born of the Spirit is spirit.” John 3:6. THERE IS NO REMEDY! The root is rotten, the tree and branches are rotten too.

There is only one way to please God: Stay in a relationship with Jesus and be guided by His Spirit every moment of your life. Then you are part of the real church, His body, guided by His Spirit, to do His will. That is the real church.

CHRISTIAN CELEBRITY

The glorification of the creature instead of the Creator is a wickedness in the sight of God. Christian celebrities attract the attention to themselves and become rich and famous from the gospel of Jesus Christ. They are adored and followed instead of Jesus, the Lord of lords and King of kings.

Christians adore these celebrities. They are preachers, prophets, healers, singers, worship teams, skit performers, dancers, movie stars and rock stars. They appeal to the flesh, their own and that of their followers. As soon as man is exalted God is forgotten.

They use technology to create an atmosphere of sanctity but it only glorifies and satisfies the flesh. The followers are always in awe of the performer but do not fall down and worship the real God and Master Jesus Christ. Instead of repentance and holiness the performances result in the satisfaction of the flesh. People want to feel good, enjoy the performance. They love their pleasures and their lusts.

God will judge both idols and idolaters, both will go down into the pit। There is no partiality with God, He knows the intention of the heart of man, He judges righteously. All the glory goes to Jesus, He is a jealous God and will not share His glory with man.

Written by Jan Boshoff