"Keterbukaan adalah awal dari sebuah pemulihan."-Entah kata siapa karena sudah terlalu sering didengar.
Semboyan diatas sudah menjadi sebuah trade mark bagi komunitas yang berbau rohani dewasa ini. Dengan semboyan diatas diharapkan terjalin keakraban dan keintiman jalinan persahabatan di dalam komunitas tersebut. Mereka datang, berkumpul, saling berbagi cerita, masalah yang mereka hadapi. Bersama-sama saling menguatkan dan mendoakan. Dan merekapun bertumbuh kuat dewasa dan penuh berkat...... (terdengar seperti akhir sebuah dongeng bukan? Live happily ever after?)
Namun apakah memang seindah itukah praktek dalam kenyataannya? Benarkah demikian? Benarkah semuanya berjalan sebagaimana mestinya? Apakah benar keterbukaan selalu berbuah positif? Saya disini tidak ingin berkata bahwa semboyan "keterbukaan adalah awal dari pemulihan" adalah sesuatu yang salah. Tidak demikian, saya hanya akan berkata bahwa semboyan tersebut HANYA mengandung SETENGAH dari kebenaran. Bagaimana bisa?
Atas nama keterbukaan adalah awal dari pemulihan seseorang dituntut untuk terbuka pada orang yang belum tentu tepat! Anda akan baik-baik saja bila anda adalah seseorang yang memiliki otoritas di dalam komunitas tersebut. Anda cukup berkata(saat sharing); "Puji Tuhan semua baik-baik saja" atau "Pekerjaan saya sedang diberkati"(dan segudang bahasa positif klise lainnya) dan tentunya dengan otoritas yang anda pegang anda terlihat sebagai "the untouchable" dari dosa. Siapakah yang berani mengkritisi anda bila anda adalah ketua(yang dituakan dan dihormati) komunitas tersebut? Tentunya dengan kekuasaan anda anda bisa mendesak anggota komunitas anda untuk jujur terbuka pada anda. Dan, tentunya sangat mudah untuk melakukan “power abuse” menggunakan kelemahan anggota anda yang sudah jelas terbuka pada anda.
Oke, anggaplah tadi bila anda memegang kendali di dalam komunitas tersebut. Sekarang kita bahas dari sisi lain. Anda adalah seorang anggota baru, dan tentunya tidak seorangpun yang anda kenal di dalam komunitas itu. Karena “keterbukaan adalah awal dari pemulihan” maka anda diharuskan untuk terbuka. Suatu saat di dalam sebuah konflik, keterbukaan anda justru dijadikan senjata oleh orang-orang di dalam komunitas tersebut untuk menyerang anda. Bagaimana rasanya? Apakah anda masih bisa berkata “keterbukaan adalah awal dari pemulihan” dengan tersenyum? Bagaimana ketika justru ketua komunitas tersebut melakukan power abuse pada anda? Atau bagaimana bila ketika anda keluar dari komunitas tersebut diberi “label” anda terpental padahal mereka yang melabel anda sama sekali tidak tahu apa yang terjadi(judging without knowing what happened)?
Maka jelaslah, ketika anda diberi tahu “keterbukaan adalah awal dari pemulihan”, anda hanya diberi setengah dari kebenaran. Faktanya adalah “keterbukaan juga bisa berarti awal dari kehancuran” BILA anda terbuka pada orang yang tidak bertanggungjawab. Seperti koin, ada bagian atas dan ada bagian bawah. Saat seseorang berkata “keterbukaan adalah awal dari pemulihan” rupanya dia tidak tahu(entah lupa atau sengaja lupa, atau benar-benar tidak tahu) bahwa ada resiko lain yang mengikuti dan bahkan sama dan sebanding besarnya dengan keuntungan yang didapat.
Sama seperti baru-baru ini saya di-prospek mengenai investasi. Investasi tidak melulu hanya keuntungan semata, investasi juga mengenai kerugian. Dan sangat jarang sekali disinggung di dalam presentasi hal mengenai kerugian ini. Dan ketika anda mengalami kerugian yang besar, tidak ada yang membantu anda. Sama seperti, dimanakah orang yang menganjurkan anda terbuka supaya anda pulih saat anda hancur karena keterbukaan anda? Tentunya mereka sudah lari jauh-jauh dan membuka “praktek” presentasi mereka di tempat lain.
Berhati-hatilah! Segala sesuatu adalah seperti koin, memiliki konsekuensi sebaliknya yang sebanding. Keterbukaan tanpa hikmat dan hanya bermodalkan kenaifan dijamin akan mendatangkan kehancuran bagi anda. Komunitas rohani dewasa ini sudah seperti fasilitas “persahabatan sintetis” yang terlalu dipaksakan dan menuai banyak konflik dan kepahitan. Sudah cukup banyak kasus seperti itu yang terjadi, dan sayang sekali tidak ada yang berani mengulasnya. Kali ini, be WISE! Jangan sampai anda sakit hati dan kepahitan, kenali batas-batas sampai dimana anda boleh terbuka. Jangan terbuka bila anda tidak tahu apa-apa tentang latar belakang orang tersebut dengan demikian anda akan terhindar dari kekecewaan dan kepahitan.
Dan bila anda adalah pemimpin rohani, sudah tugas anda untuk terbuka terlebih dahulu, tidak menutup-nutupi, apalagi berbohong tentang keadaan anda, mengumpulkan massa dan dukungan dengan cerita yang diputar-balikan untuk memusuhi seseorang,dan menggunakan kelemahan orang lain yang sudah terbuka pada anda. Selalu ingat bahwa anda ini hanya hamba! Bertanggungjawablah atas apa yang sudah dipercayakan Tuhan atas anda.
“Keterbukaan adalah awal dari pemulihan bila anda terbuka pada orang yang tepat dan bertanggungjawab. Keterbukaan adalah awal dari kehancuran saat anda terbuka pada orang yang salah.”
Resapi,
renungkan dan praktekkan.
Karena perubahan memerlukan tindakan
Ciao
Thursday, August 19, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment