"Siapakah perempuan nomor satu di dunia? Jawabannya sangat mudah! Ibuku!" - K-ray Cahyadi
Mungkin agak aneh kenapa saya menulis artikel tentang ibu di bulan Februari. Sementara orang sibuk dengan pikiran mereka tentang cinta, saya justru sedang terlarut dalam perasaan kangen saya pada ibu yang berada di luar kota. Saya rasa mengungkapkan kasih kita kepada ibu tidak perlu harus menunggu hari ibu. Adalah sangat baik menyatakan cinta dan kasih kita kepada siapapun kapanpun selagi kita masih sempat mengungkapkannya. Karena waktu kita di dunia begitu sedikit, adalah sangat baik mengisi waktu kita mensyukuri apapun yang kita miliki selagi kita bernafas di bumi.
Ibuku adalah seorang sosok yang sangat luar biasa. Kehangatannya selalu memberikan semangat baru kala jiwa mulai redup menghadapi hidup. Perhatiannya selalu ada di saat suka maupun duka. Dedikasinya membesarkanku sangat bulat melebihi tekad seorang pahlawan dalam medan perang. Komitmennya menyayangi saya tidak pernah berubah meski kadang saya banyak melakukan tindakan menjengkelkan. Kelembutan hatinya selalu terpancar, meski kadang menggunakan kata yang terkadang menusuk hatiku, semua demi kebaikanku sendiri supaya tidak salah jalan dan terperosok.
Ibuku adalah seorang yang sangat tahan banting dan tabah, kadang kuanggap dia kolot, tapi justru kadang firasatnya yang selalu memberikan tanda-tanda yang lebih tepat dari prakiraan cuaca. Ibuku memberikan kepercayaan dan kebebasan penuh padaku untuk menjadi dewasa dan bertanggungjawab. Wejangannya singkat, kadang hanya terdiri dari satu atau dua kalimat saja, tapi lebih ampuh dari berbagai macam nasehat seorang konsultan keuangan. Masakannya lebih lezat daripada makanan yang dimasak oleh seorang chef hotel bintang lima, karena sebuah bumbu resep rahasia di dalamnya yaitu kasih dan perhatian, yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh seorang chef restoran manapun (karena uang bisa membeli kenikmatan bukan kasih).
Bagaimana dengan ibu Anda? Untuk para anak di luar sana: "Wahai para anak di luar sana, hargailah ibumu!" Ungkapkanlah rasa terimakasihmu selagi masih sempat. Keagungan pengorbanan seorang ibu tidak pernah bisa terukur. Jangan sampai kesibukan Anda melupakan kasih dan perhatian ibu Anda. "Habis manis sepah dibuang" adalah tindakan yang sangat tidak terpuji bagi ibu Anda.
Tersenyumlah para perempuan di luar sana, suatu saat Anda akan menjadi seorang ibu bagi anak-anakmu. Anda akan menjadi seorang perempuan nomer satu di dalam kehidupan anak-anakmu. Menjadi seorang panutan dan soko guru dalam kehidupan buah hati. Jadilah ibu yang terbaik bagi anak-anakmu, berikanlah perhatian yang terbaik untuk mereka. Karena masa kecil hanya datang sekali, berikanlah masa kecil yang terbaik baginya. Suatu saat akan Anda temukan sebuah ungkapan terima kasih yang begitu sederhana, yang tidak akan pernah mampu membalas kebaikan dan pengorbanan Anda sebagai seorang ibu.
Katakan sekarang, pikirkan sekarang, ungkapkan sekarang! Bagaimanapun caranya, katakan dan nyatakanlah kasihmu pada ibumu, pada anakmu. God bless you.
N.B. : Untuk seorang kakak, yang akan menyambut datangnya seorang buah hati. I believe you will be the number one woman in your child's life."
Tuesday, February 23, 2010
Wednesday, February 10, 2010
Alone
Semua sulit, gagal berkali-kali, rasanya semua gambaran menjadi buram, target-target tidak tercapai, semua rancangan jadi kacau. Sebagai konselor, kita dapati tidak ada yang bisa diajak berbagi, karena semua orang selalu mempercayakan masalah mereka pada kita. Kita selalu menjadi pendengar setia, dan memegang rahasia dari banyak orang. Rasanya sangat aneh bagi kita para konselor, untuk membagikan masalah kita pada orang lain. Kita menjadi takut gambaran diri kita menjadi orang yang bisa diandalkan oleh sesama selama ini menjadi rusak. Kita diuji dengan semua perkataan kita sendiri yang sudah menguatkan orang lain. Masalah-masalah tak terduga muncul beruntun, dan kita berdiri sendirian karena di mata kita tidak ada orang yang cukup bijaksana untuk berbagi.
Tender pekerjaan yang feenya tidak sebanding dengan apa yang kita perhitungkan. Uang kita yang tidak jelas lari kemana oleh rekan bisnis. Stok barang menumpuk yang tak kunjung laku karena cacat produksi. Atasan bermasalah mencuri database klien kita. Teman puluhan tahun yang menusuk dari belakang karena uang yang jumlahnya tidak besar. Keseriusan yang berbuah kegagalan. Orang-orang dari masa lalu yang terus merongrong keuangan kita. Gaji yang tidak kunjung naik. Saudara-saudara yang terus menekan kita. Kita tidak tahu kemana anda harus mengadu, karena kita sudah terlanjur menjadi tempat bersandar bagi orang lain. Kita terlalu gengsi untuk membuka dan membiarkan orang lain melihat gejolak yang terjadi di dalam diri kita. Kita dituntut untuk selalu tersenyum, karena beban moral sebagai seorang konselor. Saat orang lain datang dengan masalah mereka, kita dituntut tetap berkepala dingin mencari solusi untuk mereka.
Lalu ada terngiang di dalam diri anda, “you are born to win” anda dilahirkan untuk menjadi pemenang. Anda mulai meragukannya. Benarkah seperti itu? Kenyataan bahwa anda saat ini lemah dan tidak berdaya, mulai membantah semua konsep tentang “menjadi pemenang” atas segala perkara dan masalah anda. Selama ini anda membantu orang lain tanpa mengharapkan suatu imbalan apapun dari orang itu. Anda sudah dengan baik memerankan peran anda sebagai penghibur di saat kesusahan. Dengan segala kesabaran dan toleransi anda mau mengerti masalah orang lain walau kadang orang lain akhirnya menjadi orang yang mengkhianati anda. Apakah Tuhan memberikan janji-Nya dengan sembarangan? TIDAK! Sama sekali TIDAK!
Lalu kenapa semua harus terjadi? Kenapa kita dengan mudahnya menyelesaikan masalah orang lain? Kita bertanya-tanya kenapa semua ini harus terjadi. Apalagi terjadi begitu cepat beruntun dan sangat menyita energi. Akhirnya, jawabannya adalah berpikirlah positif. Ya! Semudah itu, seperti pada saat anda menjawab semua masalah orang lain. Anda harus mengerti satu hal, seorang pemenang tidak dapat dikatakan sebagai pemenang tanpa ujian. Kita bahkan harus terus menguji diri kita. Ujilah hati anda, ujilah pikiran anda, ujilah prinsip anda. Segala ujian baik adanya!
1 Korintus 11:31 Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita.
Jangan sampai ada motivasi yang salah dalam hidup kita. Karena Tuhan melihat HATI anda, percayalah bahwa TIDAK ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Anda bisa berbohong pada siapapun, tetapi anda tidak akan pernah bisa berbohong pada diri sendiri dan pada Tuhan! Jagalah hati anda dengan segala kewaspadaan! Karena Tuhan mencatat segalanya!
Yakobus 3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.
Mengapa semuanya terlihat mudah saat anda menyelesaikan masalah orang lain? Because there’s a big difference between knowing the way and walking in it. Hanya tahu TIDAK cukup! Dasar semuanya adalah kasih, tapi kasih yang berupa kata-kata adalah sia-sia. Kalau selama ini kita merasa puas dengan menjadi konselor yang baik dan bijak itu tidak ada gunanya. Karena perbuatan memberi dampak lebih dari sekedar perkataan. Kita para konselor terlahir untuk memberi impact yang besar!
1 yohanes 3:18 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.
Bila anda selama ini dengan mudahnya berkata-kata, cobalah sedikit menilik dan jujur terhadap diri sendiri. Apakah anda sudah melakukan apa yang anda katakan? Apakah anda benar-benar berjalan dalam prinsip anda? Segala pertandingan dan masalah pada awalnya adalah untuk mengukur seberapa besar tingkat integritas anda. What is integrity? Integritas adalah saat anda melakukan apa yang anda katakan. Pikiran sejalan dengan perkataan, dan perkataan sejalan dengan perbuatan. Itulah integritas!
Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.
Seorang dinilai bukan dari kata-kata, tidak dinilai dari jabatannya dalam gereja, bukan dari seberapa besar pelayanannya dalam gereja. Tuhan punya standar sendiri yang mungkin sulit dimengerti oleh kita sebagai manusia. Dia menilai kita dari hati, juga Tuhan menilai kita dari buah yang kita hasilkan.
Matius 7:18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.
Jangan pernah puas bila anda sudah bisa membangun orang lain, karena bukan anda yang membangun mereka. Tuhan membangun anda dengan cara-Nya sendiri, Dia memberi masalah untuk anda supaya makin nyata karya-Nya di dalam kita. Dia ingin kita menjadi 100% Firman yang menjadi daging. Satu hal yang perlu anda ingat, bila anda terus memaksa untuk berdiri sendiri dengan segala keterbatasan anda, dapat dipastikan anda tidak akan dapat bertahan dan menjadi hancur. Jadilah pelaku Firman, bukan hanya memperkatakannya saja.
Matius 7:24-25 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”
Keuntungan dari masalah, inilah kata-kata yang sering kita ucapkan pada pasien kita saat kita menjadi konselor mereka: “Ambil saja himahnya. Mungkin Tuhan punya maksud baik dalam hidup anda.”
Tuhan PASTI(bukan mungkin) selalu punya maksud yang indah pada waktunya (Pengkhotbah 3:11) di dalam setiap masalah, selama masalah itu bukan dari buah perbuatan dosa anda. Sekalipun masalah itu adalah buah dari dosa anda, Tuhan akan menyelesaikannya bila anda sungguh-sungguh berserah dan bertobat. Hanya saja jangan pernah memaksakan penyelesaian yang anda inginkan terjadi, karena konsekuensi dosa kadang tetap tidak bisa dihindari. Karena Tuhan BUKAN manusia(jalan Ku bukan jalanmu, rancanganKu bukan rancanganmu). Setiap masalah akan membawa kita terbang semakin tinggi, tergantung kita meresponnya, tergantung dari apakah mental dan karakter kita dibuat. Tergantung seperti apa kita sudah melatih dan membangun karakter kita! Anda lebih dari pemenang, anda diciptakan untuk mengalahkan permainan. Jangan biarkan anda dipermainkan dengan perasaan anda(kita ingat banyak sekali pasien kita yang sulit diajak bicara ketika emosi sudah menguasai pikiran logis mereka). Karena pikiran kita adalah pertempuran, kita harus senantiasa menjaga pikiran kita dengan Firman Tuhan.
Anda harus tetap bergantung pada Tuhan, karena anda ada dari Dia, anda ada oleh Dia, dan anda ada untuk Dia. Anda tidak berhak protes atas masalah yang anda hadapi. Anda harus berserah pada Tuhan. Manusia hanya akan mengecewakan anda. Banyak sekali kasus dimana seorang konselor dicibir saat mereka mulai terbuka akan masalah mereka. Mereka dicap lemah, akhirnya konselor itu kehilangan urapan karena ragu apakah penyertaan Tuhan masih ada di dalam hidupnya. Mengapa demikian? Karena mereka mulai berharap pada manusia. Baiklah kita berharap hanya pada Tuhan, biarlah Dia yang tunjukkan siapa orang yang memang bisa dipercaya menjadi orang yang menjadi penyambung suara Tuhan di dalam pergumulan anda. Karena berbicara pada orang yang salah, justru akan memperkeruh masalah. Ketahuilah anda tidak sendirian, karena Tuhan bersama anda. So when you are alone and feel no one with you, ga ada yang bantu masalah. Cek hati, jaga pikiran, introspeksi apakah anda sudah menjalankan semua yang anda katakan? Atau itu hanya sebuah omong kosong yang keluar dari mulut anda.
God bless you.
Untuk para pelacur(pelayan curhat) diluar sana, yang selalu mentok ga tau mau lari kemana pas ada masalah. Karena selalu dicibir lemah dan bodoh saat masalah susah untuk diselesaikan.
Tender pekerjaan yang feenya tidak sebanding dengan apa yang kita perhitungkan. Uang kita yang tidak jelas lari kemana oleh rekan bisnis. Stok barang menumpuk yang tak kunjung laku karena cacat produksi. Atasan bermasalah mencuri database klien kita. Teman puluhan tahun yang menusuk dari belakang karena uang yang jumlahnya tidak besar. Keseriusan yang berbuah kegagalan. Orang-orang dari masa lalu yang terus merongrong keuangan kita. Gaji yang tidak kunjung naik. Saudara-saudara yang terus menekan kita. Kita tidak tahu kemana anda harus mengadu, karena kita sudah terlanjur menjadi tempat bersandar bagi orang lain. Kita terlalu gengsi untuk membuka dan membiarkan orang lain melihat gejolak yang terjadi di dalam diri kita. Kita dituntut untuk selalu tersenyum, karena beban moral sebagai seorang konselor. Saat orang lain datang dengan masalah mereka, kita dituntut tetap berkepala dingin mencari solusi untuk mereka.
Lalu ada terngiang di dalam diri anda, “you are born to win” anda dilahirkan untuk menjadi pemenang. Anda mulai meragukannya. Benarkah seperti itu? Kenyataan bahwa anda saat ini lemah dan tidak berdaya, mulai membantah semua konsep tentang “menjadi pemenang” atas segala perkara dan masalah anda. Selama ini anda membantu orang lain tanpa mengharapkan suatu imbalan apapun dari orang itu. Anda sudah dengan baik memerankan peran anda sebagai penghibur di saat kesusahan. Dengan segala kesabaran dan toleransi anda mau mengerti masalah orang lain walau kadang orang lain akhirnya menjadi orang yang mengkhianati anda. Apakah Tuhan memberikan janji-Nya dengan sembarangan? TIDAK! Sama sekali TIDAK!
Lalu kenapa semua harus terjadi? Kenapa kita dengan mudahnya menyelesaikan masalah orang lain? Kita bertanya-tanya kenapa semua ini harus terjadi. Apalagi terjadi begitu cepat beruntun dan sangat menyita energi. Akhirnya, jawabannya adalah berpikirlah positif. Ya! Semudah itu, seperti pada saat anda menjawab semua masalah orang lain. Anda harus mengerti satu hal, seorang pemenang tidak dapat dikatakan sebagai pemenang tanpa ujian. Kita bahkan harus terus menguji diri kita. Ujilah hati anda, ujilah pikiran anda, ujilah prinsip anda. Segala ujian baik adanya!
1 Korintus 11:31 Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita.
Jangan sampai ada motivasi yang salah dalam hidup kita. Karena Tuhan melihat HATI anda, percayalah bahwa TIDAK ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Anda bisa berbohong pada siapapun, tetapi anda tidak akan pernah bisa berbohong pada diri sendiri dan pada Tuhan! Jagalah hati anda dengan segala kewaspadaan! Karena Tuhan mencatat segalanya!
Yakobus 3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.
Mengapa semuanya terlihat mudah saat anda menyelesaikan masalah orang lain? Because there’s a big difference between knowing the way and walking in it. Hanya tahu TIDAK cukup! Dasar semuanya adalah kasih, tapi kasih yang berupa kata-kata adalah sia-sia. Kalau selama ini kita merasa puas dengan menjadi konselor yang baik dan bijak itu tidak ada gunanya. Karena perbuatan memberi dampak lebih dari sekedar perkataan. Kita para konselor terlahir untuk memberi impact yang besar!
1 yohanes 3:18 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.
Bila anda selama ini dengan mudahnya berkata-kata, cobalah sedikit menilik dan jujur terhadap diri sendiri. Apakah anda sudah melakukan apa yang anda katakan? Apakah anda benar-benar berjalan dalam prinsip anda? Segala pertandingan dan masalah pada awalnya adalah untuk mengukur seberapa besar tingkat integritas anda. What is integrity? Integritas adalah saat anda melakukan apa yang anda katakan. Pikiran sejalan dengan perkataan, dan perkataan sejalan dengan perbuatan. Itulah integritas!
Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.
Seorang dinilai bukan dari kata-kata, tidak dinilai dari jabatannya dalam gereja, bukan dari seberapa besar pelayanannya dalam gereja. Tuhan punya standar sendiri yang mungkin sulit dimengerti oleh kita sebagai manusia. Dia menilai kita dari hati, juga Tuhan menilai kita dari buah yang kita hasilkan.
Matius 7:18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.
Jangan pernah puas bila anda sudah bisa membangun orang lain, karena bukan anda yang membangun mereka. Tuhan membangun anda dengan cara-Nya sendiri, Dia memberi masalah untuk anda supaya makin nyata karya-Nya di dalam kita. Dia ingin kita menjadi 100% Firman yang menjadi daging. Satu hal yang perlu anda ingat, bila anda terus memaksa untuk berdiri sendiri dengan segala keterbatasan anda, dapat dipastikan anda tidak akan dapat bertahan dan menjadi hancur. Jadilah pelaku Firman, bukan hanya memperkatakannya saja.
Matius 7:24-25 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”
Keuntungan dari masalah, inilah kata-kata yang sering kita ucapkan pada pasien kita saat kita menjadi konselor mereka: “Ambil saja himahnya. Mungkin Tuhan punya maksud baik dalam hidup anda.”
Tuhan PASTI(bukan mungkin) selalu punya maksud yang indah pada waktunya (Pengkhotbah 3:11) di dalam setiap masalah, selama masalah itu bukan dari buah perbuatan dosa anda. Sekalipun masalah itu adalah buah dari dosa anda, Tuhan akan menyelesaikannya bila anda sungguh-sungguh berserah dan bertobat. Hanya saja jangan pernah memaksakan penyelesaian yang anda inginkan terjadi, karena konsekuensi dosa kadang tetap tidak bisa dihindari. Karena Tuhan BUKAN manusia(jalan Ku bukan jalanmu, rancanganKu bukan rancanganmu). Setiap masalah akan membawa kita terbang semakin tinggi, tergantung kita meresponnya, tergantung dari apakah mental dan karakter kita dibuat. Tergantung seperti apa kita sudah melatih dan membangun karakter kita! Anda lebih dari pemenang, anda diciptakan untuk mengalahkan permainan. Jangan biarkan anda dipermainkan dengan perasaan anda(kita ingat banyak sekali pasien kita yang sulit diajak bicara ketika emosi sudah menguasai pikiran logis mereka). Karena pikiran kita adalah pertempuran, kita harus senantiasa menjaga pikiran kita dengan Firman Tuhan.
Anda harus tetap bergantung pada Tuhan, karena anda ada dari Dia, anda ada oleh Dia, dan anda ada untuk Dia. Anda tidak berhak protes atas masalah yang anda hadapi. Anda harus berserah pada Tuhan. Manusia hanya akan mengecewakan anda. Banyak sekali kasus dimana seorang konselor dicibir saat mereka mulai terbuka akan masalah mereka. Mereka dicap lemah, akhirnya konselor itu kehilangan urapan karena ragu apakah penyertaan Tuhan masih ada di dalam hidupnya. Mengapa demikian? Karena mereka mulai berharap pada manusia. Baiklah kita berharap hanya pada Tuhan, biarlah Dia yang tunjukkan siapa orang yang memang bisa dipercaya menjadi orang yang menjadi penyambung suara Tuhan di dalam pergumulan anda. Karena berbicara pada orang yang salah, justru akan memperkeruh masalah. Ketahuilah anda tidak sendirian, karena Tuhan bersama anda. So when you are alone and feel no one with you, ga ada yang bantu masalah. Cek hati, jaga pikiran, introspeksi apakah anda sudah menjalankan semua yang anda katakan? Atau itu hanya sebuah omong kosong yang keluar dari mulut anda.
God bless you.
Untuk para pelacur(pelayan curhat) diluar sana, yang selalu mentok ga tau mau lari kemana pas ada masalah. Karena selalu dicibir lemah dan bodoh saat masalah susah untuk diselesaikan.
Deeper Meaning of Care
"Selama saya hidup sesungguhnya tidak ada yang lebih memuakkan dari senyum palsu yang dipaksakan, pujian manis yang kosong pemanis telinga dan perhatian semu. Semua itu adalah SAMPAH!"-K-ray Cahyadi-
Friendship is? Apakah persahabatan? Cobalah tanyakan pada diri anda masing-masing. Apakah arti persahabatan bagi anda? Coba anda renungi carilah jawabannya. Friendship is the cooperative and supportive relationship between people. Persahabatan adalah hubungan kerjasama dan saling mendukung antara manusia. Lalu apakah yang membuat sebuah persahabatan langgeng, bertahan lama, tetap memiliki kerjasama dan saling mendukung?
Sebuah persahabatan hanya bisa langgeng bila ada saling kepedulian di dalamnya. Kata peduli dalam bahasa Inggris adalah Care. Seseorang bisa dianggap peduli apabila dia memiliki Concern, Affection & Acknowledgement, Relationship & Respect, Enthusiasm.
Concern
Concern sendiri dapat diartikan sebagai- “menaruh perhatian yang besar terhadap.”
Seorang sahabat yang baik tentunya akan menaruh perhatian yang besar sekali terhadap anda. Entah itu perkembangan diri anda, perkembangan karir anda, perkembangan karakter anda, keadaan anda. Bahkan seorang sahabat yang baik tidak akan pernah segan menegur anda supaya anda sadar dan mengubah cara hidup anda. Karena sahabat yang terbaik selalu menginginkan segala sesuatu yang terbaik bagi diri anda(tendency to desire what is best for others). Jadi anda bukan seorang sahabat yang baik bila anda belum mengharapkan dan menginginkan yang terbaik bagi sahabat anda. . Memang sahabat yang baik kadang menjadi seorang oposisi bagi pendapat anda, akan tetapi semua disebabkan atas dasar perhatiannya yang begitu besar kepada anda.
Affection
Affection sendiri dapat diartikan sebagai kasih. Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. Seorang sahabat selalu menjadi saudara di dalam kesukaran. Saat anda merasa lemah atau tidak berdaya ia adalah seorang yang bisa diandalkan. Mungkin tidak banyak yang bisa ia lakukan, tapi ia bisa meminjamkan telinga dan sebagian waktunya untuk melegakan anda. Beberapa orang mengasihi dengan motif tersembunyi, seseorang dengan kasih palsu bukanlah seorang sahabat, karena kasih menerima tanpa syarat. Bahkan kasihlah yang menutupi segala pelanggaran.
Acknowledgment
Acknowledgment diartikan sebagai pengakuan. Sahabat yang baik akan mengakui kemampuan anda, selalu memberikan motivasi yang membangun karakter anda. Ia tidak iri dengan kelebihan anda, tapi terus menjadi pengobar semangat anda dalam meraih mimpi-mimpi anda. Anda bukanlah sahabat yang baik bila anda tidak dapat mengakui kelebihan sahabat anda, iri terhadap kelebihan sahabat anda, menjatuhkannya dari belakang. Sifat tidak terpuji seperti itu bukanlah sifat seorang sahabat.
Relationship
Relationship dapat diartikan sebagai hubungan. Sahabat yang baik selalu “keep in contact” atau tetap menjaga hubungan. Terlepas dari seberapa jauhnya jarak, terlepas dari seberapa sibuknya pekerjaan. Ia tetap menyediakan waktu khusus untuk sahabat-sahabatnya. Ketika ia bertanya “apa kabar” bukan sekedar rutinitas basa-basi omong kosong atas dasar alasan tata krama, akan tetapi dikarenakan ia memiliki simpati dan empati yang tulus terhadap anda karena bersungguh-sungguh ingin mengetahui keadaan anda. Sahabat yang baik tidak hanya menghubungi anda pada saat dia membutuhkan kemampuan atau keahlian anda, tetapi seorang sahabat adalah yang tulus tanpa motif tersembunyi. Sebuah hubungan yang baik bukanlah hubungan yang tanpa konflik. Hubungan yang baik adalah hubungan yang bertahan meski ada konflik. Sahabat yang baik tidak akan menunda sebuah konflik, ia akan segera mencari sebuah penyelesaian. Apakah anda masih berbasa-basi? Atau mungkin masih banyak konflik yang anda biarkan tidak selesai? Hanya orang yang dewasa dan secure yang berani menyelesaikan masalahnya. Semakin anda menunda, semakin sulit anda menyelesaikannya.
Respect
Respect adalah rasa hormat. Sahabat yang baik dapat menghargai perbedaan pendapat. Pendapat yang berbeda, perbedaan sudut pandanglah justru yang memperkaya sebuah persahabatan. Banyak sekali orang menjadi begitu overprotektif dan skeptis ketika menemukan perbedaan. Perbedaan menjadi sumber konflik, apalagi perbedaan kepentingan. Sahabat yang baik, bahkan kadang mampu membunuh egonya karena menghargai kepentingan sahabatnya. Bila anda tidak bisa menghargai pendapat dan kepentingan sahabat anda, buanglah label anda sebagai seorang sahabat. Menghargai juga berarti toleransi. Bila anda tidak bisa menghargai orang lain, cobalah anda berkaca. Orang yang tidak bisa menghargai orang lain sebenarnya disebabkan karena ia tidak bisa menghargai dirinya sendiri.
Enthusiasm
Enthusiasm dapat diartikan sebagai antusiasme. Sahabat yang baik adalah sahabat yang menjadi sumber antusiasme. Seorang sumber antusiasme sendiri adalah seorang yang menginspirasi. Sahabat yang baik selalu menjadi inspirasi hal yang positif. Saling menginspirasi, memberikan motivasi. Sahabat yang baik menjadi inspirasi entah dalam cara berpikir, nilai-nilai, pembangunan karakter. Jadi bila seorang sahabat hanya menyedot semangat anda menjadi loyo, kehabisan ide, membuat anda jadi mampet inspirasi, membunuh semangat anda, membuat antusiasme anda dalam menjalani hidup menjadi berkurang, dapat dipastikan ia bukanlah sahabat yang baik.
Anda ingin memiliki sahabat yang baik? Anda ingin dikelilingi orang-orang luar biasa? Semua itu hanyalah mimpi belaka bila anda tidak CARE. Memang betul tidak semua orang wajib anda jadikan sahabat, diperlukan hikmat dalam menaruh kepercayaan anda kepada seseorang. Namun, semua cita-cita anda memiliki sahabat yang luar biasa adalah omong kosong bila tidak memiliki perhatian yang besar(concern), kasih sayang dan pengakuan(affection & acknowledgment), hubungan dan penghargaan (Relationship And respect), membangkitkan antusiasme(enthusiasm) bagi teman-teman anda. Jadilah sahabat yang luar biasa, niscaya andapun akan dikelilingi sahabat-sahabat yang luar biasa. Ingatlah the golden rule: “Treat others as you want to be treated.” (Lakukan kepada mereka sebagaimana kamu ingin mereka perlakukan).
Resapi, renungkan dan praktekkan.
Karena perubahan memerlukan tindakan
Ciao
12:42AM
Friendship is? Apakah persahabatan? Cobalah tanyakan pada diri anda masing-masing. Apakah arti persahabatan bagi anda? Coba anda renungi carilah jawabannya. Friendship is the cooperative and supportive relationship between people. Persahabatan adalah hubungan kerjasama dan saling mendukung antara manusia. Lalu apakah yang membuat sebuah persahabatan langgeng, bertahan lama, tetap memiliki kerjasama dan saling mendukung?
Sebuah persahabatan hanya bisa langgeng bila ada saling kepedulian di dalamnya. Kata peduli dalam bahasa Inggris adalah Care. Seseorang bisa dianggap peduli apabila dia memiliki Concern, Affection & Acknowledgement, Relationship & Respect, Enthusiasm.
Concern
Concern sendiri dapat diartikan sebagai- “menaruh perhatian yang besar terhadap.”
Seorang sahabat yang baik tentunya akan menaruh perhatian yang besar sekali terhadap anda. Entah itu perkembangan diri anda, perkembangan karir anda, perkembangan karakter anda, keadaan anda. Bahkan seorang sahabat yang baik tidak akan pernah segan menegur anda supaya anda sadar dan mengubah cara hidup anda. Karena sahabat yang terbaik selalu menginginkan segala sesuatu yang terbaik bagi diri anda(tendency to desire what is best for others). Jadi anda bukan seorang sahabat yang baik bila anda belum mengharapkan dan menginginkan yang terbaik bagi sahabat anda. . Memang sahabat yang baik kadang menjadi seorang oposisi bagi pendapat anda, akan tetapi semua disebabkan atas dasar perhatiannya yang begitu besar kepada anda.
Affection
Affection sendiri dapat diartikan sebagai kasih. Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. Seorang sahabat selalu menjadi saudara di dalam kesukaran. Saat anda merasa lemah atau tidak berdaya ia adalah seorang yang bisa diandalkan. Mungkin tidak banyak yang bisa ia lakukan, tapi ia bisa meminjamkan telinga dan sebagian waktunya untuk melegakan anda. Beberapa orang mengasihi dengan motif tersembunyi, seseorang dengan kasih palsu bukanlah seorang sahabat, karena kasih menerima tanpa syarat. Bahkan kasihlah yang menutupi segala pelanggaran.
Acknowledgment
Acknowledgment diartikan sebagai pengakuan. Sahabat yang baik akan mengakui kemampuan anda, selalu memberikan motivasi yang membangun karakter anda. Ia tidak iri dengan kelebihan anda, tapi terus menjadi pengobar semangat anda dalam meraih mimpi-mimpi anda. Anda bukanlah sahabat yang baik bila anda tidak dapat mengakui kelebihan sahabat anda, iri terhadap kelebihan sahabat anda, menjatuhkannya dari belakang. Sifat tidak terpuji seperti itu bukanlah sifat seorang sahabat.
Relationship
Relationship dapat diartikan sebagai hubungan. Sahabat yang baik selalu “keep in contact” atau tetap menjaga hubungan. Terlepas dari seberapa jauhnya jarak, terlepas dari seberapa sibuknya pekerjaan. Ia tetap menyediakan waktu khusus untuk sahabat-sahabatnya. Ketika ia bertanya “apa kabar” bukan sekedar rutinitas basa-basi omong kosong atas dasar alasan tata krama, akan tetapi dikarenakan ia memiliki simpati dan empati yang tulus terhadap anda karena bersungguh-sungguh ingin mengetahui keadaan anda. Sahabat yang baik tidak hanya menghubungi anda pada saat dia membutuhkan kemampuan atau keahlian anda, tetapi seorang sahabat adalah yang tulus tanpa motif tersembunyi. Sebuah hubungan yang baik bukanlah hubungan yang tanpa konflik. Hubungan yang baik adalah hubungan yang bertahan meski ada konflik. Sahabat yang baik tidak akan menunda sebuah konflik, ia akan segera mencari sebuah penyelesaian. Apakah anda masih berbasa-basi? Atau mungkin masih banyak konflik yang anda biarkan tidak selesai? Hanya orang yang dewasa dan secure yang berani menyelesaikan masalahnya. Semakin anda menunda, semakin sulit anda menyelesaikannya.
Respect
Respect adalah rasa hormat. Sahabat yang baik dapat menghargai perbedaan pendapat. Pendapat yang berbeda, perbedaan sudut pandanglah justru yang memperkaya sebuah persahabatan. Banyak sekali orang menjadi begitu overprotektif dan skeptis ketika menemukan perbedaan. Perbedaan menjadi sumber konflik, apalagi perbedaan kepentingan. Sahabat yang baik, bahkan kadang mampu membunuh egonya karena menghargai kepentingan sahabatnya. Bila anda tidak bisa menghargai pendapat dan kepentingan sahabat anda, buanglah label anda sebagai seorang sahabat. Menghargai juga berarti toleransi. Bila anda tidak bisa menghargai orang lain, cobalah anda berkaca. Orang yang tidak bisa menghargai orang lain sebenarnya disebabkan karena ia tidak bisa menghargai dirinya sendiri.
Enthusiasm
Enthusiasm dapat diartikan sebagai antusiasme. Sahabat yang baik adalah sahabat yang menjadi sumber antusiasme. Seorang sumber antusiasme sendiri adalah seorang yang menginspirasi. Sahabat yang baik selalu menjadi inspirasi hal yang positif. Saling menginspirasi, memberikan motivasi. Sahabat yang baik menjadi inspirasi entah dalam cara berpikir, nilai-nilai, pembangunan karakter. Jadi bila seorang sahabat hanya menyedot semangat anda menjadi loyo, kehabisan ide, membuat anda jadi mampet inspirasi, membunuh semangat anda, membuat antusiasme anda dalam menjalani hidup menjadi berkurang, dapat dipastikan ia bukanlah sahabat yang baik.
Anda ingin memiliki sahabat yang baik? Anda ingin dikelilingi orang-orang luar biasa? Semua itu hanyalah mimpi belaka bila anda tidak CARE. Memang betul tidak semua orang wajib anda jadikan sahabat, diperlukan hikmat dalam menaruh kepercayaan anda kepada seseorang. Namun, semua cita-cita anda memiliki sahabat yang luar biasa adalah omong kosong bila tidak memiliki perhatian yang besar(concern), kasih sayang dan pengakuan(affection & acknowledgment), hubungan dan penghargaan (Relationship And respect), membangkitkan antusiasme(enthusiasm) bagi teman-teman anda. Jadilah sahabat yang luar biasa, niscaya andapun akan dikelilingi sahabat-sahabat yang luar biasa. Ingatlah the golden rule: “Treat others as you want to be treated.” (Lakukan kepada mereka sebagaimana kamu ingin mereka perlakukan).
Resapi, renungkan dan praktekkan.
Karena perubahan memerlukan tindakan
Ciao
12:42AM
Quitters CAN win!
“When you quit regretting, when you quit doing stupid things, when you quit believing your pointless nonsense, when you quit being stubborn, when you quit blaming others, when you quit wearing your mask, when you quit being untrue, when you quit depressed, quit your bad habits, when you quit pushing your luck on the same person. Winners=those who stopped (quit) doing the same mistakes and jump to the next level.”-K-ray Cahyadi-
“Winners never quit!”
Demikianlah kita selalu dicekoki dengan kalimat motivasi seperti ini. Dengan semangat membara kita mempercayai semboyan ini, setiap kali kita terjatuh, lemah, tak lagi berdaya, kalimat ini seolah memiliki daya magis untuk mengembalikan semangat kita. Kita lalu menjadi lebih bertenaga dalam melakukan berbagai kegiatan.
Tanpa sadar keampuhan kalimat mantra itu kita terapkan secara buta di dalam semua segi kehidupan kita. Saya menjumpai banyak orang yang terjebak dalam pemakaian standar mantra tersebut dalam konteks yang salah kaprah. Winners never quit? Benarkah begitu? Coba simak ulasan berikut:
Seorang sales, sudah beberapa bulan sulit sekali menjual produknya. Dia terus mencoba, terus mencoba, tapi dia tidak bisa melewati rekannya. Karena ia sangat percaya dengan kalimat “winners never quit” dia terus mencobanya. Tanpa terasa tahun-tahun dilewati tanpa ada perkembangan, hasil penjualan yang tidak pernah sebanding dengan jerih payah. Komisi yang tidak seberapa tidak mampu lagi menutup biaya hidup keluarganya. Namun tetaplah ia berpegang teguh pada prinsip “winners never quit” dan dia tetap setia teguh disitu. Tak terasa, istri tercintanya menjadi jengah melihat karir seorang suami, tumpuan keluarga tidak mengalami perkembangan berarti. Berkali-kali sang istri meyakinkan sang suami untuk berhenti(quit) dan mencari peruntungan lebih baik, tapi sang suami menganggap pendapat sang istri justru sebuah serangan pada egonya. Sang istri akhirnya pergi membawa anak-anak mereka meninggalkan suami tercintanya untuk kehidupan lebih baik. Sang suami berubah menjadi pecandu alcohol, malam-malamnya hanya diisi dengan berbotol-botol minuman keras dan berbatang-batang rokok.
Ironis sekali bukan? Sebuah kata-kata indah “winners never quit” sering kali menjadi di-fabrikasi oleh perusahaan tempat kita bekerja, untuk memecut kita maju lebih lagi dalam berusaha. Hanya sedikit orang yang sadar, terkadang kata-kata tersebut digunakan untuk memperalat kita sebagai seorang pegawai(dengan benefit yang tidak sebanding). Saya tidak ingin membahas hal itu disini, yang saya ingin tekankan adalah sebuah kalimat semacam “winners never quit” yang sudah memiliki tempat agung di dalam kehidupan tiap orang kiranya jangan pernah ditelan mentah-mentah. “Segala hal memiliki konteksnya. Tanpa konteks yang tepat semua kata mutiara yang anda kenal hanya akan membuat anda menjadi bulan-bulanan kehidupan.”-K-ray Cahyadi-
Mari kita lihat kehidupan si istri. Sang istri yang membawa kedua anaknya memutuskan berhenti untuk menaruh harapannya pada sang suami. Dia berhenti menjadi seorang ibu rumah tangga yang lemah. Ia berubah menjadi seorang ibu rumah tangga yang kuat, dia mulai mencari nafkah. Dengan sedikit modal dari hasil menjual cincin berlian perkawinannya, ia membuka sebuah tempat makan. Dengan usaha yang penuh komitmen dia mulai bisa mengangkat kehidupannya, ia berhasil menyekolahkan kedua anaknya. Anaknya berhenti menjadi anak manja, berkat prestasinya di sekolah, ia mampu memberikan kursus pelajaran bagi anak-anak lain yang menjadi yuniornya di sekolah. Sang adik berhenti meminta uang untuk membeli pakan ikan. Dia belajar dengan menjual anak-anak ikan ke teman-teman SD nya dan bisa mencari alternative pakan ikan lain dari jentik nyamuk.
Bayangkan bila Alfa Edison tidak pernah berhenti menggunakan metode yang salah dalam menciptakan lampu, atau cobalah anda pikirkan semisalnya semua penemu semacam Graham Bell tidak pernah mau berhenti untuk menggunakan cara-cara yang tidak berhasil dalam percobaannya, saat ini handphone yang anda pegang hanyalah barang mimpi.
Kembali pada cerita si suami, sang suami yang semakin bertambah usia tidak mau berhenti dari kebiasaannya mengkonsumsi alkohol. Dia juga tidak pernah mau berhenti menjadi manusia keras kepala. Upah keras kepalanya terbayar dengan diusirnya dia dari kantor tanpa pesangon yang jelas. Hari terus berjalan, dia tidak pernah mau berhenti menyakiti orang-orang di sekelilingnya. Teman-temannya menjauh karena tidak tahan bergaul dengannya. Lalu sang suamipun menyesal, dan terus menyesal, dia terus tenggelam dalam jurang depresi, dia tidak berhenti dari kegalauan hatinya. Mencari obat depresi dengan minuman keras dan nikotin.
QUIT! BERHENTI! Sadarilah sekarang, pertimbangkan dengan matang, seperti yang sudah saya sebutkan diatas, segala sesuatu memiliki konteksnya. Bila anda memaksa memberlakukan semua nilai tanpa melihat konteks, maka anda sama seperti seorang montir yang menggunakan sumpit untuk menyetel katup mesin, atau mungkin anda sama dengan seorang koki yang mencoba memotong daging dengan kunci inggris, mungkinkah anda menebang pohon besar dengan sebuah pisau dapur?
Anda bisa menjadi pemenang bila anda berhenti! Tentunya kalimat inipun harus disesuaikan dengan konteksnya. Anda bisa jadi pemenang saat anda berhenti menyalahkan orang lain, berhenti menyalahkan keadaan, berhenti depresi, berhenti terus menyesal, berhenti menjadi keras kepala, berhenti menjadi sok tau, berhenti dari kebiasaan buruk, berhenti merasa menjadi yang paling benar, berhenti melakukan hal bodoh, berhenti berpura-pura.
Winners never quit, pemenang tidak pernah berhenti! Benar, bila konteksnya adalah tidak pernah berhenti mencoba cara-cara baru, tidak pernah berhenti belajar, tidak pernah berhenti berubah kearah perbaikan.
Sekali lagi LIHAT KONTEKS nya.
Resapi, renungkan dan praktekkan.
Karena perubahan memerlukan tindakan
Ciao
“Winners never quit!”
Demikianlah kita selalu dicekoki dengan kalimat motivasi seperti ini. Dengan semangat membara kita mempercayai semboyan ini, setiap kali kita terjatuh, lemah, tak lagi berdaya, kalimat ini seolah memiliki daya magis untuk mengembalikan semangat kita. Kita lalu menjadi lebih bertenaga dalam melakukan berbagai kegiatan.
Tanpa sadar keampuhan kalimat mantra itu kita terapkan secara buta di dalam semua segi kehidupan kita. Saya menjumpai banyak orang yang terjebak dalam pemakaian standar mantra tersebut dalam konteks yang salah kaprah. Winners never quit? Benarkah begitu? Coba simak ulasan berikut:
Seorang sales, sudah beberapa bulan sulit sekali menjual produknya. Dia terus mencoba, terus mencoba, tapi dia tidak bisa melewati rekannya. Karena ia sangat percaya dengan kalimat “winners never quit” dia terus mencobanya. Tanpa terasa tahun-tahun dilewati tanpa ada perkembangan, hasil penjualan yang tidak pernah sebanding dengan jerih payah. Komisi yang tidak seberapa tidak mampu lagi menutup biaya hidup keluarganya. Namun tetaplah ia berpegang teguh pada prinsip “winners never quit” dan dia tetap setia teguh disitu. Tak terasa, istri tercintanya menjadi jengah melihat karir seorang suami, tumpuan keluarga tidak mengalami perkembangan berarti. Berkali-kali sang istri meyakinkan sang suami untuk berhenti(quit) dan mencari peruntungan lebih baik, tapi sang suami menganggap pendapat sang istri justru sebuah serangan pada egonya. Sang istri akhirnya pergi membawa anak-anak mereka meninggalkan suami tercintanya untuk kehidupan lebih baik. Sang suami berubah menjadi pecandu alcohol, malam-malamnya hanya diisi dengan berbotol-botol minuman keras dan berbatang-batang rokok.
Ironis sekali bukan? Sebuah kata-kata indah “winners never quit” sering kali menjadi di-fabrikasi oleh perusahaan tempat kita bekerja, untuk memecut kita maju lebih lagi dalam berusaha. Hanya sedikit orang yang sadar, terkadang kata-kata tersebut digunakan untuk memperalat kita sebagai seorang pegawai(dengan benefit yang tidak sebanding). Saya tidak ingin membahas hal itu disini, yang saya ingin tekankan adalah sebuah kalimat semacam “winners never quit” yang sudah memiliki tempat agung di dalam kehidupan tiap orang kiranya jangan pernah ditelan mentah-mentah. “Segala hal memiliki konteksnya. Tanpa konteks yang tepat semua kata mutiara yang anda kenal hanya akan membuat anda menjadi bulan-bulanan kehidupan.”-K-ray Cahyadi-
Mari kita lihat kehidupan si istri. Sang istri yang membawa kedua anaknya memutuskan berhenti untuk menaruh harapannya pada sang suami. Dia berhenti menjadi seorang ibu rumah tangga yang lemah. Ia berubah menjadi seorang ibu rumah tangga yang kuat, dia mulai mencari nafkah. Dengan sedikit modal dari hasil menjual cincin berlian perkawinannya, ia membuka sebuah tempat makan. Dengan usaha yang penuh komitmen dia mulai bisa mengangkat kehidupannya, ia berhasil menyekolahkan kedua anaknya. Anaknya berhenti menjadi anak manja, berkat prestasinya di sekolah, ia mampu memberikan kursus pelajaran bagi anak-anak lain yang menjadi yuniornya di sekolah. Sang adik berhenti meminta uang untuk membeli pakan ikan. Dia belajar dengan menjual anak-anak ikan ke teman-teman SD nya dan bisa mencari alternative pakan ikan lain dari jentik nyamuk.
Bayangkan bila Alfa Edison tidak pernah berhenti menggunakan metode yang salah dalam menciptakan lampu, atau cobalah anda pikirkan semisalnya semua penemu semacam Graham Bell tidak pernah mau berhenti untuk menggunakan cara-cara yang tidak berhasil dalam percobaannya, saat ini handphone yang anda pegang hanyalah barang mimpi.
Kembali pada cerita si suami, sang suami yang semakin bertambah usia tidak mau berhenti dari kebiasaannya mengkonsumsi alkohol. Dia juga tidak pernah mau berhenti menjadi manusia keras kepala. Upah keras kepalanya terbayar dengan diusirnya dia dari kantor tanpa pesangon yang jelas. Hari terus berjalan, dia tidak pernah mau berhenti menyakiti orang-orang di sekelilingnya. Teman-temannya menjauh karena tidak tahan bergaul dengannya. Lalu sang suamipun menyesal, dan terus menyesal, dia terus tenggelam dalam jurang depresi, dia tidak berhenti dari kegalauan hatinya. Mencari obat depresi dengan minuman keras dan nikotin.
QUIT! BERHENTI! Sadarilah sekarang, pertimbangkan dengan matang, seperti yang sudah saya sebutkan diatas, segala sesuatu memiliki konteksnya. Bila anda memaksa memberlakukan semua nilai tanpa melihat konteks, maka anda sama seperti seorang montir yang menggunakan sumpit untuk menyetel katup mesin, atau mungkin anda sama dengan seorang koki yang mencoba memotong daging dengan kunci inggris, mungkinkah anda menebang pohon besar dengan sebuah pisau dapur?
Anda bisa menjadi pemenang bila anda berhenti! Tentunya kalimat inipun harus disesuaikan dengan konteksnya. Anda bisa jadi pemenang saat anda berhenti menyalahkan orang lain, berhenti menyalahkan keadaan, berhenti depresi, berhenti terus menyesal, berhenti menjadi keras kepala, berhenti menjadi sok tau, berhenti dari kebiasaan buruk, berhenti merasa menjadi yang paling benar, berhenti melakukan hal bodoh, berhenti berpura-pura.
Winners never quit, pemenang tidak pernah berhenti! Benar, bila konteksnya adalah tidak pernah berhenti mencoba cara-cara baru, tidak pernah berhenti belajar, tidak pernah berhenti berubah kearah perbaikan.
Sekali lagi LIHAT KONTEKS nya.
Resapi, renungkan dan praktekkan.
Karena perubahan memerlukan tindakan
Ciao
Asal Kerja=Kerja Asal-asalan
“Asal kerja sering kali menjadi sebuah alasan tepat untuk mengakhiri keadaan menganggur. Tanpa disadari hal tersebut telah mempengaruhi etos kerja subjek menjadi kerja asal-asalan. Hasil kerja yang hanya menjadi cemoohan karena tidak adanya totalitas dalam berkarya.”- K-ray Cahyadi
Sering kali terdengar seperti ini: Seseorang bekerja di kota besar lalu pulang ke kampung, mendapati sanak saudara atau temannya menganggur di kampung. Lalu terjadi sebuah percakapan seperti ini:
Pemudik: “Mendingan kamu ikut aku kerja ke Jakarta daripada menganggur seperti ini.”
Penganggur: “Kerja apa disana?”
Pemudik: “Ya sudah asal kerja saja, toh daripada menganggur.”
Dari input tenaga kerja seperti itu, terdapat dua macam hasil output yang mudah sekali dijumpai di kota-kota besar semacam Jakarta. Jenis pertama adalah mereka yang berhasil beradaptasi, membangun kemandirian, berjuang dengan gigih tanpa kenal lelah, akhirnya berhasil memetik kerja keras mereka. Sedangkan output kedua adalah para pelengkap derita, yaitu mereka yang tidak mampu beradaptasi, gagal, akhirnya mimpi mereka membentur karang realita. Para pelengkap penderita ini merasa malu untuk pulang kampung karena mereka menganggap diri mereka sebagai pecundang kehidupan. Tidak sedikit dari mereka pada akhirnya menjadi pelaku kriminal bermacam-macam tindak kejahatan. Berdasar statistik, bila kita membandingkan jumlah populasi golongan yang berhasil dengan para pelengkap derita ini jumlahnya sangat kontras dan signifikan. Para pelengkap derita lebih banyak dibandingkan mereka yang berhasil bertahan/sukses.
Sempit/tidak adanya lapangan pekerjaan selalu menjadi kambing hitam akan keadaan seperti ini, namun benarkah demikian? Benarkah sempitnya lapangan pekerjaan selalu menjadi satu-satunya faktor utama, dan apakah pemerintah selalu menjadi pihak yang bertanggungjawab dalam keadaan jumlah pengangguran yang kronis di kota besar atau bahkan dalam tingkat yang lebih tinggi, skala nasional?
Jauh sebelum proses adaptasi dimulai sebenarnya dorongan mencari kerja saja sudah perlu dipertanyakan, “asal kerja” merupakan sebuah dorongan yang sangat bertanggungjawab pada fenomena ini. Ketika mendengar “asal kerja” secara tidak sadar penganggur tersebut sudah menganggap bahwa dirinya tidak memiliki pilihan, tentunya “bargain position” sudah tereliminasi secara otomatis. Padahal seharusnya tidak ada pilihan justru bisa membuat seseorang focus dan menghasilkan hal yang besar, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Seperti kasus-kasus klasik, orang-orang yang tidak memiliki pilihan akan melakukan segala sesuatu yang mereka kerjakan dengan terpaksa. Tidak ada lagi kenikmatan dalam segala hal yang mereka kerjakan. Bila bekerja tanpa cinta, maka hasilnya tidak akan pernah maksimal. Jangan pernah berharap hasil kerja dari orang yang “asal kerja” menjadi maksimal sesuai dengan keinginan anda, karena secara mindset pun mereka sudah berbeda dari anda.
Bekerja haruslah dengan cinta, dengan penuh semangat, karena bekerja adalah salah satu aktualisasi diri yang esensial. Bekerja mengaktualisasikan diri bukanlah monopoli dari mereka, orang-orang di puncak piramida Maslow yang sudah terpenuhi kebutuhan material, keamanan, pengakuannya. Kebutuhan aktualisasi diri adalah hak semua orang. Banyak orang salah kaprah menyatakan bahwa aktualisasi diri hanya bisa dicapai saat semua kebutuhan lain yang lebih mendasar(materi, keamanan, keamanan) sudah tercukupi. Sebenarnya saat anda mampu mengaktualisasikan diri anda dalam pekerjaan anda, secara otomatis anda pada akhirnya mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lain. Bayangkanlah, anda adalah Mozart, ia dikenal hidup dalam kemiskinan. Cobalah tanyakan, apakah kemiskinan menghambatnya dalam berkarya? Sebenarnya masih banyak sekali orang-orang yang dalam keterbatasan dana mampu menghasilkan karya-karya fenomenal. Mereka hanya memikirkan satu hal saja, bagaimana caranya mereka mengaktualisasikan diri mereka. Mereka mengeluarkan totalitas mereka dalam berkarya, terlepas begitu banyak keterbatasan dana, fasilitas, dan waktu. Mereka tidak bekerja asal-asalan, tetap memikirkan kepuasan hati mereka.
Oke, sepanjang itu, tapi apa korelasinya dalam kehidupan rohani? Bila anda benar-benar mencermati, saat ini kehidupan gereja banyak mengalami kesamaan hal dengan dunia kerja. Mari cermati dialog ini:
Pemuda Gereja: Daripada nganggur di hari Minggu, mendingan kamu ikut saya saja ke gereja.
Penganggur: Mau ngapain ke gereja?
Pemuda Gereja: Yaaaa, yang penting asal gereja aja.
Maka inilah yang terjadi: orang-orang asalan tadi akhirnya tidak maksimal beribadah, mereka menganggap ibadah adalah sebuah kegiatan di hari minggu. Sementara hari biasa bukanlah ibadah.
“Karena itu demi kemuliaan Allah aku menasehatkan kamu supaya kamu
mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang
berkenan kepada Allah. Itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Apakah Tuhan menerima ibadah yang asal-asalan? Selain itu, banyak gereja saat ini “asal”. Saya mencermati beberapa gereja mengalami kemunduran-kemunduran yang begitu nyata, kehilangan visi awal mereka. Mereka saat ini cenderung condong kepada melakukan rutinitas belaka. Pelayanan yang asal-asalan, pengajaran yang asal-asalan, ibadah yang asal-asalan, hanya untuk memuaskan ego, menenangkan diri dengan membayar kewajiban di hari Minggu setelah banyak berdosa seminggu penuh, bahkan ada pendeta asal-asalan(pasti biasanya awalnya: asal jadi pendeta daripada menganggur). Hanya menyampaikan sesuatu yang enak didengar telinga mereka(cari aman). Tidak lagi ada aktualisasi iman, ibadah hanya sekedar ada, tidak lebih tidak kurang. Visipun sudah tidak lagi jelas mau kemana, ingatlah Roh Tuhan undur dari kehidupan Imam Eli saat ia kehilangan penglihatannya(hilang visi), tidak ada kemajuan berarti(padahal katanya Tuhan adalah sumber segala pengetahuan dan kemajuan). Gereja hanya menjadi tempat komunikasi searah, tanpa bisa menerima feedback dari jemaatnya, pengajaran tanpa arah dan tujuan yang jelas. Akhirnya waktu ibadah di gereja hanya terasa sebagai sebuah proses membuang waktu yang sia-sia akibat pengajaran yang tak berdasar dan relevan dalam kehidupan sehari-hari(terlalu mengawang-awang). Minimnya dana dan fasilitas akhirnya menjadi kambing hitam, untuk apa ibadah “ngotot”? Toh fasilitas dan perpuluhan yang di dapat tidak memadai, padahal seharusnya kita total dalam beribadah tanpa peduli kekurangan kita. Ketika kritik datang, para pengurus membentengi diri mereka dengan “firman” taat pada otoritas. Ketaatan didendangkan bagai sebuah komoditas murahan, ketaatan pada apakah? Taat pada manusia? Taat kepada Tuhan? Atau taat pada manusia yang mengaku-aku dirinya adalah wakil Tuhan di dunia? Akhirnya seperti kasus dunia kerja diatas jemaat “terpaksa” beribadah menurut cara yang didendangkan sesuai keinginan "otoritas", karena tereliminasinya pilihan. Bukalah mata, bukalah telinga, waspadalah terhadap berbagai pengajaran. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik! Mengapa harus diuji? Karena kita tidak dapat menarik makna dari sebuah tanda. Makna bergantung pada konteks. Segala sesuatu yang tidak empiris* adalah sampah, dan untuk menentukan keempirisan sesuatu diperlukan pengujian. Dari apakah kita mengujinya? Buahnya! Kalau buahnya asal-asalan, dipastikan semuanya asal-asalan. Mudah bukan?
Demikianlah sedikit ulasan mengenai “asal kerja” dan korelasinya dalam dunia pergerejaan, ubahlah paradigma anda. Aktualisasikan diri anda, iman anda, totalitas dalam bekerja. Perlu diingat bahwa kerja adalah sebagian dari perwujudan iman anda. Hidup adalah ibadah, dinilai dari totalitas anda dalam menjalani semua aspek dalam kehidupan anda. Asal hidup tentunya menghasilkan hidup yang asal-asalan.
Resapi, renungkan dan praktekkan.
Karena perubahan memerlukan tindakan
Ciao
*empiris berarti suatu keadaan yang bergantung pada bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera.
Sering kali terdengar seperti ini: Seseorang bekerja di kota besar lalu pulang ke kampung, mendapati sanak saudara atau temannya menganggur di kampung. Lalu terjadi sebuah percakapan seperti ini:
Pemudik: “Mendingan kamu ikut aku kerja ke Jakarta daripada menganggur seperti ini.”
Penganggur: “Kerja apa disana?”
Pemudik: “Ya sudah asal kerja saja, toh daripada menganggur.”
Dari input tenaga kerja seperti itu, terdapat dua macam hasil output yang mudah sekali dijumpai di kota-kota besar semacam Jakarta. Jenis pertama adalah mereka yang berhasil beradaptasi, membangun kemandirian, berjuang dengan gigih tanpa kenal lelah, akhirnya berhasil memetik kerja keras mereka. Sedangkan output kedua adalah para pelengkap derita, yaitu mereka yang tidak mampu beradaptasi, gagal, akhirnya mimpi mereka membentur karang realita. Para pelengkap penderita ini merasa malu untuk pulang kampung karena mereka menganggap diri mereka sebagai pecundang kehidupan. Tidak sedikit dari mereka pada akhirnya menjadi pelaku kriminal bermacam-macam tindak kejahatan. Berdasar statistik, bila kita membandingkan jumlah populasi golongan yang berhasil dengan para pelengkap derita ini jumlahnya sangat kontras dan signifikan. Para pelengkap derita lebih banyak dibandingkan mereka yang berhasil bertahan/sukses.
Sempit/tidak adanya lapangan pekerjaan selalu menjadi kambing hitam akan keadaan seperti ini, namun benarkah demikian? Benarkah sempitnya lapangan pekerjaan selalu menjadi satu-satunya faktor utama, dan apakah pemerintah selalu menjadi pihak yang bertanggungjawab dalam keadaan jumlah pengangguran yang kronis di kota besar atau bahkan dalam tingkat yang lebih tinggi, skala nasional?
Jauh sebelum proses adaptasi dimulai sebenarnya dorongan mencari kerja saja sudah perlu dipertanyakan, “asal kerja” merupakan sebuah dorongan yang sangat bertanggungjawab pada fenomena ini. Ketika mendengar “asal kerja” secara tidak sadar penganggur tersebut sudah menganggap bahwa dirinya tidak memiliki pilihan, tentunya “bargain position” sudah tereliminasi secara otomatis. Padahal seharusnya tidak ada pilihan justru bisa membuat seseorang focus dan menghasilkan hal yang besar, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Seperti kasus-kasus klasik, orang-orang yang tidak memiliki pilihan akan melakukan segala sesuatu yang mereka kerjakan dengan terpaksa. Tidak ada lagi kenikmatan dalam segala hal yang mereka kerjakan. Bila bekerja tanpa cinta, maka hasilnya tidak akan pernah maksimal. Jangan pernah berharap hasil kerja dari orang yang “asal kerja” menjadi maksimal sesuai dengan keinginan anda, karena secara mindset pun mereka sudah berbeda dari anda.
Bekerja haruslah dengan cinta, dengan penuh semangat, karena bekerja adalah salah satu aktualisasi diri yang esensial. Bekerja mengaktualisasikan diri bukanlah monopoli dari mereka, orang-orang di puncak piramida Maslow yang sudah terpenuhi kebutuhan material, keamanan, pengakuannya. Kebutuhan aktualisasi diri adalah hak semua orang. Banyak orang salah kaprah menyatakan bahwa aktualisasi diri hanya bisa dicapai saat semua kebutuhan lain yang lebih mendasar(materi, keamanan, keamanan) sudah tercukupi. Sebenarnya saat anda mampu mengaktualisasikan diri anda dalam pekerjaan anda, secara otomatis anda pada akhirnya mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lain. Bayangkanlah, anda adalah Mozart, ia dikenal hidup dalam kemiskinan. Cobalah tanyakan, apakah kemiskinan menghambatnya dalam berkarya? Sebenarnya masih banyak sekali orang-orang yang dalam keterbatasan dana mampu menghasilkan karya-karya fenomenal. Mereka hanya memikirkan satu hal saja, bagaimana caranya mereka mengaktualisasikan diri mereka. Mereka mengeluarkan totalitas mereka dalam berkarya, terlepas begitu banyak keterbatasan dana, fasilitas, dan waktu. Mereka tidak bekerja asal-asalan, tetap memikirkan kepuasan hati mereka.
Oke, sepanjang itu, tapi apa korelasinya dalam kehidupan rohani? Bila anda benar-benar mencermati, saat ini kehidupan gereja banyak mengalami kesamaan hal dengan dunia kerja. Mari cermati dialog ini:
Pemuda Gereja: Daripada nganggur di hari Minggu, mendingan kamu ikut saya saja ke gereja.
Penganggur: Mau ngapain ke gereja?
Pemuda Gereja: Yaaaa, yang penting asal gereja aja.
Maka inilah yang terjadi: orang-orang asalan tadi akhirnya tidak maksimal beribadah, mereka menganggap ibadah adalah sebuah kegiatan di hari minggu. Sementara hari biasa bukanlah ibadah.
“Karena itu demi kemuliaan Allah aku menasehatkan kamu supaya kamu
mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang
berkenan kepada Allah. Itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Apakah Tuhan menerima ibadah yang asal-asalan? Selain itu, banyak gereja saat ini “asal”. Saya mencermati beberapa gereja mengalami kemunduran-kemunduran yang begitu nyata, kehilangan visi awal mereka. Mereka saat ini cenderung condong kepada melakukan rutinitas belaka. Pelayanan yang asal-asalan, pengajaran yang asal-asalan, ibadah yang asal-asalan, hanya untuk memuaskan ego, menenangkan diri dengan membayar kewajiban di hari Minggu setelah banyak berdosa seminggu penuh, bahkan ada pendeta asal-asalan(pasti biasanya awalnya: asal jadi pendeta daripada menganggur). Hanya menyampaikan sesuatu yang enak didengar telinga mereka(cari aman). Tidak lagi ada aktualisasi iman, ibadah hanya sekedar ada, tidak lebih tidak kurang. Visipun sudah tidak lagi jelas mau kemana, ingatlah Roh Tuhan undur dari kehidupan Imam Eli saat ia kehilangan penglihatannya(hilang visi), tidak ada kemajuan berarti(padahal katanya Tuhan adalah sumber segala pengetahuan dan kemajuan). Gereja hanya menjadi tempat komunikasi searah, tanpa bisa menerima feedback dari jemaatnya, pengajaran tanpa arah dan tujuan yang jelas. Akhirnya waktu ibadah di gereja hanya terasa sebagai sebuah proses membuang waktu yang sia-sia akibat pengajaran yang tak berdasar dan relevan dalam kehidupan sehari-hari(terlalu mengawang-awang). Minimnya dana dan fasilitas akhirnya menjadi kambing hitam, untuk apa ibadah “ngotot”? Toh fasilitas dan perpuluhan yang di dapat tidak memadai, padahal seharusnya kita total dalam beribadah tanpa peduli kekurangan kita. Ketika kritik datang, para pengurus membentengi diri mereka dengan “firman” taat pada otoritas. Ketaatan didendangkan bagai sebuah komoditas murahan, ketaatan pada apakah? Taat pada manusia? Taat kepada Tuhan? Atau taat pada manusia yang mengaku-aku dirinya adalah wakil Tuhan di dunia? Akhirnya seperti kasus dunia kerja diatas jemaat “terpaksa” beribadah menurut cara yang didendangkan sesuai keinginan "otoritas", karena tereliminasinya pilihan. Bukalah mata, bukalah telinga, waspadalah terhadap berbagai pengajaran. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik! Mengapa harus diuji? Karena kita tidak dapat menarik makna dari sebuah tanda. Makna bergantung pada konteks. Segala sesuatu yang tidak empiris* adalah sampah, dan untuk menentukan keempirisan sesuatu diperlukan pengujian. Dari apakah kita mengujinya? Buahnya! Kalau buahnya asal-asalan, dipastikan semuanya asal-asalan. Mudah bukan?
Demikianlah sedikit ulasan mengenai “asal kerja” dan korelasinya dalam dunia pergerejaan, ubahlah paradigma anda. Aktualisasikan diri anda, iman anda, totalitas dalam bekerja. Perlu diingat bahwa kerja adalah sebagian dari perwujudan iman anda. Hidup adalah ibadah, dinilai dari totalitas anda dalam menjalani semua aspek dalam kehidupan anda. Asal hidup tentunya menghasilkan hidup yang asal-asalan.
Resapi, renungkan dan praktekkan.
Karena perubahan memerlukan tindakan
Ciao
*empiris berarti suatu keadaan yang bergantung pada bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera.
Aku Masih Seperti Yang Dulu
“Congruence is the state achieved by coming together, the state of agreement. The Latin congruere means to come together, agree. As an abstract term, congruence means similarity between objects. Congruence, as opposed to equivalence or approximation, is a relation which implies a kind of equivalence, though not complete equivalence.”
“Gue ga mau idup gue gini-gini aja, gue ga suka idup yang statis. Gue suka idup yang dinamis.”
Oke, kita sangat familiar dengan kata-kata tersebut, hidup yang dinamis, penuh dengan warna, perubahan dan perkembangan. Coba tanyakan berapa banyak yang bisa mewujudkannya? Cobalah tengok ke belakang, ambillah waktu menengok kehidupan anda 5 tahun ke belakang. Apakah yang anda lihat? Berapa banyak perubahan yang telah andabuat untuk mencapai kondisi yang anda inginkan?
Kita mungkin sudah belajar bahwa segala sesuatu berasal dari mindset, yaitu pikiran, dari pikiran lahirlah kata-kata, dari kata-kata, lahirlah perbuatan, dari perbuatan lahirlah kebiasaan, dari kebiasaan lahirlah karakter, yang merupakan satu kesatuan identitas. Mengingat semua itu memang mudah sekali, hanya saja bukan menghafal yang perlu anda lakukan, anda harus mengerti. Karena mengerti lebih penting dari sekedar hafal.
Lalu mengapa setelah mengerti hal tersebut pun banyak orang yang hidupnya statis? Banyak dari mereka terus menerus mengharapkan hidup yang dinamis, sementara kenyataannya orang-orang di sekeliling dia melihat dirinya terus bernyanyi; “Aku masih seperti yang dulu.”(secara konotatif tentunya).
Bahkan ada orang yang terus menerus berkata “Iman tanpa perbuatan adalah mati.” Tapi tidak ada satupun yang baik keluar dari hidupnya. Ironis bukan? Hal ini dikarenakan mindset yang sudah dirubah tidak cukup untuk membuahkan perubahan. Begitu banyak training tentang pengembangan diri, buku-buku pengembangan diri dengan berbagai metode berserakan di took-toko buku, dari yang gratis sampai yang harus mengeluarkan kocek tidak sedikit. Banyak dari training, buku dan metode tersebut akhirnya hanya menghasilkan pecandu training( Saya akan menyebut mereka “trainingholics” mulai saat ini), yakni orang-orang yang sangat antusias mengikuti training, membaca buku pengembangan diri terus menerus hingga mencapai tahap kecanduan tapi tidak menghasilkan hal konkret apapun.
Semuanya karena mindset mereka berbeda dengan apa yang mereka perbuat. Sangat lucu bila anda melihat sebuah perencanaan tapi gagal, bahkan berantakan hingga mengalami kemunduran. Ini semua karena tidak kongruennya perencanaan dengan eksekusi. Apa itu Kongruen? Kongruen adalah sebuah keadaan yang dicapai dengan kesamaan. Kata Latin “congruere” berarti datang bersama, sepakat atau setuju. Dalam dunia abstrak kongruen berarti kesamaan sebah antar benda(sama besar, sama berat, sama ukuran). Jadi jangan heran apabila hidup anda tidak mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir, anda merasa berjalan di tempat meski sudah mengikuti bermacam-macam training dengan metode mutakhir dan membeli banyak buku. Semua karena mindset anda tidak kongruen dengan apa yang anda katakan, apa yang anda katakan tidak kongruen dengan apa yang anda perbuat, apa yang anda perbuat tidak kongruen dengan kebiasaan anda, kebiasaan anda tidak kongruen dengan karakter anda. Menurut saya, Integrated congruence adalah ketika mindset, kata-kata anda, perbuatan anda, kebiasaan anda, karakter anda, identitas anda berjalan sinkron, sama besar, sama berat, sama dimensi.
Karena eksekusi setara, sama pentingnya dengan mindset.
Resapi, renungkan dan praktekkan.
Karena perubahan memerlukan tindakan
Ciao
“Gue ga mau idup gue gini-gini aja, gue ga suka idup yang statis. Gue suka idup yang dinamis.”
Oke, kita sangat familiar dengan kata-kata tersebut, hidup yang dinamis, penuh dengan warna, perubahan dan perkembangan. Coba tanyakan berapa banyak yang bisa mewujudkannya? Cobalah tengok ke belakang, ambillah waktu menengok kehidupan anda 5 tahun ke belakang. Apakah yang anda lihat? Berapa banyak perubahan yang telah andabuat untuk mencapai kondisi yang anda inginkan?
Kita mungkin sudah belajar bahwa segala sesuatu berasal dari mindset, yaitu pikiran, dari pikiran lahirlah kata-kata, dari kata-kata, lahirlah perbuatan, dari perbuatan lahirlah kebiasaan, dari kebiasaan lahirlah karakter, yang merupakan satu kesatuan identitas. Mengingat semua itu memang mudah sekali, hanya saja bukan menghafal yang perlu anda lakukan, anda harus mengerti. Karena mengerti lebih penting dari sekedar hafal.
Lalu mengapa setelah mengerti hal tersebut pun banyak orang yang hidupnya statis? Banyak dari mereka terus menerus mengharapkan hidup yang dinamis, sementara kenyataannya orang-orang di sekeliling dia melihat dirinya terus bernyanyi; “Aku masih seperti yang dulu.”(secara konotatif tentunya).
Bahkan ada orang yang terus menerus berkata “Iman tanpa perbuatan adalah mati.” Tapi tidak ada satupun yang baik keluar dari hidupnya. Ironis bukan? Hal ini dikarenakan mindset yang sudah dirubah tidak cukup untuk membuahkan perubahan. Begitu banyak training tentang pengembangan diri, buku-buku pengembangan diri dengan berbagai metode berserakan di took-toko buku, dari yang gratis sampai yang harus mengeluarkan kocek tidak sedikit. Banyak dari training, buku dan metode tersebut akhirnya hanya menghasilkan pecandu training( Saya akan menyebut mereka “trainingholics” mulai saat ini), yakni orang-orang yang sangat antusias mengikuti training, membaca buku pengembangan diri terus menerus hingga mencapai tahap kecanduan tapi tidak menghasilkan hal konkret apapun.
Semuanya karena mindset mereka berbeda dengan apa yang mereka perbuat. Sangat lucu bila anda melihat sebuah perencanaan tapi gagal, bahkan berantakan hingga mengalami kemunduran. Ini semua karena tidak kongruennya perencanaan dengan eksekusi. Apa itu Kongruen? Kongruen adalah sebuah keadaan yang dicapai dengan kesamaan. Kata Latin “congruere” berarti datang bersama, sepakat atau setuju. Dalam dunia abstrak kongruen berarti kesamaan sebah antar benda(sama besar, sama berat, sama ukuran). Jadi jangan heran apabila hidup anda tidak mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir, anda merasa berjalan di tempat meski sudah mengikuti bermacam-macam training dengan metode mutakhir dan membeli banyak buku. Semua karena mindset anda tidak kongruen dengan apa yang anda katakan, apa yang anda katakan tidak kongruen dengan apa yang anda perbuat, apa yang anda perbuat tidak kongruen dengan kebiasaan anda, kebiasaan anda tidak kongruen dengan karakter anda. Menurut saya, Integrated congruence adalah ketika mindset, kata-kata anda, perbuatan anda, kebiasaan anda, karakter anda, identitas anda berjalan sinkron, sama besar, sama berat, sama dimensi.
Karena eksekusi setara, sama pentingnya dengan mindset.
Resapi, renungkan dan praktekkan.
Karena perubahan memerlukan tindakan
Ciao
Fenomena Ban Serep
“Adalah sangat memuakkan saat seseorang hanya hadir disaat ia minta didengar, diperhatikan dan dihargai. Sementara dia tidak pernah mendengar, memperhatikan dan menghargai kita.” –K-ray Cahyadi-
Bayangkan bila anda adalah sebuah ban serep alias ban cadangan. Sebagian besar waktu anda dihabiskan di dalam gelap dan sumpeknya sebuah bagasi. Mungkin cukup beruntung bila anda adalah ban serep sebuah mobil jeep yang di gantung dengan gagahnya di pintu belakang. Atau mungkin akan sangat menyebalkan bila anda adalah ban serep sebuah mobil keluarga semacam Avanza atau Xenia, anda tergantung berdebu di bagian bawah, tidak jarang saat mobil terkena polisi tidur yang cukup tinggi, anda akan berbenturan dengan polisi tidur tersebut. Sering kita mengeluh saat membawa barang lebih di bagasi karena volume bagasi yang berkurang akibat keberadaan ban serep. Bahkan banyak orang yang hampir tidak pernah menggunakan ban serep sama sekali, sehingga pada saat harus menggunakannya, didapati ban serep tersebut karetnya menjadi terlalu kaku, getas, mudah rusak. Memang sebuah ban serep atau cadangan hanya difungsikan di saat-saat krusial, tidak ada perawatan dan perhatian khusus kepadanya.
Mungkin cukup aneh bagi anda, bahwa harus sedemikian panjang untuk saya menjelaskan apa yang dialami ban serep. Sebenarnya bila anda cermati di dalam kehidupan, ada banyak orang-orang yang anda perlakukan selayaknya ban serep. Anda hanya menghubunginya di saat genting, anda hanya datang padanya di saat kesusahan. Anda hanya butuh bantuannya, tidak perlu kondisi apa yang sebenarnya sedang ia hadapi.
Bila anda adalah seorang konselor dan konsultan tentunya anda akan sangat sering menjumpai tipe-tipe manusia seperti ini. Selalu datang di saat-saat sulit mereka, tentunya andapun tidak bisa mengeluh terlalu banyak karena ini adalah tuntutan dari pekerjaan anda(and of course you get a good payment). Namun lain ceritanya apabila anda mengalaminya dalam kehidupan sehari-hari anda. Seorang teman yang selalu mengusik hidup anda disaat dia membutuhkan pertolongan, dan segera menghilang pada saat dia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan dan anda melakukannya secara gratis atas nama persahabatan.
Dalam bidang pekerjaan sering kita temukan di kantor, para manusia tidak tahu diri yang membebani tugas pekerjaan mereka pada orang lain. Tanpa rasa berdosa menambahkan pekerjaan pada orang lain, padahal itu bukanlah tugas dari “ban serep” tersebut. Kadang dalam tahap keterlaluan, seorang “ban serep” yang tidak mendapatkan penanganan yang segera dapat melakukan hal nekat. Berapa banyak kasus penembakan di tempat kerja terjadi di Amerika Serikat?
Dalam bidang pendidikan, kita mengenal istilah bullying. Bila bullying jelas-jelas menyalahi aturan, ada sebuah bentuk pemanfaatan halus yang terjadi di sekolah. Anak-anak “sumber contekan dan PR” lah yang biasa menjadi “ban serep” disini. Mereka hanya dicontek PR dan test nya. Sementara tidak dianggap dalam pergaulan, malahan disebut kutu buku, orang aneh dan autis yang hanya main video game(padahal memang karena tidak ada seorangpun yang mau bergaul dengan mereka). Biasa di usia ini tindakan paling nekat adalah bunuh diri(seperti yang terjadi di Jepang) atau kasus penembakan (Amerika).
Atau bagaimana rasanya saat orang tua merasa dijadikan ban serep? Hanya dihubungi pada saat seorang anak membutuhkan kiriman uang, butuh nasehat, butuh didengar. Sementara pada saat senang, bahagia, tidak sekalipun diingat, diperhatikan? Bahkan dalam beberapa kasus, orang tua justru ditugaskan mengurus cucu karena dirinya begitu sibuk asyik dengan pekerjaan dan kegiatan? Orang tua anda BUKAN ban serep! Rasanya begitu pahit seorang anak yang dibesarkan dengan penuh kasih hanya meminta dan tidak pernah memberikan perhatian. Terlebih lagi justru semakin merepotkan ketika sudah berumahtangga dengan menugaskan orang tua mengurus cucunya.
Lain halnya dalam bidang hubungan percintaan. Ada beberapa orang yang mempraktekkan hal ini dalam kehidupan percintaan mereka. “Jaring Pengaman Kedua” demikian kadang pria/perempuan “ban serep” ini disebut. Selalu menyediakan waktunya, perasaannya, pikirannya bahkan harta mereka untuk orang yang mereka cintai tanpa menyadari bahwa sebenarnya mereka hanya sedang diperalat. Akhirnya banyak sekali kata “capek hati” yang keluar dari para “ban serep” ini, sementara dia disana tersenyum bahagia karena sudah mendapatkan semua yang mereka inginkan. Habis manis sepah dibuang demikianlah peribahasa yang sangat tepat untuk menggambarkan situasi ini. Secantik atau seganteng apapun orang itu, tinggalkan saja. Karena diluar sana orang yang tepat sedang menunggu anda.
Semua hal yang dialami hasilnya begitu banyak trauma dan sindrom yang sulit diobati. Setiap pengobatan perlu berjam-jam terapi dan rekonsiliasi. Luar biasa bukan? Sebuah kata sepele bernama “egois” bisa melahirkan begitu banyak masalah yang kompleks. Cobalah refleksikan berapa banyak ban serep sudah anda sakiti karena keegoisan anda? Selalu meminta waktu untuk didengarkan, selalu meminta pertolongan, selalu ingin diperhatikan, selalu ingin dinomorsatukan. Apakah yang anda sudah lakukan untuk para ban serep ini? Sadar dirilah bahwa anda adalah seorang yang egois, suatu hari anda akan diperlakukan rekan kerja, sahabat, kekasih, bahkan oleh anak anda sebagaimana anda sudah berbuat demikian. Siapa menabur, dia menuai. Sebagai penutup, sebuah saran, nasehat bagi para ban serep di luar sana adalah: Adalah lebih baik menikmati hidup anda tanpa memusingkan otak anda dengan memikirkan masalah orang-orang yang tidak tahu diri. Tidak baik mempersulit diri kita dengan masalah orang lain, beranilah berkata “TIDAK!” untuk kebaikan anda sendiri.
Resapi, renungkan dan praktekkan.
Karena perubahan memerlukan tindakan
Ciao
Bayangkan bila anda adalah sebuah ban serep alias ban cadangan. Sebagian besar waktu anda dihabiskan di dalam gelap dan sumpeknya sebuah bagasi. Mungkin cukup beruntung bila anda adalah ban serep sebuah mobil jeep yang di gantung dengan gagahnya di pintu belakang. Atau mungkin akan sangat menyebalkan bila anda adalah ban serep sebuah mobil keluarga semacam Avanza atau Xenia, anda tergantung berdebu di bagian bawah, tidak jarang saat mobil terkena polisi tidur yang cukup tinggi, anda akan berbenturan dengan polisi tidur tersebut. Sering kita mengeluh saat membawa barang lebih di bagasi karena volume bagasi yang berkurang akibat keberadaan ban serep. Bahkan banyak orang yang hampir tidak pernah menggunakan ban serep sama sekali, sehingga pada saat harus menggunakannya, didapati ban serep tersebut karetnya menjadi terlalu kaku, getas, mudah rusak. Memang sebuah ban serep atau cadangan hanya difungsikan di saat-saat krusial, tidak ada perawatan dan perhatian khusus kepadanya.
Mungkin cukup aneh bagi anda, bahwa harus sedemikian panjang untuk saya menjelaskan apa yang dialami ban serep. Sebenarnya bila anda cermati di dalam kehidupan, ada banyak orang-orang yang anda perlakukan selayaknya ban serep. Anda hanya menghubunginya di saat genting, anda hanya datang padanya di saat kesusahan. Anda hanya butuh bantuannya, tidak perlu kondisi apa yang sebenarnya sedang ia hadapi.
Bila anda adalah seorang konselor dan konsultan tentunya anda akan sangat sering menjumpai tipe-tipe manusia seperti ini. Selalu datang di saat-saat sulit mereka, tentunya andapun tidak bisa mengeluh terlalu banyak karena ini adalah tuntutan dari pekerjaan anda(and of course you get a good payment). Namun lain ceritanya apabila anda mengalaminya dalam kehidupan sehari-hari anda. Seorang teman yang selalu mengusik hidup anda disaat dia membutuhkan pertolongan, dan segera menghilang pada saat dia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan dan anda melakukannya secara gratis atas nama persahabatan.
Dalam bidang pekerjaan sering kita temukan di kantor, para manusia tidak tahu diri yang membebani tugas pekerjaan mereka pada orang lain. Tanpa rasa berdosa menambahkan pekerjaan pada orang lain, padahal itu bukanlah tugas dari “ban serep” tersebut. Kadang dalam tahap keterlaluan, seorang “ban serep” yang tidak mendapatkan penanganan yang segera dapat melakukan hal nekat. Berapa banyak kasus penembakan di tempat kerja terjadi di Amerika Serikat?
Dalam bidang pendidikan, kita mengenal istilah bullying. Bila bullying jelas-jelas menyalahi aturan, ada sebuah bentuk pemanfaatan halus yang terjadi di sekolah. Anak-anak “sumber contekan dan PR” lah yang biasa menjadi “ban serep” disini. Mereka hanya dicontek PR dan test nya. Sementara tidak dianggap dalam pergaulan, malahan disebut kutu buku, orang aneh dan autis yang hanya main video game(padahal memang karena tidak ada seorangpun yang mau bergaul dengan mereka). Biasa di usia ini tindakan paling nekat adalah bunuh diri(seperti yang terjadi di Jepang) atau kasus penembakan (Amerika).
Atau bagaimana rasanya saat orang tua merasa dijadikan ban serep? Hanya dihubungi pada saat seorang anak membutuhkan kiriman uang, butuh nasehat, butuh didengar. Sementara pada saat senang, bahagia, tidak sekalipun diingat, diperhatikan? Bahkan dalam beberapa kasus, orang tua justru ditugaskan mengurus cucu karena dirinya begitu sibuk asyik dengan pekerjaan dan kegiatan? Orang tua anda BUKAN ban serep! Rasanya begitu pahit seorang anak yang dibesarkan dengan penuh kasih hanya meminta dan tidak pernah memberikan perhatian. Terlebih lagi justru semakin merepotkan ketika sudah berumahtangga dengan menugaskan orang tua mengurus cucunya.
Lain halnya dalam bidang hubungan percintaan. Ada beberapa orang yang mempraktekkan hal ini dalam kehidupan percintaan mereka. “Jaring Pengaman Kedua” demikian kadang pria/perempuan “ban serep” ini disebut. Selalu menyediakan waktunya, perasaannya, pikirannya bahkan harta mereka untuk orang yang mereka cintai tanpa menyadari bahwa sebenarnya mereka hanya sedang diperalat. Akhirnya banyak sekali kata “capek hati” yang keluar dari para “ban serep” ini, sementara dia disana tersenyum bahagia karena sudah mendapatkan semua yang mereka inginkan. Habis manis sepah dibuang demikianlah peribahasa yang sangat tepat untuk menggambarkan situasi ini. Secantik atau seganteng apapun orang itu, tinggalkan saja. Karena diluar sana orang yang tepat sedang menunggu anda.
Semua hal yang dialami hasilnya begitu banyak trauma dan sindrom yang sulit diobati. Setiap pengobatan perlu berjam-jam terapi dan rekonsiliasi. Luar biasa bukan? Sebuah kata sepele bernama “egois” bisa melahirkan begitu banyak masalah yang kompleks. Cobalah refleksikan berapa banyak ban serep sudah anda sakiti karena keegoisan anda? Selalu meminta waktu untuk didengarkan, selalu meminta pertolongan, selalu ingin diperhatikan, selalu ingin dinomorsatukan. Apakah yang anda sudah lakukan untuk para ban serep ini? Sadar dirilah bahwa anda adalah seorang yang egois, suatu hari anda akan diperlakukan rekan kerja, sahabat, kekasih, bahkan oleh anak anda sebagaimana anda sudah berbuat demikian. Siapa menabur, dia menuai. Sebagai penutup, sebuah saran, nasehat bagi para ban serep di luar sana adalah: Adalah lebih baik menikmati hidup anda tanpa memusingkan otak anda dengan memikirkan masalah orang-orang yang tidak tahu diri. Tidak baik mempersulit diri kita dengan masalah orang lain, beranilah berkata “TIDAK!” untuk kebaikan anda sendiri.
Resapi, renungkan dan praktekkan.
Karena perubahan memerlukan tindakan
Ciao
Label:
Contemplation,
Double trouble = Love
Subscribe to:
Comments (Atom)
